Nama Nahdlatul Ulama’ adalah Nama yang disepakati oleh semus ulama’ muassis NU. Nama ini di usulkan oleh KH. R Mas Alwi dengan alasan, tidak semua Ulama’ yang alim, memiliki jiwa Nahdlah (Kebangkitan). Oleh karenanya titik tekan pada NU adalah kebangkitan para ulama’ untuk peduli kepada Ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah di seluruh Dunia.

Bahkan KH. Ridwan Abdullah sang pencetus lambang NU, berwasiat pada anak cucu beliau “NU itu, organisasi yang di ridloi Allah, beradalah di dalamnya, untuk belajar menjadi benar”. Jadi, jika ada yang bilang arep ndandani NU, iku sing di dandani ya orangnya, bukan NU nya.

• Dawuh Syaikhona Kholil Bangkalan:

“Ya Jabbar Ya Jabbar Ya Jabbar, Ya Qohhar Ya Qohhar Ya Qohhar, Sopo Seng Ngerusak NU Bakal Ajor, Sopo sing gelem khidmah pada NU bakal mulyo” 

• Dawuh KH.Ahmad Idris Marzuqi Lirboyo:

“Siapa pun yang memusuhi NU.. kalau dia seorang WALI, akan luntur KEWALIAANNYA, kalau dia TOKOH BERPENGARUH, akan KEHILANGAN PENGARUHNYA.. sebab NU didirikan para Ulama dan telah di restui para Auliya'”

•Dawuh KH. R. As’ad Syamsul Arifin Situbondo dalam sebuah Mauidzoh Hasanah, perlu diketahui juga bahwa K.H. R. As’ad Syamsul Arifin adalah pelaku sejarah berdirinya NU, beliaulah yang menjadi media penghubung dari KH. Kholil Bangkalan yang memberi isyarat agar KH. Hasyim Asyari mendirikan Jam’iyah Ulama yang akhirnya bernama Nahdlatul Ulama. Pidato KH As’ad Syamsul Arifin ini awalnya berbahasa Madura dan berikut adalah translit selengkapnya:

Assalamu’alaikum Wr. Wb. 

Yang akan saya sampaikan pada Anda tidak bersifat nasehat atau pengarahan, tapi saya mau bercerita kepada Anda semua. ANDA suka mendengarkan cerita? (Hadirin menjawab: Ya). 

Kalau suka saya mau bercerita. Begini saudara-saudara. Tentunya yang hadir ini kebanyakan warga NU, ya? Ya? (Hadirin menjawab: Ya). Kalau ada selain warga NU tidak apa-apa ikut mendengarkan. Cuma yang saya sampaikan ini tentang NU, Nahdlatul Ulama. Karena saya ini orang NU, tidak boleh berubah-ubah, sampai mati ya NU. 

Jadi saya mau bercerita kepada anda mengapa ada NU? Tentunya muballigh-muballigh yang lain menceritakan isinya kitab. Kalau saya tidak. Sekarang saya ingin bercerita tentang kenapa ada NU di Indonesia, apa sebabnya? Tolong didengarkan ya, terutama para pengurus, Pengurus Cabang, MWC, Ranting, kenapa ada NU di Indonesia.

Begini, umat Islam di Indonesia ini mulai kira-kira 700 tahun dari sekarang, kurang lebih, para auliya’, pelopor-pelopor Rasulullah Saw. ini yang masuk ke Indonesia membawa syariat Islam menurut aliran salah satu empat madzhab, yang empat. Jadi, ulama, para auliya’, para pelopor Rasulullah Saw. masuk ke Indonesia pertama kali yang dibawa adalah Islam. Menurut orang sekarang Islam Ahlussunah wal Jama’ah, syariat Islam dari Rasulullah Saw. yang beraliran salah satu empat madzhab khususnya madzhab Syafi’i. Ini yang terbesar yang ada di Indonesia. Madzhab-madzhab yang lain juga ada. Ini termasuk Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Termasuk yang dibawa Walisongo, yang dibawa Sunan Ampel, termasuk Raden Asmoro ayahanda Sunan Ampel, termasuk Sunan Kalijogo, termasuk Sunan Gunung Jati. 

Semua ini adalah ulama-ulama pelopor yang masuk ke Indonesia, yang membawa syariat Islam Ahlussunah wal Jama’ah.Kira-kira tahun 1920, waktu saya ada di Bangkalan (Madura), di pondok Kyai Kholil. Kira-kira tahun 1920, Kyai Muntaha Jengkebuan menantu Kyai Kholil, mengundang tamu para ulama dari seluruh Indonesia. Secara bersamaan tidak dengan berjanji datang bersama,sejumlah sekitar 66 ulama dari seluruh Indonesia. Masing-masing ulama melaporkan: “Bagaimana Kyai Muntaha, tolong sampaikan kepada Kyai Kholil, saya tidak berani menyampaikannya. ini semua sudah berniat untuk sowan kepada Hadhratus Syaikh. Ini tidak ada yang berani kalau bukan Anda yang menyampaikannya.” Kyai Muntaha berkata: “Apa keperluannya?”

