Setiap 21 April bangsa Indonesia akan terkenang terhadap sosok perempuan dalam gambar-gambar dengan berkonde dan berkebayak ala Jawa yang biasa disebut dengan nama Kartini. Nama fenomenal dalam sejarah perjuangan perempuan di Indonesia. 

Sampai pada lagu Nasional, nama Kartini terabadikan dengan predikat “Ibu Kita, Pejuang Bangsa, Pejuang Untuk Kaumnya, Pejuang yang Harum namanya”. Melihat predikat yang disandangkan pada Kartini, pastilah proses perjuangan yang dilakukan oleh Kartini dalam membela kepentingan masyarakat khususnya kaum perempuan sangat luar biasa. Karena tidak mungkin orang yang tanpa modal perjuangan yang gigih akan dipredikati segudang predikat yang mentereng.

Tapi tahukah anda bahwa apa nilai-nilai yang kita ambil dari peringatan Kartini setiap tahunnya? Pada masanya, Kartini mampu mengambil peran beda dengan umumnya wanita saat itu yang secara mayoritas tidak berani melawan arus dan menurut dibelakangkan. Kartini berani tampil beda bukan sekedar unjuk popularitas, tapi tampilnya Kartini dengan modal yang cukup secara jaringan, pengetahuan dan modal trah kebangsawanan yang saat itu jadi ukuran nomor satu dalam strata sosial.

Lihat saja biografi Kartini yang secara keilmuan agama merupakan santri dari mbah Sholeh Darat, ulama’ kenamaan dan alim pada masanya. Pada masalah ini sayangnya sejarah tidak memeberikan keterangan detail, seakan Kartini jauh dari nilai keIslaman dan hanya kebangsawanannya dan kesukuan Jawa saja. Bahkan saking kuatnya penanaman ideologi yang akhirnya jadi pengetahuan yang di imani, semua orang di era sekarang ketika 21 April memahami Kartinian adalah kegiatan dandan ala Kartini ke salon tanpa memahami nilai-nilai yang diambil dari Kartini.

Selain itu, nilai yang dapat diteladani dari Kartini adalah kegigihan. Saking gigihnya memperjuangkan kaumnya banyak dari kita menafsirkan bahwa Kartini membela kesamaan hak wanita atau emansipasi wanita. Kegigihan yang dilakukan Kartini adalah dalam rangka mewujudkan tujuannya melakukan perubahan, tanpa kegigihan, tidak mungkin tujuan dapat tercapai karna ini sunatullah dalam hukum kausalitas.

Kegigihan Kartini bukan pembangkangan terhadap orang tua dan keluarga yang secara histori kita baca dalam lembaran sejarah bahwa Kartini melawan keinginan orang tua dan keluarganya yang punya maksud beda terhadap masa depan dan kehidupannya. Dengan kegigihannya Kartini menjelaskan secara santun kepada orang tua dan keluarganya. 

Ini kadang di salah arti oleh anak jaman sekarang, mereka fahamnya perjuangan adalah perlawanan, sehingga sering kita dengar dalih emansipasi atau kesetaraan tapi terjadi perselisihan atau perseteruan dengan keluarga. Mereka mengambil kulit lupa pada isi yang mereka sebut semangat Kartini.

Maka seharusnya Kartini Masa Kini, harus mampu meneladani nilai-nilai yang diajarkan Kartini dalam mencapai tujuan dan cita-citanya melalui perjuangan yang membutuhkan modal pengetahuan( agama maupun umum), jaringan sosial, keberanian, dan target strategi yang terukur.