Dalam Muktamar NU ke 16 pada tahun 1946 Purwokerto, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari menyampaikan bahwa berpolitik bagi warga NU hukumnya Fardhu Ain. Sebagaimana kita ketahui sejak NU lahir, peran politik melawan penjajah, melawan Islam Radikalis dan Komunis. Juga peran politik NU yang tidak kalah pentingnya adalah turut serta dalam merumuskan dasar negara melalui BPUPKI. Jadi kalau ada yang bertanya “apa peran NU dalam politik kebangsaan?” jawabnya jelas, NU menjadi Avan Garde (garda depan) dalam melawan penjajah, melawan Islam Radikalis, dan turut serta merumuskan dasar negara. Sehingga tidak mungkin NU memberontak pada NKRI, masak ada perumus dan pendiri negara ikut merobohkan negara? Ini harus jelas. Lha kalau ditarik garis peran dan fungsi pendiri secara distrik? Ya jangan sampai ada pendiri NU disebuah daerah trus juga menjadi penyebab perpecahan organisasi NU. Ini bukan untuk menyindir, tapi ini penegasan peran dan fungsi.

Dewasa ini peran NU dalam berpolitik dibagi menjadi dua yakni pertama, Peran NU dalam politik kenegaraan yang memiliki hukum Fardhu Ain seperti halnya menjaga keutuhan NKRI, melawan Islam Radikalis, Komunis dan Liberalis dan kedua, peran politik NU dalam politik kekuasaan yang dihukumi Fardhu Kifayah, karena telah diwakili oleh partai politik. Oleh karenanya dukungan NU terhadap negara bersifat mutlak. Harus dibela kapan saja. Sementara hubungan NU dengan pemerintah adalah telatif, yang menggunakan prinsip “Amar Ma’ruf Nahi Munkar” jika pemerintah benar, harus di dukung, tapi jika pemerintah salah, ya harus diluruskan. Jadi ada pemilahan sikap dan prinsip, dan harus benar dalam mengamalkan prinsip berpolitik NU tersebut, sehingga tidak salah prinsip dan salah sikap.

Sebuah kejadian yang sangat menginspirasi dalam bersikap pada saat ini, saat Mbah Wahab menemui Adviseur voor Inlandsche Zaken (Menteri Urusan Pribumi) “Van Der Plas” sang orientalis yang sebelumnya telah menjadi Konsul di Jeddah Saudi Arabia pengganti Snouck Hurgronje. 

KH. Wahab Chasbullah menemui Van Der Plas dalam rangka menjelaskan dan meminta izin untuk menyelenggarakan muktamar NU yang ke 4 di Semarang pada tahun 1929 karena saat itu pemerintah setempat, melarang wilayahnya ditempati Muktamar karena khawatir Muktamar NU diarahkan untuk memberontak Belanda. Dan Muktamar di Semarang ini merupakan kali pertama kegiatan Muktamar digelar di luar kota berdirinya NU (Surabaya).

Menghadapi prrsoalan penolakan ini, KH. Wahab Chasbullah datang kerumah Van Der Plas di JL. Cikini no 12 Menteng Batavia( Jakarta). Sesampainya di depan gerbang rumah Van Der Plas Kyai Wahab disambut oleh seekor Herder besar yang menyalak dan siap menyerang siapa pun yang datang. Tapi aneh, Herder yang biasanya galak ini, tiba-tiba jinak di depan Kyai Wahab, seakan sudah kenal sebelumnya, padahal itu kali pertama Kyai Wahab menemui Van Der Plas,  kemudian Herder ini di elus oleh Kyai Wahab dan digendong masuk menemui sang Tuanya.

Sontak saja Van Der Plas kaget dan terharu melihat Kyai Wahab sehingga menaruh simpati besar pada Kyai Wahab Chasbullah sehingga penyambutan juga istimewa dan penuh keramahan. Dengan menggunakan Bahasa Arab dan Melayu, Kyai Wahab dan Van Der Plas bercengkrama layaknya sahabat lama yang baru bertemu kembali, ditemani kopi dan rokok Eropa keduanya bercengkrama dan termasuk disitulah Kyai Wahab Chasbullah menyampaikan maksudnya untuk meminta izin akan melaksanakan Muktamar NU yang ke 4 di Semarang Jawa Tengah dengan catatan hasilnya akan di umumkan secara terbuka di Masjid Jami’ Kota Semarang. Dalam lobinya Kyai Wahab Chasbullah menyampaikan bahwa yang dibahas dalam Muktamar tersebut adalah masalah “diniyyah ijtimaiyah”(keagamaan) termasuk juga Kyai Wahab Chasbullah menyampaikan terkait pembatasan jumlah pengajian umum yang diadakan di Mojokerto dan Lamongan dengan hanya dihadiri 50 orang untuk pengajian umum. Padahal setiap NU mengadakan pengajian umum, yang hadir pasti ribuan. Pada Saat bercengkrama dengan Van Der Plas, Kyai Wahab juga menyampaikan syarat bagi seorang kepala penghulu( hoof) adalah Allamaah/ benar-benar alim dan berilmu. Pada awalnya Van Der Plas keberatan dengan usulan yang disampaikan Kyai Wahab Chasbullah, karena pengangkatan hoof menurut kebijakan kolonial adalah yang bisa menjaga keamanan kolonial saat itu.

Berkat kelihaian Kyai Wahab Chasbullah, akhirnya izin Muktamar, izin melaksanakan pengajian umum dengan jama’ah tak terbatas dan hoof dengan kemampuan agama yang mumpuni di iyakan oleh Van der Plas. Sejak saat itu NU berkembang pesat melalui Pesantren, Masjid Agung dan Masjid Besar di setiap Kota.

Jika kita simpulkan, apa yang dilakukan Kyai Wahab Chasbullah adalah teladan cerdas, cermat, dan Tepat dalam melangkah, menyampaikan maksud, dan menentukan pencapaian target.

Beliau Kyai Wahab Chasbullah rela menggendong Herder Van Der Plas, bukan tanpa alasan, beliau faham jika tuan dari Herder ini pasti klepek-klepek ketika hewan kesayangannya juga di sayangi. Lha beliau Kyai Wahab Chadbullah ini Macan, wajar jika Herder jadi kalem dan jinak dengan beliau. Masalah najisnya Herder bisa dibersihkan, tapi kepentingan umat dan Organisasi jauh lebih penting. 

Hasil lobi beliau dengan Van Der Plas: Muktamar 4 Terlaksana di Semarang, Informasi NU tersiarkan di Masjid Besar dan Masjid Agung disetiap Kota Kabupaten dan satu lagi, warga NU diperbolehkan menggelar pertemuan terbuka dengan dihadiri masyarakat tak terbatas. 

Itulah Kyai Wahab Chasbullah, Murid Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, beliau juga Muassis dan Muharrik NU, Pahlawan Nasional dan Guru Politik Bangsa.