Pergulatan pikiran dan batin lazim dialami oleh siapa pun ketika dihadapkan pada sebuah pilihan. Tak terkecuali, peristiwa serupa juga dialami oleh KH. Wachid Hasyim yang pada tahun 1934 merupakan tokoh muda yang tidak hanya dihitung tapi juga diperhitungkan oleh kawan dan lawan saat itu. Pergulatan batin ini di dasari pada pertimbangan pribadi saat melihat Partai A kurang mantap, Kelompok B kurang pengaruh, Partai C pimpinannya tidak jujur, Partai D anggotanya kurang terpelajar, Perhimpunan E gagasanya kurang briliant dan seribu alasan lainnya.

Saat itu, KH. Wachid Hasyim muda, baru saja datang dari luar negeri yang langsung disambut dengan permintaan dan ajakan untuk bergabung pada partai atau perhimpunan yang ada, termasuk NU yang ayahanda beliau adalah muasisnya. Tapi ajakan dan tawaran tersebut baru bisa diputuskan dengan mantap setelah menimbang dengan segala konsekwensi yang siap dilaksanakan kurang lebih dalam waktu 4 tahun. 

Sembari saya memutuskan kemana jodoh hati, apakah masuk ke partai atau perhimpunan yang ada, maka saya berusaha mentatbik/Tupassen (menguji) teori-teori yang saya dapat, kedalam praktik nyata dengan mendirikan “Ikatan Pelajar Islam” dengan tujuan sebagai kawah penggemblengan puluhan pemuda Islam dalam hal pemikiran, gagasan dan kebangsaan. 

Uraian cerita di atas disampaikan oleh KH.Wachid Hasyim saat berpidato di Indramayu dihadapan organisasi “Gerakan Pendidikan Politik Muslimin Indonesia” yang sengaja dibentuk untuk menambah pengetahuan dalam lapangan politik dan kepartaian para pemuda Muslim saat itu. Cerita ini juga dimuat di dalam risalah stensil NU Cabang Jakarta.

Alasan apa saja yang dijadikan KH. Wachid Hasyim sehingga membutuhkan waktu sebegitu lama untuk masuk menjadi bagian NU, padahal secara garis keturunan jelas bahwa beliau adalah putra dari Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari. Tetapi di dalam masa menimbang menjatuhkan pilihan tersebut, ada sisi perjuangan yang dilakukan oleh beliau dengan mendirikan “Ikatan Pelajar Islam”. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa KH. Wachid Hasyim memang matang dari sisi pertimbangan dan konsep. Tanpa kematangan konsep tidak mungkin di dalam kebimbangan justru menelorkan organisasi ditingkat kader.

Dari beberapa literatur yang kami baca, setidaknya ada empat alasan yang menjadi pertimbangan KH. Wachid Hasyim sehingga beliau butuh 4 tahun menimbang dan akhirnya menjatuhkan pilihan dan memilih jodoh organisasi. Adapun 4 alasan pertimbangan menentukan pilihan adalah:

Pertama KH. Wachid Hasyim menimbang dengan indikator “keradikalan (ketangkasan dan kecepatan) untuk memilih”. Menurut penilaian KH. Wachid Hasyim, indikator tersebut tidak di dapat pada NU, karena saat itu NU adalah perhimpunan para tokoh sepuh, lambat, tidak terasa, tidak revolusione. Akan tetapi hal yang menjadi fakta yang tak bisa dibantah adalah “ketika organisasi-organisasi pemuda Islam digerakkan dalam waktu 10 tahun baru bisa membuat cabang sekitar 20 tempat dan letaknya berdekatan. Sedangkan NU dalam waktu yang sama, sudah mampu menjalar di 60% wilayah Nusantara. Ternyata yang terpenting dalam pejuangan bukan “kegagahan dalam berjuang” tetapi hasil dari perjuangan itu sendiri.

Kedua, KH Wachid Hasyim memandang dari sisi banyaknya kaum terpelajar di dalam sebuah organisasi yang beliau pilih. Pada kisaran 1934- 1938 NU memang minim kaum terpelajar, bahkan untuk mencari kaum terpelajar di NU saat itu ibarat mencar penjual Es pada pukul 01:00. Tapi fakta yang terjadi adalah: “banyaknya kaum terpelajar(intelektual) di dalam organisasi atau partai menjadi maju, sebab yang menjadikan maju mundurnya organisasi bukan hanya kemampuan otak semata, melainkan “mentalitas”. Banyak organisasi atau partai-partai penuh dengan kaum terpelajar dan intelektual, tapi mentalitasnya tidak bersinergi dengan intelektualnya, maka tenaga organisasi hanya terkuras untuk pergolakan ke dalam. Sebaliknya partai atau organisasi yang rapi semisal PKI, walaupun tidak punya banyak anggota terpelajar tinggi, tapi organisasi tetap kokoh dan lancar. Jadi kekosongan dan kekurangan NU dari kaum terpelajar, tidaklah menjadi ukuran maju dan mundurnya organisasi NU. Tetapi mentalitas untuk satu komando dan satu barisan mengikuti barisan ulama’ justru menjadikan organisasi NU tertata dan kokoh.

