Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata-kata yang mengalami distorsi(pergeseran) makna. Baik pergeseran makna meluas ataupun menyempit. Misalnya kata “Madrasah” dahulu dimaknai “Sekolah”, sekarang Madrasah berubah makna lebih sempit menjadi “Sekolah Islam”. Kata “guru” dahulu punya makna “orang yg mengajari pengetahuan” sekarang berubah makna menjadi “pengajar di sekolah”. Soalnya dahulu ada guru nembang, guru menari, guru kanuragan, guru thoriqoh dll, sekarang ketika mendengar kalimat guru, maka asumsi mayoritas mengarah pada guru yang mengajar di sekolah.

Demikian juga makna “Ulama'”; sejak adanya pilkada Jakarta tahun ini, kata Ulama’ mulai mengalami pergeseran makna. Kalau dulu Ulama’ adalah ahlul ilmi, ibadah, wira’i dan memiliki santri, ya paling tidak syarat dibawah ini terpenuhi:

1. Menguasai berbagai bidang Ilmu agama seperti Nahwu, Shorof, Balaghah, Fiqh, Ushul Fiqh dll. Kedalaman ilmu para ulama’ tidak terkira dengan sanad yang runtut dan nasab yang dapat dipertanggung jawabkan. Para ulama’ umumnya mendapatkan keilmuan dengan cara mondok dan ngaji bertahun-tahun untuk mendalami kajian kitab klasik atau pun belajar akhlaq langsung kepada Mbah guru mereka. Sehingga mereka bukan karbitan yang kagetan saat melihat fenomena baru.

2. Tawadhu’ atau rendah hati, tidak teriak-teriak mengatakan bahwa dia adalah ulama’ bahkan cenderung menyembunyikan ke aliman dan ke ulama’annya, bahkan selalu merasa tidak layak disebut sebagai ulama’. Suatu contoh ketika Syaikhona Kholil Bangkalan nyantri ke Mbah Hasyim, padahal mbah Hasyim adalah Santri Syaikhona Kholil sebelumnya. Tapi hal tersebut dilakoni tanpa menghilangkan tawadu’ dari keduannya.

3. Bisa dipercaya, gelar ulama’ yang disandangkan kepada para ulama’ salaf bukanlah tanpa sebab, beliau-beliau digelari ulama’ karena kemampuan dan kedalaman ilmunya, bukan pula karena harta sehingga dari kepercayaan inilah lahir predikat ulama’. tidak membuat dan menyebarkan berita hoax atau fitnah.

4. Ceramah dan khotbahnya selalu menyejukkan bagi siapa saja yang mendengarnya. Bukan ceramah obralan tiket surga, bukan pula ceramah berisi umpatan atau mendoakan kejelekan orang lain. Bukan pula sumpah serapah menghujat dan melaknat, bukan pula ceramah berisi hasutan dalam bungkus dakwah.

5. Tidak suka demonstrasi. Mengapa para ulama’ tidak suka demonstrai karena memang bukan ajaran kanjeng Nabi. Para ulama’ andaikan punya masalah, mereka bermusyawarah, trus sambatnya lewat istighosah. Bukan lewat parlemen jalanan.

Ciri-ciri di atas bisa kita temukan pada sosok para Waliyulloh, dan Mayoritas ulama’ Nusantara seperti Mbah Kholil Bangkalan, Hadratus syekh Hasyim Asy’ary, Gus Mus, Gus Dur, Kyai Hamid Pasuruan, Mbah Wahab, Kyai As’ad Syamsul Arifin dan Ulama’ lainnya.

Berbeda dengan fenomena akhir-akhir ini, ada yang ngaku dan menyematkan predikat Ulama’ tapi basic pengetahuan, sanad keilmuan, dan akhlaqnya, jauh dari proyeksi seorang alim, apalagi ulama’. Mereka menggiring opini dan pendapat masyarakat agar keyakinan pada mereka benar-benar haqqul yakin sebagai ulama’, yang ketika nantinya para ulama’ settingan ini berkomentar, mereka diamini dan diimani. 

Bahkan jika di klasifikasikan, untuk menjadi ulama’ settingan akhir zaman, tidak perlu modal ilmu Nahwu, Shorof, Balaghah, Mantiq, Tafsir, Hadist, Tasawuf, dll. Mereka si Ulama’ settingan ini hanya dengan syarat:

1. Tidak perlu menguasai berbagai bidang ilmu, asal sudah jadi pengurus teras organisasi keagamaan, pakai jubah dan sorban serta selalu teriak “ALLAHU AKBAR” maka otomatis akan disebut ulama.

2. Teriak-teriak menyampaikan “KAMI ADALAH ULAMA” biar ummat dan aparat hormat. Jika terkena kasus pidana maka ummat harus tahu bahwa ulama telah dikriminalisasi. Mereka bikin tagar #saveulama’.

3. Tidak peduli mau itu berita HOAX ataupun fitnah tetap saja disebarkan dengan massif biar dianggap sebagai sebuah kebenaran oleh ummat.

4. Ceramah dan khotbahnya selalu menyuarakan kebencian dan perpecahan, memprovokasi umat agar membenci pemimpinnya dan bersiap revolusi, menuding yang lain sebagai munafiq, fasik bahkan murtad, penuh dengan caci maki sambil bertakbir.

5. Mengajak ummat untuk setiap saat melakukan demonstrasi sambil menjanjikan pahala dan surga.

Nah sudah jelas bahwa definisi ulama kita dengan mereka berbeda. Jadi silahkan tentukan orang yang dianggap sebagai ulama seperti definisi masing-masing. Ulama pilihan kita lah yang akan membawa kita selamat di dunia & akhirat nanti, yang akan mengajak berkumpul di bawah bendera Rosulullah Muhammad SAW atau bukan. 

Selama ini banyak yang teriak “jangan kriminalisasi ulama kami”, saya jadi mikir apa benar “ulama’ yang dikriminalkan atau malah sebaliknya kriminal yang diulamakan”. He he he….selamat mengerningkan jidad.