“Begini, sekarang ini mulai ada kelompok-kelompok yang sangat tidak senang dengan ulama Salaf, tidak senang dengan kitab-kitab ulama Salaf. Yang diikuti hanya al-Qur’an dan Hadits saja. Yang lain tidak perlu diikuti. Bagaimana pendapat pelopor-pelopor Walisongo karena ini yang sudah berjalan di Indonesia. Sebab rupanya kelompok ini melalui kekuasaan pemerintah Jajahan, Hindia Belanda. Tolong disampaikan pada Syaikhona Kholil.”Sebelum para tamu sampai ke kediaman Kyai Kholil dan masih berada di Jengkuban, Kyai Kholil menyuruh Kyai Nasib: “Nasib, ke sini! Bilang kepada Muntaha, di al-Quran sudah ada, sudah cukup :

 يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴿٣٢

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. at-Taubat ayat 32)

Jadi kalau sudah dikehendaki oleh Allah Ta’ala, maka kehendakNya yang akan terjadi, tidak akan gagal. Bilang ya kepada Muntaha.”Jadi para tamu belum sowan sudah dijawab oleh Kyai (Kholil). Ini karomah saudara, belum datang sudah dijawab keperluannya. Jadi para ulama tidak menyampaikan apa-apa, Cuma bersalaman. “Saya puas sekarang” kata Kyai Muntaha. Jadi saya belum sowan, sudah dijawab hajat saya ini.Tahun 1921-1922 ada musyawarah di Kawatan (Surabaya) di rumah Kyai Mas Alwi. Ulama-ulama berkumpul sebanyak 46, bukan 66. Tapihanya seluruh Jawa, bermusyawarah termasuk Abah saya (KH. Syamsul Arifin), termasuk Kyai Sidogiri, termasuk Kyai Hasan almarhum, Genggong, membahas masalah ini. Seperti apa, seperti apa? Dari Barat Kyai Asnawi Qudus, Ulama-ulama Jombang semua, Kyai Thohir. para Kyai berkata: “Tidak ada jadinya, tidak ada kesimpulan.” Sampai tahun 1923, kata Kyai satu: “Mendirikan Jamiyah (organisasi)”, kata yang lain: “Syarikat Islam ini saja diperkuat.” Kata yang lain: “Organisasi yang sudah ada saja.” Belum ada NU. (Sementara) yang lain sudah merajalela. Tabarruk-tabarruk sudah tidak boleh. Orang minta berkah ke Ampel sudah tidak boleh. Minta syafaat ke nenek moyang sudah tidak boleh. Ini sudah tidak dikehendaki. Sudah ditolak semua oleh kelompok-kelompok baru tadi. 

Kemudian ada satu ulama yang menghadap Kyai Kholil: “Kyai, saya menemukan satu sejarah tulisan Sunan Ampel. Beliau menulis seperti ini (Kyai As’ad berkata: “Kalau tidak salah ini kertas tebal. Saya masih kanak-kanak. Belum dewasa hanya mendengarkan saja”): “Waktu saya (Sunan Ampel Raden Rahmatullah) mengaji ke paman saya di Madinah, saya pernah pernah bermimpi bertemu Rasulullah, seraya berkata kepada saya (Raden Rahmat): “Islam Ahlussunah wal Jama’ah ini bawa hijrah ke Indonesia. Karena di tempat kelahirannya ini sudah tidak mampu melaksanakan Syariat Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Bawa ke Indonesia.” Jadi di Arab sudah tidak mampu melaksanakan syariat Islam Ahlussunah wal Jama’ah. 

Pada zaman Maulana Ahmad, belum ada istilah Wahabi, belum ada istilah apa-apa. Ulama-ulama Indonesia ditugasi melakukan wasiat ini. Kesimpulannya mari Istikharah. Jadi ulama berempat ini melakukannya. Ada yang ke Sunan Ampel, ada yang ke Sunan Giri, Dan ke sunan-sunan yang lain. Paling tidak 40 hari. Ada 4 orang yang ditugasi ke Madinah. Akhirnya, tahun 1923 semua berkumpul, sama-sama melaporkan hasil Istikharah. Hasil laporan ini tidak tahu siapa yang memegang. Apa Kyai Wahab, apa Kyai Bisri. Insya Allah ada laporan lengkapnya. Dulu saya pernah minta sama Gus Abdurrahman dan Gus Yusuf supaya dicari. Sesudah tidak menemukan kesimpulan, tahun 1924, Kyai (Kholil) memanggil saya. Ya saya ini. 

