Lebaran Akhir

Pada hari Senin, 3 Juli 2017 saat sowan ba’dan ke Kyai Haji Muhsin Ghozali, seperti biasanya beliau menyambut dengan penuh keakraban dan candaan termasuk kepada rombongan yang datang kencret (telat) dengan kalimat” Lha iki NU”. Lha tekane keri tinimbang kancane, hemmmm ketinggalan akeh iki. Menyapa saya yang datang kencret dari rombongan yang di pandhegani Pak Fatah Masrun. 

Setelah mempersilahkansilahkan duduk, Kyai melanjutkan pembahasan yang sempat terpotong, saya mendengarkan dan mencoba menata frekwensi yang gak tahu pembahasan apa, karena resiko orang yang telat datang, ya ketinggalan. NU itu berfikirnya secara NU, Jangan berfikir secara Partai, Lha kalau sudah Partai, berfikirnya ya secara Partai, jangan berfikir secara NU. Kalimat yang saya dengar pertama dari beliau. Dalam pikiran, saya cuman nebak kaidahnya “وضع شيىئ في موضعه” (Wadh u Syai’in fi Maudhi ihi) “menempatkan sesuatu pada tempatnya. Sebuah susunan kalimat yang digunakan untuk mendefinisikan arti al adlu (keadilan). 

Maksudnya begini, Kyai menjelaskan” Jika kamu pingin ngrasanimu diperbolehkan, jadilah wartawan, jika suudzonmu ingin diperbolehkan, ya jadilah penyidik polisi, jika kamu ingin melihat bokong bukan muhrim tapi dibolehkan, ya jadilah dokter” maknanya sesuatu obyek itu harus dilihat sesuai proporsinya jangan melihat masalah dengan kaca pandang yang tidak sesuai. Ngerti Tah? Kyai menggunakan kalimat tanya yang sebenarnya untuk menegaskan pemahaman semua yang hadir saat itu. Yang secara kompak, semua tersenyum dan mangguk-mangguk.

Dalam satu hal kejadian, saya pernah berdiskusi dengan seorang Profesor dan Kyai dalam satu forum, Kyai Muhsin melanjutkan cerita, Jadi Kami bertiga berkumpul, Saya bertanya kepada kedua orang ini dengan satu pertanyaan begini: menurut anda, “Nabi Adam makan buah Khuldi itu benar atau salah?” Sang Kyai dengan cepat menjawab” Salah Kyai, karena melanggar perintah Allah”, sementara sang Profesor malah balik bertanya”kalau menurut Kyai Muhsin salah apa benar Kyai?”. Ngene ki lo “Tah” lek profesor ki malah mbalekne pitakon. Kyai memutus keterangan cerita dengan memandang pada pak Fatah yang disusul senyum kecil yang hadir di ndalem Kyai saat itu.

Pas kami semua asyik menyimak penuturan Kyai Muhsin, si Addar (Achmad Fatchullah Addaroquthni, putra Pak Fatah yang paling kecil, kepleset bantal kursi yang dia mainkan, walaupun tidak sakit dan tidak terjadi apa-apa, karena kedua kakaknya yang sejak awal berada di kursi belakang Addar ikut tertawa, maka Addar dengan gaya khasnya menyalahkan ibunya yang tidak membetulkan kursi dan bantalnya sehingga dia jatuh. Istri pak Fatah (mbak Asmi’) tanggap dan langsung mengajak keluar melipur ketiga jagoannya supaya forum tetap kondusif.

Teko ngendi ki Mau? Tanya Kyai Muhsin pasca insiden menggelikan ala si Addar, “dugi pertanyaan profeseor Kyai” Jawab Mas Alwi Hamdani yang dari awal duduk di sebelah pak Fatah Masrun,oh iya, Jadi begini, Nabi Adam memakan buah khuldi itu salah apa benar?” Jika saya memandang dari kaca pandang fiqih, Nabi Adam salah, karena ada proses Syari’at yang dilanggar, tapi jika saya memandang dengan cara pandang hakikat, Nabi Adam memakan buah Khuldi benar dan harus, lha kok bisa Kyai? Ya bisa, tanpa memakan buah khuldi, nabi Adam tidak akan menjadi Kholifah di muka bumi, padahal di dalam al-Qur’an di jelaskan ” انى جا عل فى الاءرض خليفه” Aku (Allah) akan jadikan pemimpin dari manusia di muka bumi. Jadi, nabi Adam memakan buah Khuldi, bukan suatu kesalahan, tapi sebuah syarat untuk melakoni peran kholifah yang sudah di tetapkan sebelumnya. Maknanya Syetan yang saat itu kegirangan, sakjane ngunu yo kliru lan kapusan. Itulah politik, tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi di dalam politik. Kalau sudah bahas politik, kudu jelas, lha syetan saja kapusan kok. Yang secara serentak di sambut tawa hadirin dengan serentak tanpa komando.

