“Tunjukkan semangatmu kepada pasukanmu. Berikan yang terbaik kepada satuanmu. Demi melindungi ajaran Aswaja. Demi cinta kita pada Indonesia. Kami Ansor NU pasukan pilihan, NKRI harga mati. Ansor…Ansor…Ansor…Ansor…Ansor…Ansor NU…Ansor NU…Ansor NU…Ho…HO.”

Terdengar gemuruh lagu penyemangat pasukan di setiap sesion Pelatihan Kader Lanjutan Dosen Muda Se Indonesia angkatan I yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat GP Ansor pada Tanggal 30 Maret sampai 2 April 2017 di IAIN Tulungagung.

PKL Dosen Muda Ansor, sebuah sebutan pemilihan kata yang super jenius. Sangat istimewa susunan kata yang dipilih untuk menyebut acara ini. Sistem kaderisasi dengan sasaran intelektual produktif yang dimiliki Ansor, ya….ini tidak akan ada jika para penyelenggara bukan “Maestro Manajemen Organisasi”. Ada 4 unsur yang digabung dalam pemilihan kata untuk acara ini, pertama unsur kegiatan kaderisasi yang berarti penyiapan kader sebagai upaya penerus estafet organisasi, apalagi kaderisasi ini adalah tingkat lanjutan yang memiliki pemahaman kader yang telah melewati proses kader dasar, kedua unsur dosen, sebagai perwakilan kelompok akademisi, yang tentunya secara syarat akademik minimal adalah lulusan pasca sarjana, unsur ketiga muda, menunjukkan usia produktif yang memiliki kesempatan cukup panjang untuk berkhidmah kepada organisasi, dan yang ke empat unsur Ansor sebagai penegasan identitas organisasi yang selama ini dikenal dengan slogan “Benteng Ulama'”, atau bisa disebut generasi muda yang nantinya melanjutkan perjuangan berorganisasi di NU. Penggabungan empat unsur inilah yang saya sebut super jenius. Karena secara manajerial kegiatan PKL Dosen Muda Ansor mampu membidik kebutuhan penataan kader kedepan, dan secara out put pastilah berbeda kualitas karena peserta yang ikut adalah dosen muda. Tinggal bagaimana merawat dan menjaga spirit kader dalam kebersamaan di dalam rumah besar Ansor NU.

Peserta kegiatana ini berjumlah 134 dengan rincian 70 adalah Doktor, 30 kandidat Doktor, yang lainnya masih mau akan S3. Kenapa saya sebut mau akan S3, karena begitu sesi materi yang diisi Sekjen PP Ansor Sahabat Adung Abdul Rahman selesai, para peserta yang belum proses S3 langsung menyerbu Adung dengan pertanyaan” bagaimana jaringan kuliah ke luar negeri mas?”. Dengan cakap sekjen mampu menampung dan menjelaskan pertanyaan peserta sembari ngobrol berjalan menuju tangga turun dari lokasi auditorium yang dipakai untuk kelas PKL. Terkesan minat yang besar dari para dosen yang belum S3 ini untuk melanjutkan studi.

Lebih asik lagi saat pagi sesi olah raga, para dosen muda yang biasanya berada di depan mahasiswa dan di belakang meja, harus mengikuti aba-aba instruktur olah raga “Banser Senior” yang disiapkan PP Ansor. Tak jarang gelak tawa mewarnai kegiatan olah raga pagi, kadang karena ada yang terlambat datang trus dihukum untuk push up, terkadang ada peserta yang berlawanan arah dengan aba-aba instruktur misalnya”instruktur memberi aba-aba hadap kanan, eee peserta ada yang balik kanan”. Ya…begitulah riuh ramai mewarnai sesi olah raga.

Melihat susunan acara kegiatan, aspek garapan PKL Dosen Muda Ansor dapat dibedakan menjadi 3 aspek,yaitu: aspek pikir, garapan kecerdasan pikir ini dapat kita lihat dari sesi kelas yang berisi materi mengasah kecerdasan berpikir dan tentunya membuka cakrawala pengetahuan baru, yang kedua aspek rohani, ini dapat kita lihat dari kegiatan mujahadah yang diisi dengan qiyamul lail, sehingga bathiniyah peserta juga digarap dalam pengkaderan ini, dan yang ketiga aspek jasmani, melalui olah raga pagi, jasmani peserta juga digarap sehingga jika disimpulkan, setelah mengikuti seluruh sesi PKL, para dosen muda Ansor mampu berpikir jernih, berbadan sehat dan memiliki ruhani yang religius dalam berkhidmah kepada Ansor NU.

Dalam sesi penutupan beberapa Instruktur menyampaikan sensasi menjadi Instruktur di depan para dosen muda, awalnya mereka canggung dan agak minder karena instruktur berpikir” ini kan dosen muda, bagaimana bisa matching dengan materi dan model pengkaderan ala Banser?” ternyata diluar dugaan,justru gaya Banser inilah yang menjadikan antusias peserta dalam mengikuti seluruh rangkaian Pendidikan Kader Lanjutan Dosen Muda sampai selesai.

Kisah lain yang tak terlupakan adalah adanya peserta yang terserang “TOM CAT” jenis serangga yang kebetulan banyak terdapat di ruang V penginapan milik peserta, bahkan ada guyonan” peserta PKL Dosen Muda se Indonesia diserang oleh sekawanan HTI yang mengakibatkan korban dipihak peserta PKL dengan mrempul di wajah dan meriang, selang beberapa jam, giliran kawanan HTI ganti dibakar dan dihabisi oleh peserta PKL dan musnah. Ketahuilah HTI yang dimaksud adalah” Hizbut Tom cat IAIN”.

Inti dari kesan penulis sebagai peserta adalah”Salah Besar jika menganggap Ansor Banser Tradisional” keilmuan dan pengetahuan mereka yang menjadi Instruktur Nasional mampu dan matching dengan mereka yang baground akademisnya sudah tamat S3. Semangat berorganisasi dan menjaga NKRI jugs tak perlu dipertanyakan, Oleh karenanya jika selama ini kami diam itu karena kami ngalah dan ngalih pada saatnya, jika kami terusik, jangan salahkan, jika kami pun “ngamuk”.