Kyai Wahab adalah sosok Kyai yang secara fisik tidak terlalu besar tapi kuat, terbukti ketika Kyai Wahab yang juga pendekar silat ini dihadang oleh 4 orang penyamun pada perjalanan antara Makkah dan Madinah pada tahun 1920 -1925, beliau dengan mudah mengalahkan para penyamun yang secara fisik sebagaimana perawakan Eropa yang tinggi dan besar. Oleh karenanya jika dahulu Muso sang Gembong PKI pernah mengajak diskusi Kyai Wahab Chasbullah tentang tuhan, lantas oleh Kyai Wahab diskusi tersebut dimandatkan kepada Hasan Gipo, bukan karena Kyai Wahab Chasbullah takut dengan perawakan Muso yang kekar dan tinggi besar wong nyatanya empat orang yang lebih besar dari Muso beliau mampu menghadapi sekaligus, atau takut kalah, tapi karena model Muso hanya mengandalkan okol dan bacot ( coltcot) maka yang dianggap pas untuk menyelesaikan secara cepat tanpa waktu lama ya Haji Hasan Gipo. Karena sosok Haji Hasan Gipo dikenal mampu bermain dengan ritme irama gendang model apa pun, halusan, kasaran, atau kekeluargaan.

Oleh Haji Hasan Gipo, Muso diajak untuk membuktikan Tuhan dengan cara: “Bersama-sama menuju rel kereta api di dekat Krian (dahulu jalur kereta Surabaya-Batavia) untuk menyambut kedatangan kereta ekspres yang sedang melaju kencang dan masing-masing harus meletakkan leher di atas rel kereta api agar tergilas kereta, dengan cara inilah, secara Ainul yaqin Haqqul yaqin akan kita temukan bukti adanya Allah SWt tuhan semesta alam. Mendengar penjelasan dan tantangan Haji Hasan Gipo demikian, tiba-tiba Muso mengalami ketakutan yang luar biasa dan mengaku kalah. Demikianlah kecerdikan Kyai Wahab Chasbullah dalam menyelesaikan sebuah masalah.

Bahkan ketika terjadi polemik pasca runtuhnya Kabinet Amir Syarifudin  yang hanya berumur 6 bulan dan digantikan oleh Kabinet Hatta (presidentil) mulai 29 Januari 1948 ditengah gejolak rakyat yang merasakan dampak buruk dari perjanjian Renvile tanggal 17 Januari 1948, Kyai Wahab Chasbullah pada rapat Masyumi yang berlangsung alot di hari kedua(hari pertama tidak bisa menghasilkan keputusan) Kyai Wahab Chasbullah dengan suara lantang menyampaikan” Saya usulkan agar kita menerima tawaran Bung Hatta, Tapi orang-orang kita yang duduk dalam kabinet Bung Hatta, atas nama pribadi sebagai warga yang loyal kepada negara, jadi yang duduk dalam kabinet itu bukan Masyumi yang jelas-jelas menentang Persetujuan Renvile dan Persetujuan Linggarjati.

Pendapat Kyai Wahab Chasbullah langsung mendapat sambutan hangat dan seakan bagai siraman kesejukan setelah dua hari berdebat dengan capek dan melelahkan tanpa penyimpulan. Beberapa sahabat yang hadir langsung mendekat Kyai Wahab untuk mengapreseasi dan tanda gembira. Saat itu Kyai Wahab di Masyumi sebagai Syuro bersama K.H. Ki Bagus Hadikusumo, K.H. R Hajid, K.H. Imam Ghozali, K.H Abdul Halim dan A Hasan. Setelah sebentar bersuka cita atas ide yang disampaikan Kyai Wahab Chasbullah, tiba-tiba Kyai Hajid yang merupakan tokoh Muhammadiyah dengan lantang menanyakan”Apa alasan kita duduk dalam kabinet yang melaksanakan isi Perjanjian Renvile? Apakah ini tidak disebut Munafiq?”

Dengan tenang Kyai Wahab menjawab” Kita tidak hendak melaksanakan perkara munkar, bahkan sebaliknya kita hendak melenyapkan munkar. Nabi menyuruh kita mengubah situasi munkar untuk melenyapkannya dengan perbuatan. Kini terbuka bagi kita untuk melenyapkan kemungkaran melalui perbuatan dengan duduk di dalam Kabinet Hatta. Kalau kita berdiri diluar kabinet, kita cuma berteriak-teriak thok, mungkin kita akan dituduh pengacau”. Tutur Kyai Wahab.

Dengan semangat Kyai R. Hajid mengajukan pertanyaan argumentatif ” Tapi mengapa dahulu menolak Perjanjian Renvile sekarang malah akan melaksanakannya?” 

Kita menentang perjanjian Renvile sekarang dan akan mendatang. Tapi caranya menentang adalah Falyughoiyyir biyadih (dengan perbuatan), yang perbuatan itu hanya bisa dilakukan jika kita bisa duduk di Kabinet Hatta. Jika sejak semula kita mencegah orang membakar rumah kita, apakah saat rumah telah terbakar kita hanya berpangku tangan? Kyai Wahab membuat perumpamaan.

