Pemimpin adalah panutan bagi kelompoknya. Term tersebut adalah hal yang seharusnya terjadi dalam kondisi ideal. Adapun jika pemimpin tidak jadi pimpinan bagi kelompoknya, pasti ada faktor X yang melatar belakangi ketidak wajaran itu. Termasuk di dalam manut pada pemimpi adalah mengikuti perintah dan tidak mencaci pemimpin. Sehingga simbol kepimimpinan benar-benar dipegang teguh dalam berorganisasi dimana pun dan kapan pun.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dan para Sahabatnya melarang kaum muslimin untuk merendahkan dan menjelek-jelekkan penguasanya. Penguasa dalam konteks negara Indonesia adalah, presiden yang lahir dari produk pemilu langsung yang merupakan sistem dari demokrasi pancasila.

Suatu hari, ketika seorang penguasa (Ibnu Amir) sedang berkhutbah dengan menggunakan pakaian yang tipis, seseorang yang bernama Abu Bilal mengatakan: Lihatlah pemimpin kita menggunakan pakaiannya orang fasik. Abu Bilal tersebut kemudian ditegur oleh Sahabat Nabi Abu Bakrah sambil menyampaikan hadits yang didengarnya dari Nabi:

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ
Barangsiapa yang menghinakan pemimpin Allah di bumi, Allah akan hinakan dia
(H.R atTirmidzi no 2150)

albany menghasankan hadist ini. Jadi aneh juga ketika kebanyakan para salafy wahaby yang hari ini berlomba mencaci para pemimpin.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ قَوْمٍ مَشَوْا إِلَى سُلْطَانِ اللهِ لِيَذِلُّوهُ إِلاَّ أَذَلَّهُمُ اللَّهُ قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Tidaklah suatu kaum berjalan menuju pemimpin Allah dengan tujuan untuk menghinakannya, kecuali Allah akan hinakan ia sebelum hari kiamat
(H.R alBazzar no 2848 dari Hudzaifah dan diisyaratkan keshahihannya oleh al-Haitsamy dalam Majmauz Zawaaid)
Dua hadits di atas yang shahih dan diriwayatkan dari dua Sahabat Nabi yang berbeda memberikan bimbingan kepada kita untuk menahan diri tidak menjelek-jelekkan dan menghinakan pemimpin muslim. Hadits-hadits tersebut juga merupakan dalil larangan demonstrasi dengan menjelek-jelekkan kebijakan penguasa. Perbuatan demonstrasi bukanlah dari Islam, namun ditiru dari negeri-negeri kafir. Demikian juga menjelek-jelekkan dan meruntuhkan kewibawaan pemerintah melalui tulisan-tulisan di media massa, buletin, maupun blog, web, maupun social media di internet.

لَا تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ، وَلَا تَغِشُّوهُمْ، وَلَا تَبْغَضُوهُمْ، وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاصْبِرُوا؛ فَإِنَّ الْأَمْرَ قَرِيبٌ

Janganlah kalian mencela para pemimpin kalian, jangan menipu mereka, jangan marah kepada mereka, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, karena urusannya sudah dekat (H.R Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah dengan sanad yang baik (jayyid))

Sahabat Nabi Anas bin Malik radhiyallahu anhu menyatakan:

كَانَ اْلأَكَابِرُ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَوْنَنَا عَنْ سَبِّ اْلأُمَرَاءِ

Para pembesar dari Sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melarang kami dari mencela para pemimpin (riwayat Ibnu Abdil Bar dalam atTamhid)

Sahabat Nabi Abu Darda’ radhiyallahu anhu menyatakan:

وإنَّ أوَّل نِفَاقِ الْمَرْءِ طَعْنُهُ عَلَى إِمَامِهِ

Sesungguhnya awal kemunafikan pada seseorang adalah celaannya kepada pemimpinnya (riwayat Ibnu Abdil Bar dalam atTamhid dan Ibnu Asakir)

Jelas sudah larangan Rasulullah kepada umatnya mencela para pemimpin dalam bentuk ujaran yang diunggah via medsos maupun cemoohan di dunia nyata. Sehingga apa yang dilakukan oleh Saracen misalnya, merupakan perbuatan yang berlawanan dengan ajaran Rosulullah yakni ajaran Islam. Kendati pun para pelakunya sering menyebut dirinya paling nyunnah.

Cemoohan pada pemimpin sejatinya adalah upaya untuk membuat opini publik bahwa sang pemimpin adalah musuh yang layak dimusuhi dan dilawan sampai pada kesimpulan layak untuk diturunkan dari jabatannya. Sebagaimana yang pernah dilakukan Abdulah bin Saba'(Rahib Yahudi yang pura-pura masuk Islam) sang pendiri dan tokoh Kwarij. Bagaimana upaya Abdullah bin Saba’? di awalai dengan fitnah dan membangun opini publik serta berakhir dengan memberontak.

Jadi, sanad para pencaci pemimpin hari ini, nyambung dengan sanad perjuangan Abdulah bin Saba’ di zaman Khulafaurrosyidin dalam memunculkan kekisruhan melalui ujaran cacian pada pemimpin dan berujung bughat pada pemimpin yang sah.(Din)