“Monggo jajane kalih disambi” Kyai mempersilahkan para hadirin menikmati hidangan yang ada, untuk ke sekian kalinya. Masalah politik, gunakan kaca pandang politik, masalah ber NU, gunakan kaca pandang NU sebagaimana Khittoh NU. Lanjut Kyai Muhsin, Jadi NU itu posisinya penentram, penenang, dan rakyat mayoritas. Kalau sudah ada rame-rame apa pun itu, yang menenangkan ya NU. Lha kenapa NU menjadi rakyat mayoritas? Sebuah susunan pemerintahan siapa pun pemimpinnya pasti akan berjalan baik jika rakyat yang di pimpin sudah bisa berbuat dengan baik, lha kalau di balik? Ada pemimpin-pemimpin yang baik, tapi masyarakatnya bajingan-bajingan, apakah kedamaian akan terwujud? Tidak akan!. Jadi sekali lagi Tah, Fatah dan semuanya, NU kudu menjadi penenang dan penentram yang mampu ndandani masyarakat untuk mewujudkan negara yang baik. Piye, ngunu ora? Nggih Kyai, jawab serempak kami saat itu. 

Jadi pernah pula di zaman nabi Yusuf, saat Malaikat Jibril turun kepada nabi Yusuf menyampaikan bahwa nabi Yusuf selain menjadi nabi, rosul juga akan dianggkat menjadi Sulthonul Muqorrobiin, dengan syarat, Nabi Yusuf harus mendatangkan Ayahnya ke Istana saat itu. Nabi Yusuf berfikir” Jika saya datang kembali kerumah, ini tidak mungkin, karena posisi saya sama saja mengakui jasa saudaranya yang telah membuangnya kehutan dan memasukkan ke dalam sumur, karena tanpa kejadian itu, nabi Yusuf tidak mungkin sampai ke istana seperti saat ini. Sementara jika nabi Yusuf memanggil ayahandanya untuk datang keistana, ini Su’ul adab, kok anak menyuruh orang tuannya. Akhirnya tibalah Bunyamin saudara nabi Yusuf datang ke istana untuk membeli bahan makanan karena negara sedang paceklik, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh nabi Yusuf, dengan menyuruh pegawai istana, dimasukkanlah takaran emas di dalam bungkusan Bunyamin tanpa sepengetahuan Bunyamin. Sesampainya di depan pintu gerbang, petugas memeriksa bawaan Bunyamin dan menemukan takaran emas di dalam bungkusan Bunyamin yang akhirnya menjadikan Bunyamin sebagai tahanan. Lantas nabi Yusuf menemui Bunyamin dan mengintrogasinya, akhir pembicaraan Bunyamin akan di bebaskan jika dapat menghadirkan ayahnya ke istana dan benar, nabi Ya’kub sang ayah dari Bunyamin dan Nabi Yusuf hadir di istana. Jibril turun menemui nabi Yusuf dan menyampaikan bahwa beliau sudah memenuhi syarat yang telah ditetapkan, tapi cara yang dilakukan oleh nabi Yusuf dengan mempolitiki Bunyamin saudaranya masuk pada kategori “Khasanatul Abror, Syaiatul Muqorrobiin” ngerti maksute? Tanya Kyai Muhsin. Yang di jawab dengan senyum para hadirin.

