Kita tidak usah takut dengan siapa-siapa. Ya! Inilah yang seharusnya ada pada benak setiap generasi bangsa Indonesia. Semakin kita merasa takut, biasanya akal sehat kita akan hilang. Bahkan, bayangan pun kita anggap orang yang mau menyerang kita. Pikiran kita selalu dihantui ketakutan yang berlebihan. Ini individu, bagaimana kalau ketakutan itu jadi melembaga. Sekelompok orang takut sesuatu. Mending kalau ketakutannya atas dasar yang jelas, biasanya ketakutan itu hanya pembenaran terhadap asumsi yang dibangun dari opini medsos atau dari kabar yang setengah-setengah dari pimpinan kelompok.

Saya tidak takut PKI, Yahudi, China atau siapapun. PKI, Yahudi, China, atau siapapun yang benar punya niat jahat atau tidak punya niat sekalipun tidak usah ditakuti. Semakin kita takut, itu menunjukkan bahwa kita makhluk tidak berdaya. Yang hanya bisa nggrundel, mengumpat dan dengki. Dan dapat dipastikan kita akan kehilangan daya-daya kreatif.

Ketika Amerika, Eropa dan bangsa lain sedang terus berlomba memajukan bangsanya, bangsa kita malah sibuk ribut dan perang saudara. Kecanggihan teknologi, pesatnya informasi dan produk zaman modern lainnya terus mereka keluarkan. Lah, kita bangsa Indonesia, untuk budaya literasi saja masih jauh tertinggal, kita masih jadi bangsa yang ketinggalan zaman. Tapi malah Saracen yang pesat, ujaran kebencian dan fitnahan semakin hari bukan semakin sedikit, tapi malah pesat kuantitasnya.

Segala kegiatan; seminar, workshop, bhakti sosial dan lain sebagainya, selama dalam konteks keilmuan dan pemberdayaan, tidak boleh dilarang. Tidak boleh ada pembubaran. Kecuali memang jelas meresahkan, mengganggu ketertiban umum dan ada potensi makar. Seminar bertajuk PKI yang tujuannya menguak kebenaran sejarah, justru harus didukung. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memegang teguh sejarah bangsanya. Kebenaran sejarah harus diungkap, jangan sampai ditutupi, jangan sampai generasi kita nanti salah sebut bahkan tidak tahu siapa korban kebiadaban dan siapa Pahlawan. PKI secara idiologi memang tidak pernah akan mati, tapi bagaimana pun PKI adalah pelaku makar kepada bangsa ini, bukan sebagai korban.

Mari kita habiskan energi dan segala kemampuan kita untuk bersama membangun bangsa. Jangan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang remeh-temeh. Musuh kita bukan orang lain, bukan PKI, bukan Yahudi, bukan Amerika, bukan Cina, bukan Arab Saudi, bukan siapa-siapa. Musuh kita yang nyata dan dekat dengan kita itu ya kita sendiri. Sikap minder, penakut, ujaran kebencian, fitnah, adu domba dan sikap ketidak tahuan dan malas mencari tahu.

Kita harus fokus menata diri, membantu Presiden dalam membangun bangsa ini. Jangan seperti Abdullah bin Saba’ sang pendiri Kwarij yang mengawali kekisruhan zaman khalifah Ustman bin Affan dengan nggembosi pemerintahan yang sah dan merongrong dengan ujaran fitnahan sehingga muncul ketidak percayaan pada khalifah Ustman bahkan memberontak pemerintahan Ustman bin Affan.

Mari kita didik generasi bangsa ini dengan pendidikan yang mencerahkan, pendidikan yang memberdayakan, pendidikan yang mendewasakan. Agar mental generasi bangsa kita tidak jongkok. Kita sibuk menyalahkan orang lain, menuduh orang lain, memfitnah orang, dan kita lupa akan perbaikan diri dan bangsa.

Kita ini bersaudara. Kita harus bertemu. Kita harus dialog dengan berkelanjutan dan terus-menerus. Generasi bangsa yang dewasa maupun yang muda, yang masih hidup di zaman ini adalah sama, sederajat, sebagai warga negara yang sah. Tidak boleh ada saling curiga selama tidak terbukti berbuat makar kepada negara. Selama orang tersebut setia pada Pancasila dan UUD 1945. Kecuali mereka yang makar dan membuat negara di dalam negara.

Mari kita sudahi polemik ini. Tidak ada yang harus ditakuti dengan PKI, Yahudi, China atau lainnya. Ketakutan biasanya terjadi akibat kemalasan berpikir dan pengetahuan yang picik dan satu sumber. Pikiran kita menjadi buntu dan tidak inovatif. Mari kita berpikir dan berbuat lebih produktif, bisa apa kita untuk bangsa ini?. Kita harus cerdas, melek literasi, waspada hoaks dan terus berkarya positif untuk bangsa ini.

Jika pun masih ada yang bilang PKI bangkit lagi, tanyakan dimana kantornya, siapa nama PKI nya, ajak si pemberi kabar untuk melaporkan kepada pihaj berwajib. Jika si pemberi kabar tidak bisa menunjukkan bukti dan tidak mau diajak laporan resmi ke kantor polisi, pastikan, mereka hanya penyebar berita tanpa fakta dan ajak ke pihak berwajib untuk melaporkan perbuatan si doi yang menyebar berita palsu yang dapat menimbulkan keresahan.(Din)

Wallaahu a’lam