Saya tidak bercerita orang lain. Saya sendiri. Saya dipanggil Syaikhona Kholil: “As’ad, ke sini kamu!” Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh Kyai, karena saya tidak bisa mengucapkan huruf Ra’. Saya ini pelat (cadal). “Arrahmani Arrahim…” Kyai marah: “Bagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!” “Saya tidak sengaja Kyai. Saya ini pelat.” Kyai kemudian keluar (Kyai Kholil melakukan sesuatu). Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekeramatan Kyai yang diberikan kepada saya. Kedua, saya dipanggil lagi: “Mana yang cedal itu? Sudah sembuh cedalnya?” “Sudah Kyai.” “Ke sini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asy’ari Jombang. Tahu rumahnya?”“Tahu.” “Kok tahu? Pernah mondok di sana?”“Tidak. Pernah sowan.”“Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan.”“nggih, Kyai.” “Kamu punya uang?”“Tidak punya Kyai.” “Ini.”Saya diberikan uang Ringgit, uang perak yang bulat. 

Uang itu saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya. Setelah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi: “Ke sini kamu! Ada ongkosnya?” “Ada kyai.” “Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan suka merokok?” Saya dikasih lagi 1 Ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan. Masih ada sampai sekarang. selanjutnya Kyai Kholil keluar: “Ini (tongkat) kasihkan ya, (Kyai Kholil membaca QS. Thaha ayat 17-21):

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىغَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢ ١﴾

“Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”(QS: Thaha 17-21).

Pada waktu itu, karena saya masih muda, masih gagah dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel: “Orang ini gila. Muda pegang tongkat.” Ada yang lain bilang: “Ini wali.” Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila, ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu, saya hanya disuruh Kyai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu. 

Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Karena masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti. Rusak semua, yang menghina terlalu parah. Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kyai. Saya terus jalan. Sampai di Tebuireng, (Kyai Hasyim bertanya): “Siapa ini?” “Saya, Kyai.” “Anak mana?”“Dari Madura, Kyai.” “Siapa namanya?”“As’ad.” “Anaknya siapa?” “Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin.” “Anaknya Maimunah kamu?”“Ya, Kyai”“Keponakanku kamu, Nak. Ada apa?” “Begini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil) untuk mengantar tongkat.” “Tongkat apa?” “Ini, Kyai.” “Sebentar, sebentar…”Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas). “Bagaimana ceritanya?” Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىغَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١﴾

“Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”(QS: Thaha 17-21)

“Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jam’iyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kyai Kholil kepada saya.”Inilah rencana mendirikan Jam’iyah Ulama. Belum ada Nahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah mendengar kabar berdirinya Jam’iyah Ulama. Saya tidak mengerti. Setelah itu saya mau pulang. “Mau pulang kamu?” “Ya, Kyai.” “Cukup uang sakunya?”“Cukup, Kyai.” “Saya cukup didoakan saja, Kyai.” “Ya, mari. Haturkan sama Kyai Kholil, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jam’iyah Ulama akan diteruskan.” Inilah asalnya Jam’iyatul Ulama.

Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil: “As’ad, ke sini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?” “Tidak, Kyai.” “Hasyim Asy’ari?” “Ya, Kyai.” “Di mana rumahnya.” “Tebuireng.”“Dari mana asalnya?” “Dari Keras (Jombang). Putranya Kyai Asy’ari Keras.” “Ya, benar. Di mana Keras?” “Di baratnya Seblak.” “Ya, kok tahu kamu?” “Ya, Kyai.” “Ini tasbih antarkan.” “Ya, Kyai.”Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya. Terus, pagi hari Kyai keluar dari Langgar: “Ke sini, makan dulu!” “Tidak, Kyai. Sudah minum wedang dan jajan,”“Dari mana kamu dapat?” “Saya beli di jalan, Kyai” “Jangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?” “Ya, Kyai.” Saya makan di jalan dimarahi oleh Syaikhona Kholil. Santri kok menjual harga dirinya? 

Akhirnya saya ditanya: “Cukup itu?” “Cukup, Kyai.” “Tidak!”Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi. Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya: “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.” Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir.“Ini.” Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya. “Kok leher?” “Ya, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh.” “Ya, kalau begitu.” Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. 

Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu: “Ini orang yang megang tongkat itu? Wah.. Hadza majnun.” Ada yang bilang “wali”, ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kyai Hasyim. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena amanatnya Kyai Kholil. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya. Ada yang narik: “Karcis! karcis!” Saya tidak ditanya. Saya pikir ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas keramatnya Kyai. Jadi Auliya’ itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin. 