Jadi Mubaligh itu jangan kepaten lakon, perdalam apa yang kamu ketahui, dibaca sekali, dua kali, terus ulangi sampai menancap dan bertambah pemahaman serta pengetahuan kita. Tidak sekedar menyampaikan trus lupa pada apa yang baru disampaikannya. Misalkan membahas “Bismillahirtohmaanirrohim” ini saja kalau difahami dan dikupas sampai detail, sampai Subuh pun pembahasannya tidak akan habis. Makanya silaturrahmi jagongan seperti ini penting, selain memanjangkan umur, meluaskan rizki, juga menambah ilmu pengetahuan. 

Pernah juga ada tokoh Nasional yang saat kesini bertanya begini” Kyai, kalau pas ngobrol begini Kyai lebih banyak cerita dan pengetahuan yang baru-baru menurut saya Kyai. Kok beda saat kyai berada di saat rapat atau forum umum lainnya? Ini dijawab gak enak, tapi kalau gak dijawab, wong ditanya kok gak njawab? Setelah beberapa lama, akhirnya Tak Jawab Tah, “Begini, saya kalau pas jagongan begini banyak cerita dan banyak yang diobrolkan, karena suasana santai begini, sangat mendukung masuknya pengetahuan pada memori otak kita, selain itu, kalau di forum dan rapat di luar rumah, kalau saya bicara panjang lebar, khawatirnya sampean-sampean dan sahabat-sahabat lainnya, gak kelihatan pintere. Sontak kami tertawa mendengar kalimat akhir yang disampaikan Kyai. Karena makna dari kalimat itu adalah “kalau kyai banyak berbicara di forum maupun rapat, tentu yang lain kalah pamor” dan diamnya Kyai adalah dalam rangka mempopulerkan kebintangan generasi yang lain.

اذا زاد نظر الرجل واتسع فكره قل انكاره على الناس

“Jikalau seseorang bertambah ilmunya dan luas cakrawala pemikiran serta sudut pandangnya, maka ia akan sedikit menyalahkan orang lain”.

Monggo to kalian dipun sambi, inggih Kyai jawab kami serentak. Pernah pula, saya ditanya oleh seorang KaKanwil Kemenag, Kyai Punya Santri berapa? ada beberapa lah santri saya, Ngaji Tafsir, Hadist juga Kyai? iya, tapi bukan Tafsirnya Qur’an dari Kemenag. Lho memangnya ada yang salah dari  Qur’an Kemenag Kyai? Tanya si KaKanwil tetsebut. Coba sampean jelaskan mengapa ada kata di dalam kurung “manusia” pada lafadz “Ud uu ilaa sabiili robbika” Ajaklah(manusia) kejalan tuhanmu. Lha prayogine pripun Kyai? Seharusnya tidak usah ada kata di dalam kurung itu, karena yang di maksud ajaklah pada lafadz “ud uu ilaa sabii li robbika” adalah “ajaklah orang-orang yang belum kejalan tuhanmu untuk kembali menuju jalan tuhanmu”. Jadi yang diajak itu ya yang belum menuju ke jalan tuhan. Yang sudah ya sudah. Jangan lantas yang sudah ke jalan tuhan terus di ajak, malah yang belum di biarkan gak di ajak. Salah ini. Ooo begitu Kyai Jawab sang Kakanwil Kemenag. Esok harinya beliau nelpon dan menyampaikan ” Kyai, keterangan kemarin saya cari di kitab-kitab tafsir kok gak ada ya?”. Saya Jawab, Ngajinya bapak kurang lama. Spontan semuanya tertawa kepingkel-pingkel.

Jadi antara Islam dan Toleransi itu jangan dipisahkan. Islam ya Toleransi. Itu maksud saya menjelaskan makna “ud uu ilaa sabiili robbika” tadi Kang. Kyai Muhsin menyimpulkan ceritannya.

