Sejarah memang berisi kejadian pahit, getir, manis, dan selaksa rasa di dalamnya. Tapi sejarah adalah fakta yang pernah terjadi dan patut dijadikan pelajaran. Inti sarinya yang baik diambil dan yang buruk dijadikan pertanda untuk tidak terulang kejadian yang sama ditahun yang beda.

Sejak NU keluar dari Masyumi tahun 1952, fitnahan, cacian, dan makian massif dilakukan oleh tokoh-tokoh Masyumi. NU difitnah memecah belah umat Islam, kiai-kiai NU dituduh antek PKI, dan serangan-serangan fitnah lainnya. Bahkan sampai ada yang mengatakan bahwa jika mbah Wahab Chasbullah kepalanya dibuka, maka isinya pasti palu arit. Jadi, apa yang terjadi pada Banser hari ini, difitnah membakar bendera tauhid, adalah model propaganda dalam rangka melemahkan NU dan menghancurkan NU.

Buktinya mana? Buktinya betapa pun penjelasan tentang fakta bahwa pembawa bendera sudah menyebut bahwa yang dibawanya adalah bendera HTI dan disuruh untuk membuat kisruh acara hari santri di Garut, mereka akan selalu menolak dan menafikan apa pun keterangan dari Banser, Ansor, dan NU. Meskipun fakta juga menunjukkan bahwa kelompok yang mereka koordinir pada aksi bela tahuhid, justru menginjak-injak bendera sablonan mereka, membuangnya diselokan, mendudukinya dan perlakuan yang sejatinya bukan memulyakan, tapi melecehkan. Intinya apa pun boleh dilakukan, asal bukan Banser atau NU.

Apakah hal ini aneh? Bagi NU, hal tersebut adalah sejarah yang berulang. Tahun 1957 tokoh-tokoh Masyumi mempelopori Muktamar Alim Ulama di Palembang, yang menghasilkan keputusan menolak kepemimpinan Bung Karno dan pengkafiran membabi buta kepada personal atau kelompok umat Islam yang mendukung kebijakan Bung Karno, Nasakom (NU saat itu tergabung dalam koalisi Nasakom).

Mayoritas ulama tidak setuju dengan Muktamar Alim Ulama di Palembang tersebut. Salah satunya dari ulama Jakarta, yang dipelopori oleh Habib Salim Jindan (kakek Habib Jindan dan Habib Ahmad) dan KH. Hasbiyallah Klender. Mereka mengecam pengkafiran yang serampangan tersebut dan menyatakan bahwa kabinet yang dibentuk oleh Bung Karno secara syar’i adalah sah.

Bung Karno berang. Puncaknya, tanggal 13 September 1960 Masyumi dibubarkan oleh Pemerintah. Setelah itu tokoh-tokoh Masyumi terlibat dalam pemberontakan PRRI/Permesta di Sumatera Barat.

Gencarnya isu PKI, Politisasi agama, gerakan ganti presiden, dimotori Partai Islam yang se-ideologi dengan Masyumi, hoaks kepada pemerintah, serangan membabi buta, caci maki pada tokoh-tokoh NU, serta Ijtima Ulama yang dibuat oleh GNPF ulama kemarin, mirip sekali dengan Muktamar Alim Ulama Palembang 1957.

Apakah sejarah akan kembali terulang?

HTI telah bubar. Mungkinkah ada lagi yang akan bubar karena menyerang NU?
“akeh wong kualat karo NU.. ” kata Habib Lutfi bin Yahya. Faktor X di NU yang tidak dimiliki oleh organisasi lain dan tidak diketahui oleh banyak kalangan.

Jika mbah Ridwan Abdullah sang pelukis logo NU pernah berpesan pada anak cucunya dengan kalimat “NU adalah organisasi yang di ridhoi Allah SWT, jangan sekali-kali keluar dari NU”. Mbah Bisri juga demikian, di gapura depan pondok Denanyar Jombang bertuliskan kaligrafi dan artinya sebagai berikut: Aku adalah pengikut NU, jika aku meninggal dunia, maka wasiatku kepada masyarakat agar tidak keluar dari NU”. Maka patut untuk direnungkan bahwa Hizb Ya Jabbar memiliki implikasi kedalam dan keluar (barang siapa yang berkhidmad pada NU, dia akan mulia dan barang siapa yang berkhianat pada NU, dia akan celaka), sedangkan Ya Qohhar berimplikasi keluar (barang siapa yang memusuhi NU, dia akan hancur.

Janganlah engkau berpikiran dan berprasangka bahwa mereka para Syuhada’ dan para kekasih Allah yang sudah wafat dengan mendahului kita yang masih di dunia, mereka juga benar-benar mati selamanya. yaqinlah sejatinya beliau-beliau para Syuhada’, para Wali Allah masih hidup dan melihat apa yang kita perbuat. Sebagaimana yang termaktub di dalam Q:S Ali Imron ayat 169,
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (169)

Hari ini, musuh-musuh bangsa sudah mengarahkan corong meriamnya kepada NU, mereka tak akan bisa menguasai Indonesia, melemahkan Indonesia dan memecah belah Indonesia selama NU masih kuat. Mereka tahu, bahwa hancurkan NU lebih dahulu, maka hancurkan Indonesia kemudian untuk dikuasai dan dibagi-bagi.

Jika dahulu saat Namrud membakar nabi Ibrahim ada seekor burung emprit yang mencipratkan air kearah api yang membakar Nabi Ibrahim dengan cara mengepakkan sayapnya yang mungil, dan kejadian tersebut dilihat dan dikomentari oleh burung lainnya seraya berucap dan mengejek si emprit ” apa yang kau lakukan itu, tak mungkin bisa menyelamatkan Nabi Ibrahim wahai burung kecil”, tapi Si emprit dengan tenang menjawab “Apa yang aku lakukan setidaknya menunjukkan aku diposisi yang mana aku berpihak”.

Jelas bahwa berada dipihak bersama NU atau pihak yang menjadi penghancur NU, bagi saya sangat penting. Ingin Indonesia kuat, maka Kuatkan NU dahulu. Inilah yang saya sebut sebagai kesadaran subtansial terhadap tutur dan tulisan berkhidmah kepada NU.
#KitaSamaIndonesia
#BersamaNKRI
#BersamaNU