Layangan orang Jawa menyebutnya, merupakan permainan tradisional yang dimainkan anak-anak Nusantara untuk menandai masa tetanem atau tandhur. Sehingga opening NUsantara Mart adalah awal dari memunculkan kemandirian ekonomi warga NU untuk kesejahteraan dan kejayaan NU.

Pemilihan simbol layangan sesungguhnya adalah simbolik dari gerak kehidupan yang kadang dihempas angin sebagai tantangan dan kadang pula angin menjadi kawan menapaki tingginya cakrawala Nusantara.

Layangan tidak akan bisa terbang jika piranti dan dukungan yang dibutuhkan mulai benang, angin dan kepiawaian pemainnya tidak padu dalam satu nafas dan tarikan harmoni yang kompak dan rancak. Oleh karenanya, adanya layangan dalam opening NUsantara Mart, ingin menggugah dan mengingatkan warga NU, bahwa niat, kekompakan, kebersamaan dan kemauan warga NU harus menjadi satu tekad bulat yang tak tergoyahkan oleh aral yang melintang dan ungkapan pesimis terhadap potensi NU yang luar biasa. Kata yang harus digaris bawahi adalah NU bisa dan NU mampu menjadi garda depan dalam memimpin ekonomi dunia.

Dalam memainkan layangan, kadang kita tidak menemukan kekuatan angin yang sesuai untuk menerbangkan layangan. Sehingga dahulu, ada syair yang diucap saat memanggil angin” cempe-cempe tekakno barat gedhe tak opahi duduh tape, Cempa-cempa tekakna barat dawa tak opahi duduh klapa”, maka, warga NU jika dalam mengendalikan dan memanajemen NUsantara Mart menemui kendala dan susah berkembang, maka ya Jabbar ya qohhar harus dikobarkan, bahwa semangat dan kesadaran bahwa ini adalah aset NU, berkembang dan tidaknya adalah tergantung warga NU. Bagaimana meyakinkan orang lain, jika warga NU sendiri tidak punya keyakinan? Bagaimana mengajak orang lain belanja di NUsantara Mart, jika warga NU sendiri tidak belanja di NUsantara Mart. Jadi kesadaran terhadap kecintaan dan kepemilikan bersama harus digugah dan ditumbuh kembangkan menjadi perilaku jama’ah dan jam’iyyah.

Layangan dengan sendaren yang mendatangkan suara, sejatinya adalah pekik semangat memompa ghirah kebangkitan NU dalam kemandirian yang tumbuh dari kader-kader NU. Mari kita gelorakan semangat yang sama, demi kejayaan dan kesejahteraan ekonomi Nusantara. Tidak ada yang mustahil, jika kita memiliki kemauan, Niat dan tekad untuk berubah dan menjadi Trend Setter bukan lagi menjadi follower.

NUsantara Mart adalah wujud niatan, tekad dan kesungguhan warga NU dan kader-kader NU untuk berjuang dan berkhidmat pada NU melalui jalur kemandirian ekonomi untuk terbang tinggi dengan irama yang rancak seperti simbolik layangan yang kita gunakan dalam opening hari ini. Mari kita rapatkan barisan, kita bangkitkan semangat perjuangan dalam kerangka mewujudkan kemandirian ekonomi jama’ah dan jam’iyyah Nahdlatul Ulama’.(Din)