Kadang di dalam redaksi bahasa dan sastra Arab, banyak huruf Jar yang dibuang untuk tujuan tertentu, kadang pula ditambahkah huruf jar dengan tujuan tertentu pula. Lha ini yang faham ya mereka yang mau membaca berulang-ulang ngaji pada guru dengan teliti dan seksama. Tidak hanya sekilas terus lupa seperti penyiar radio saja. Contoh lafadz amantu billaahi. Kenapa kok billaahi ada huruf ب padahal lafadz  Aamantu Allaaha sudah pas. Inilah kekayaan khazanah keilmuan Aswaja, coba ingat pelajaran nahwu “marortu”(مررت) liwat sopo ingsun, bi zaidin( بزيد) ketemu kelawan Zaid. Jadi huruf  ب pada lafadz امنت بالله menurut aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang diyakini orang-orang NU adalah setiap orang yang beriman kepada Allah nantinya akan dimasukkan ke Surga dan mendapat kenikmatan bertemu dengan Allah. Jadi jika sudah bertemu dengan Allah, tidak ada lagi nikmat yang melebihinya. Begitulah dahulu Syekh Abu Musa Al Asyari dan Syekh Abu Mansur Al Maturidi menggabung berbagai sumber keilmuan sehingga lahir yang disebut Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Jaman Akhir ini banyak yang mengaku dan menempati maqom nabi. Contohnya begini” Kanjeng Nabi Muhammad SAW menempati maqom nabi, rosul, dan pemimpin negara, ada kekhususan untuk beliau sebagai Nabi yang tidak boleh ditiru umatnya, misalnya rosulullah baru bangun tidur, langsung sholat tanpa berwudhu, ini kekhususan beliau sebagai nabi, buktinya ketika Sayyidina Abu Bakar yang baru bangun tidur tanpa wudhu akan langsung sholat, ditegur dan diperintah berwudhu oleh kanjeng Nabi Muhammad SAW. Begitu juga ketika Kanjeng Nabi Muhammad yang akan melaksanakan sholat berjamaah ke Masjid, sebelumnya kanjeng nabi mencium istrinya Sayyidah Aisyah dan tanpa Wudhu langsung sholat, ini juga khususiyah seorang Nabi. Lha kalau kita sekarang meniru dan melakukan ke khususan tersebut, apa kita nabi? Oleh karenanya nabi Musa A.S gak nyambung saat berguru kepada nabi Khidir A.S, karena kekhususan nabi Khidir yang berbeda dengan pemikiran nabi Musa. Sama halnya dengan ada  qonun(peraturan) begini” Seluruh Santri dilarang nonton Film di Bioskop” trus jika ada keamanan pondok yang masuk ke bioskop bagaimana? Apa dia kebal pasal? Secara tata bahasa aturan, keamanan tetap terkena pasal “seluruh santri dilarang nonton film di bioskop” karena bagaimana pun, keamanan juga santri, trus masalah bolehnya keamanan masuk ke bioskop, ini adalah maqom khususiyah yang tidak berarti kebal hukum. 

Dahulu jaman Sahabat, Tabi’in, zaman Tabi’it Tabi’in perkara kekhususan bagi kanjeng nabi Muhammad SAW ini sudah dipahami tanpa dijelaskan. Baru pada masa Imam Madzhab masalah ini dijelaskan supaya tidak salah faham. Monggo sareng-sareng nyuwun Gusti Allah, mugi-mugi barokah sedayane. Kyai mendoakan kami semua pertanda obrolan silaturrahim segera ditutup. 

Sambil berpamitan, Kyai bertanya kepada pak Fatah Masrun, iki sopo Kok anyar iki, Niki Kang Burhan Muafi Kyai, alumni Jogja domisili di Kedungcangkring Pagerwojo. Masyaallah….kok oleh-oleh Tah? Niki putra wonten Jogja juga, Kyai menyela paparan Pak Fatah Masrun. Lek kui (Sambil nunjuk Saya dan Bang Ejhon) wis mafhum. Sambil mengucap salam, kami bersama rombongan meninggalkan ndalem Kyai Muhsin sekitar Pukul 20:15 untuk berpencar sesuai tujuan masing-masing. Mbak Luluk dan Mas Alwi pulang ke rumah, Kang Burhan juga pulang karena anaknya sakit, Saya, Bang Jhon, Pak Fatah Sekeluarga melanjutkan ba’dan ke sanak keluarga dan kolega.

Demikian cerita ba’dan edisi akhir setelah kupatan dan kuliah Syawal bersama beliau KH. Muhsin Ghozali, semoga beliau dikarunia kesehatan dan umur panjang. Sehingga kami para ndayak-ndayak ini bisa ngaji dan nucup rembesing madu barokah saking beliaunya. Aamiin.