Ketiga, ada semacam rasa berat dan enggan bagi para pemuda untuk masuk menjadi bagian NU, karena NU terlalu”Streng”, terlampau “keras” di dalam tuntunan (esainya) pada anggotanya, khususnya mengenai tatanan kewajiban-kewajiban agama. Tiap-tiap anggota NU harus beres Sembahyangnya, Jum’atannya, puasanya, zakatnya, Tarawihnya juga 23, Tahlil, Ziarah dan lain-lain. NU dalam hal “privat” para anggotanya memiliki standar yang ketat dan tegas. Di dalam organisasi NU jika masalah privat beragama ini dilanggar, akan ditegur para ulama’ atau dipandang kurang sedap oleh para ulama’ bahkan di dalam AD/ART NU disebutkan ancaman pemecatan bagi anggota yang tidak dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya menurut ajaran Islam. Memang tuntutan yang “Streng” dan “keras” pada anggotanya ini, sering dirasakan orang luar sebagai hal yang menakutkan dan menghalangi untuk bergabung dengan NU. Akan tetapi, bagi orang-orang yang menginginkan kemajuan Islam kebangunan Syari’at, maka tuntunan dan tuntutan NU yang “Streng” dan “keras” ini justru menjadi pendorong untuk masuk. Dan bagi yang sudah berada di dalam NU, tuntunan dan tuntutan tersebut adalah sebagai bentuk dan batas ujian menjaga dinamika beragama agar tetap terawat.

Di dalam organisasi atau partai yang mempunyai penjaringan dan ujian, memang dalam tingkat awal gerak hidup organisasi, tidak mungkin mempunyai anggota yang banyak, karena dirasa berat oleh calon anggotanya. Tetapi setelah berjalan beberapa lama, pasti terdapat di dalamnya suasana harmonis dan persaudaraan yang tidak terdapat pada organisasi murahan dalam menerima anggota. Dan dengan sendirinya organisasi atau partai akan kuat, bahkan mampu menarik orang luar untuk bergabung. Karena kehidupan organisasi dan partai sangat dipengaruhi hukum “kuat” sebagai penariknya. Sehingga yang kuat akan dicari dan yang lemah akan ditinggalkan.

Keempat, ialah faktor ulama’ yang di dalam NU seolah-olah memonopoli organisasi, sedangkan pandangan beliau-beliau pasti didasarkan pada pendapat ulama’ terdahulu di dalam kitab dan lieratur Islam. Oleh karena demikian, kemerdekaan bergeraknya organisasi tentu terhalang oleh pandangan dan pendapat para ulama’ yang dianggap “kolot”. Begitulah anggapan orang luar. 

Akan tetapi bagi orang yang bersungguh-sungguh akan terdapatlah kenyataan bahwa di dalam NU kedudukan para ulama’ itu tidak lebih dari anggota-anggota biasa,  bukan memonopoli organisasi. Beliau-beliau para ulama’ adalah penjaga ajaran Islam, jangan sampai dilanggar atau diterjang. Kalau bukan para Ulama’, sapa lagi yang sudi mengingatkan dan menegur para anggota organisasi?.

Di dalam menjaga tradisi dan ajaran agama Islam, beliau para ulama’ tidaklah “beku” dan “jumud”, tetapi senantiasa dapat mengikuti dan menyesuaikan diri dengan perkembangan-perkembangan keadaan dengan catatan” tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam.

Dari empat hal di atas KH. Wachid Hasyim menyimpulkan bahwa “NU” adalah Organisasi yang memberi kemungkinan banyak bagi kebangkitan umat Islam di Indonesia. Faktor-faktor di dalamnya yang pada awalnya beliau anggap sebagai “rintangan” untuk maju, malah sebaliknya dan justru menjadi faktor pembawa kemajuan. Kalimat penutup KH. Wachid Hasyim dari analisa dan pertimbangan di atas adalah “Sejak 1938, saya menjadi anggota NU, setelah berpikir selama empat tahun lamanya, terlepas dari pengaruh perasaan, sentimen dan keturunan”.

Disarikan dari buku: “Mengapa Saya Memilih NU”, dan “NU Pergulatan Politik dan Bangsa”. Penulis adalah Salah Satu Pimpinan Media Lakpesdam Tulungagung dan Dosen Muda STAI Diponegoro Tulungagung.