Setelah lama berjalan, akhirnya saya sampai di Tebuireng, Kyai (Hasyim) bertanya: “Apa itu?”“Saya mengantarkan tasbih.” “Masya Allah, Masya Allah(jawab Kyai Hasyim). Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?” “Ini, Kyai.” (dengan menjulurkan leher). “Lho?”“Ini, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai Kholil ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su’ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk Anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik Anda.”Kemudian diambil oleh Kyai: “Apa kata Kyai?” “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.” “Siapa yang berani pada NU akan hancur. Siapa yang berani pada ulama’ akan hancur.” Ini dawuhnya.Pada tahun 1925, Kyai Kholil wafat tanggal 29 Ramadhan.

Akhirnya pada tahun 1926 bulan 16 Rajab diresmikan Jam’iyatul Ulama. Ini sudah dibuat, organisasi sudah disusun. Termasuk yang menyusun adalah Kyai Ahmad Dahlan dari Nganjuk( bukan Kyai Ahmad Dahlan Muhammaddiyah), yang membuat anggaran dasar. Kemudian para ulama sidang lagi untuk mengutus kepada Gubernur Jenderal. Ya, seperti itulah yang dapat saya ceritakan, tutup Kyai As’ada dalam Mauidzoh Hasanah tersebut.

Paparan cerita di atas banyak memuat nilai-nilai luhur akhlaq dan keteladanan yang bisa kita amalkan dalam berkhidmad kepada NU. Diantaranya: keteladanan patuh pada Kyai dan Ulama’ bukan patuh dan taat pada kecenderungan hawa nafsu belaka, tapi ketaatan dan kepatuhan untuk mendekatkan diri pada Allah.

Ketidak yakinan pada NU bukan karena NU nya yang salah, tapi karena oknum yang berusaha melemahkan NU entah dilakukan secara sadar atau tidak sadar. 

Bahkan, Jika ada yang bilang” gak NU NU an, sing penting Islam, ini kalimat dan pemahaman yang salah. NU lahir bukan hanya membuat wadah berkumpul, tapi NU lahir untuk menyelamatkan Ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah yang saat itu, mau diberangus dan dihabiskan oleh Raja Ibnu Saud di Saudi Arabiah, dan NU Lahir untuk mewujudkan Kemerdekaan Indonesia. Perlu dicatat bahwa Masyumi, Muhammaddiyah dan organisasi berprinsip membawa pembaharuan Islam, setuju dan mendukung langkah Ibnu Saud Saat itu yang ingin mengganti amaliyah keagamaan yang mengikuti Empat Madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) dengan faham Wahabi. Hanya NU organisasi yang secara tegas menyatakan keberatan dan melawan keputusan Ibnu Saud. 

Bayangkan saja jika saat itu tidak ada NU yang secara tegas menyatakan keberatan pada sikap Ibnu Saud, maka pastilah tidak ada adzan dan tadarus melalui speaker mushola dan masjid(mikrophon/corong), tidak akan ada ziarah kubur dan wasilah karena semuanya dianggap bid’ah oleh mereka yang mengatas namakan kelompok pembaharu yangbsebenarnya adalah Neo Kwarij. 

Betapa hampa dan kakunya perilaku beragama, jika Allah menghendaki dan mewujudkan gagasan Kelompok Ibnu Saud yang mau mengganti amaliyah model 4 Madzhab dengan Wahhabi.

Memang benar jika KH R. mas Alwi beralasan tidak semua ulama’ punya jiwa Nahdhah (bangkit). Buktinya ada juga kok Kyai Pondok yang bilang, gak usah melu NU penting amaliyahe lak podho. Coba kita mikir sebentar” kira-kira ngalim mana ilmu kita jika dibanding dengan Mbah Hasyim, Mbah Wahab, Mbah Bisri, Mbah Ridwan Abdullah, Mbah Raden Asnawi Kudus, Mbah Raden Mas Alwie, juga tentang keaswajaannya? 

Mereka Alim, dan Ngopeni Santri, tapi tetap berorganisasi Nahdhatul Ulama’. Lha kita? Belum apa-apa sudah berani menghujat dan menyombongkan diri dengan kalimat” aku kan dudu NU meneh saiki” atau kalimat”wis ra NU NU an penting Islam”. Sadar diri dan membuka wawasan berjama’ah dan Jam’iyyah menjadi sebuah keharusan agar kita selamat dalam menghadapi fitnah akhir zaman.

Disarikan dari buku “Pertumbuhan dan Perkembangan NU dan buku Kisah Ulama’ Berjuang Mengawal Bangsa keduanya karya Chairul Anam” dan buku “NU dan Bangsa 1914-2010 Pergulatan Politik Kebangsaan” karya Nur Kholik Ridwan.

Penulis adalah salah satu Pimpinan di Media online Lakpesdam Tulungagung dan Dosen Muda di STAI Diponegoro Tulungagung.