Mendengar tutur pengetahuan diluar teks dan dunia akademik memang sering saya lakukan. Sebagai wujud kesadaran bahwa dimana pun dan kapan pun kita bisa belajar. Kesan beda ketika hal yang kita dengarkan adalah yang setiap hari kita lakoni tapi dalam perspektif beda. Misalnya mensyukuri nikmat Allah SWT, paling sering yang ucapan hamdalah dan sedikit shodaqoh. Sementara perspektif salah satu teman yang berprifesi sebagai enterprenuer, wujud syukur adalah perasaan aman dan nyaman mengingat Allah SWT dimana pun, kapan pun, situasi apa pun, dan dengan siapa pun.

Kalimat sederhana tapi sulit menerapkan dalam kontinyuitas panjang. Masalahnya dimensi yang diambil dalam kalimat tersebut adalah makro dengan ukuran yang hanya kita dan Allah SWT yang tahu. Kalau sekedar nyaman, semua orang bisa. Tapi kalau nyaman dan selalu mengingat Allah SWT sebagai tuhan maha segalanya. Hal inilah yang sulit tanpa belajar dan mencoba.

Terasa aneh juga ketika diskusi membahas bagaimana berjejaring dalam lingkup kebersamaan atau jama’ah. Pondasi kita sebagai landasan berfikir jelas berbeda, sementara saya adalah akademisi yang juga bergaul dengan jama’ah dan dan jam’iyyah, sementara teman enterprenuer hanya tahu sebatas jama’ah adalah jama’ yang lebih dari tiga orang. Tapi itulah dinamika diskusi kita selalu enjoy dalam sela-sela rutinitas harian.

Prinsipnya, kita harus memulai untuk bergerak baik di dunia nyata, maupun dunia maya, serta tidak lupa dengan akar pijak kita sehingga jika ada turbulance, tidak terjadi masuk angin atau limbung lupa daratan atau justru menjadi lupa diri dengan menjadi orang congkak dan pongah.

Apa pun posisinya, kita wajib saling menghormati. Menghargai perbedaan sebagai khazanah kebangsaan. Perbedaan pandangan pemikiran menunjukkan bahwa masih banyak hal yang harus kita pelajari dan harus kita mulai dan lakukan, serya tidak memaksakan kehendak kepada banyak pihak.

Jikalau nanti pun berhasil dan berubah, jangan lupa darimana asalmu, jikalau gagal dan jatuh, jangan lupa waktu bangkit kita masih ada. Jangan lupa diri karena sanjungan, pun jangan hina diri karena hujatan dan cemo’ohan. Karena hidup itu harus tahu “sangkan paraning dumadi” (harus tahu darimana berasal dan kemana akan kembali) atau Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun, segalanya berasal dari Allah, dan akan kembali kepadaNya.

Memahami “sangkan paraning dumadi” bukanlah perkara ringan, karena kita perlu menata dimensi rohani yang tak kelihatan tapi ada. Semangat tetap diperlukan dalam rangka menjaga keistikomahan dalam mencari keberkahan hidup. Karena logika dan ilmu, tidak akan menyentuh makna kehidupan manakala keberkahan hidup tidak kita dapatkan. Kita harus ingat bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang memiliki guna manfaat bagi manusia lainya.