Lantas orang yang kita dudukkan di kabinet tugasnya apa dan niatnya apa? Kyai Hajid melanjutkan pertanyaannya.

Kyai Wahab menjawab dengan redaksi Hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Thobroni ” Istaiinu ‘ala injaahil hawaaiji bil kitmaan” ( Mohonlah pertolongan kepada Allah tentang keberhasilan targetmu dengan jalan merahasiakannya) maka sebab itu, cukup dengan niat dalam hati.

Tapi Niat mereka harus dinyatakan, agar saudara-saudara yang bakal jadi menteri ini, berjanji di hadapan kita, tidak cukup hanya dalam hati. Kyai Hajid memberikan pendekatan.

Oooo jadi Saudara menghendaki niat itu diucapkan? Kyai Wahab memancing dengan pertanyaan.

Iya. Supaya disaksikan kita-kita ini, jawab Kyai Hajid dengan tegas.

Mana bisa niat diucapkan? Mana Hadist talafudz bin niat (melafalkan niat) tangkis Kyai Wahab yang diikuti tawa ger geran para peserta rapat Masyumi tersebut. Karena tanpa sadar Kyai Hajid yang Muhammadiyah dan selama ini berkeyakinan bahwa melafalkan usholli (niat) di dalam sholat tidak diperlukan justru dalam hal umum menggunakan argumen wajibnya talafudz bin niat. Sedangkan Kyai Wahab Chasbullah yang dari NU,  yang dalam fiqihnya berpendapat bahwa talaffudz bin niat wajib saat sholat tapi disaat menentukan jadi kabinet, tidak diperlakukan talaffudz bin niat.

Dari percakapan  antara Kyai Wahab Chasbullah dan Kyai Hajid diatas, bahwa debat yang santun dan penuh kepeloporan dari keduanya bukan untuk menjatuhkan satu dan lainnya, tapi untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan. Adapun peran sentral Kyai Wahab tidak hanya di DPP Masyumi sebagaimana di atas. Pernah juga pada kisaran tahun 1932 dalam suatu perjalanan dari Cirebon menuju Banyumas dalam acara pelantikan Cabang NU masyarakat setempat digegerkan dengan kedatangan mobil Chevrolet yang saat berhenti di Banyumas ditempat yang dituju, keluar  dari arah kemudi Kyai Wahab Chasbullah dengan Sarung dan surbannya diikuti keluarnya tokoh paling TOP di NU yaitu: Hadrotus Syeikh Hasyim Asy’ari, Kyai Abdullah Faqih, dan Kyai Bisri Syansuri.

Kedatangan Chevrolet dengan dikemudikan Kyai Wahab tersebut, seakan menjadi sebuah perlambang bahwa Kyai Wahab Chasbullah adalah seorang Sopir, Komandan, Pemegang kendali yang mampu mengemudikan dengan bijaksana.

Pun Pula, dari “Sopir” mobil, Kyai Wahab lalu mengendalikan NU yang beranggotakan para ulama’ yang juga mengendalikan partai Masyumi yang beranggotakan para politisi dan intelektual, pada masa itu kedudukan Kyai Wahab Chasbullah di Masyumi sebagai Majlis Syuro yang juga me “Rois Aam”i. Sehingga Kyai Wahab Chasbullah masih dipandang sebagai pengambil keputusan terakhir dari kebijakan politik Partai Masyumi.

Bahkan Adam Malik sang murid Tan Malaka, menjatuhkan pilihan berguru kepada Kyai Wahab Chasbullah setelah membandingkan ketokohan Syahrir yang intelektual tapi tidak merakyat. Sedangkan Kyai Wahab Chasbullah Seorang politisi Sepuh yang produk Pesantren, dan bukan berbau intelektual kental. Tetapi mampu berkomunikasi dengan rakyat dan menyatu dengan rakyat. Antara Syahrir dan Kyai Wahab, justru barisan Kyai Wahab Chasbullah yang tetap utuh dan kokoh dalam mengarungi ombak badai menuju pantai harapan. Sedangkan Syahrir, pecah berkeping-keping ditengah jalan.

Itulah K.H Abdul Wahab Chasbullah, Rois Aam PBNU yang menggantikan kedudukan Rois Akbar Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ ari baik di PBNU maupun di Masyumi. Dengan sikap Tawadhu’ beliau Kyai Abdul Wahab Chasbullah tidak bersedia menyandang gelar “Rois Akbar” yang menurut beliau hanya tepat dan pantas disandang oleh Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari, saudara misanan yang juga gurunya. Kyai Wahab memilih istilah bagi jabatannya dengan sebutan “Rois Aam”, sehingga hanya ada satu Rois Akbar di NU, yaitu Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari.

#Disarikan dari buku:”Berangkat dari Pesantren, Karya K.H Syaifudin Zuhri. Oleh: Nuruddin, penulis adalah Salah satu Pimpinan Media Lakpesdam Tulungagung dan Dosen Muda di STAI Diponegoro Tulungagung.