Sepeninggal Rosulullah Muhammad SAW. Sejarah mencatat dinamika Islam dalam pergolakan pemikiran beragama yang mencatatkan pengalaman berdarah-darah sampai pada lahirnya doktrin, teori, aliran yang berinti pada pola keberagamaan Kanan dan Kiri.

Pemikiran gaya Kanan lazim diasumsikan pada foundamentalisme, tektualisme, dan radikalisme. Sedangkan Kiri, diasosiasikan kepada liberalisme. Kanan dan Kiri bukan sekedar dua sikap yang berbeda tapi juga dua orientasi tafsir yang berlawanan. Di satu pihak, Kanan memanfaatkan Kiri demi kepentingannya dan tak kalah pentingnya ternyata Kiri juga melakukan reinterpretasi terhadap pemikiran Kanan,yang tentunya juga mendukung kepentingan Kiri.

Kanan dan Kiri dalam pemikiran agama adalah kondisi sosial yang menunjukkan adanya dua kelas masyarakat yang masing-masing saling berkelindan dalam melindungi kepentingan dan hak-hak masing-masing dengan menggunakan bangunan teori yang ada pada masyarakat tradisional. Dan bangunan teori yang dimaksud adalah keyakinan agama. Dan ini menunjukkan, Kanan dan Kiri sebenarnya lebih mengarah pada permasalahan praktis ketimbang teoritis, lebih menunjukkan adanya bangunan sosial ketimbang pemikiran.

Golongan minoritas (kelas atas) yang memegang kuasaan dan menguasai sarana produksi, berusaha mengeksploitasi kelompok mayoritas (kelas bawah) dengan memanfaatkan pemikiran agama, yakni dengan menafsirkan agama demi kepentingan dan keuntungan. Sementara disisi lain, kelas bawah juga menggunakan kelas atas dengan senjata yang sama. Sehingga pada posisi ini, agama hanya menjadi obyek tarik menarik dua kepentingan besar “kelompok atas dan bawah, Kanan dan Kiri”. Dari kesimpulan awal inilah mengingatkan kita pada idiom”Agama adalah candu masyarakat dan teriakan orang-orang tertindas”. Pada kejadian di atas, Agama juga bisa disebut sebagai pedang bermata dua yang dapat digunakan oleh dua pihak dengan kepentingan yang berbeda.

Pola keimanan juga tak lepas dari pergolakan dahsyat ini. Iman adalah perbuatan yang pertama kali dilakukan, sama sekali tidak didahului oleh perbuatan lain. Iman bersifat menerima tanpa menolak. Mengambil tanpa memberi. Dan setelah Iman, barulah akal bertugas menjustifikasi dan memahami tanpa mengkritisi sedikit pun. Inilah sikap Kanan.

Orang yang berangkat dengan keimanan sebagai teori pengetahuan, akan lebih cenderung taat pada penguasa. Demikian juga masyarakat yang memulai hidupnya dengan keyakinan-keyakinan tertentu tanpa adanya pergulatan untuk mendiskusikannya, mereka cenderung tenang dan tunduk. Oleh karenanya sistem Kanan berusaha menyebarkan iman dalam pengertian ini sehingga mereka bisa mempertahankan status quo.

Sistem Kanan tidak melakukan pemberantasan buta huruf dengan mengembangkan sistem pengajaran. Yang dilakukan Kanan adalah membangun masjid, memeriahkan seremonial hari-hari besar, mendukung kelompok-kelompok Sufi, memperbanyak acara keagamaan di media yang kesemuanya tidak didasarkan pada keyakinan dan kebenaran agama, melainkan pada kamuflase doktrinal.

Sedangkan Kelompok Kiri, menjadikan teori pengetahuan berangkat dari akal, bukan dari Iman. Bagi kelompok Kiri, berpikir adalah kewajiban agama yang harus dilakukan pertama kali sebelum Iman. Bagi Idiologi Kiri, satu bentuk penerimaan sebelum Iman sebagai kandungan (Allah, Malaikat, Kitab, Rosul, dan hari Akhir) dan sebelum Iman sebagai syi’ar dan ritual. Jadilah berfikir ada sebelum Iman.

Sikap Kiri akan menolak sarana dan sumber pengetahuan yang meragukan seperti: taklid dan ilham. Bagi idiologi Kiri “Segala sesuatu yang tidak memiliki bukti kebenaran hendaknya dibuang jauh-jauh”. Kelompok Kiri meyakini bahwa dengan berfikir manusia bisa membedakan yang salah dan yang benar. Dan sesuatu tidakdapat diterima sebagai kebenaran jika tidak dapat terbukti bahwa dia benar.

Dalam praktisnya kelompok Kiri mengembangkan pemberantasan buta huruf, menyebarkan pengajaran, menegakkan keadilan global, mengadakan dialog terbuka, antar sekte, madzhab dan aliran pemikiran yang beragam. Sistem Kiri tidak melakukan intervensi dalam kebebasan berpendapat yang dilindungi oleh hukum dan dipraktekkan lembaga-lembaga demokratis secara nyata.

Dalam prakteknya, pihak Kanan banyak memanfaatkan pihak Kiri demi kepentingannya. Hal ini dilakukan dengan cara mendirikan sistem Liberal yang didirikan di atas teori Kiri, yang wujudnya adalah “kebebasan berfikir dan bertindak”. Tapi kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan terbatas pada kapitalis dan pemegang keputusan. Kadang-kadang kebebasan ini juga demi kepentingan etnis tertentu. Pola semacam ini seperti yang dilakukan Barat yang menjunjung tinggi kebebasan berfikir, tapi disaat yang sama pula melakukan penjajahan di Timur dan menenggelamkan rakyat di Timur yang mereka jajah ke dalam kebodohan.

Pihak Kiri juga tidak mau kalah, dengan melakukan reinterpretasi terhadap dogma-dogma Kanan demi kepentingan kelompoknya. Hal ini biasanya dilakukan pada masyarakat yang masih berpegang teguh pada kepercayaan-kepercayaannya, dengan menjadikan kepercayaan tersebut sebagai sarana membela kepentingan orang miskin, memobilisasi kelompok buruh dan menyatukan dalam satu partai, sehingga kelompok ini menjadi satu kekuatan politik yang mampu melakukan tekanan-tekanan pada kelompok Kanan. Dan setelahnya, dilakukan pencerahan terhadap dogma, sehingga peran Iman dapat diambilalih oleh akal.

Selanjutnya soal Tuhan. Ada dua orientasi, yang pertama, orientasi yang menetapkan sifat enam bagi Dzat ini yaitu: Wujud, Qidam, Baqa’ Mukholafatu lil Hawadis, Qiyamuhu binafsihi dan Wahdaniyat. Ini berarti Dzat Tuhan benar-benar ada, sejak dahulu, tidak ada satu pun yang mendahuluiNya, kekal selamanya, tidak menyerupai makhluq CiptaanNya, Tidak menempati ruang, dan bersifat Esa. Dengan demikian, Dzat tuhan adalah sesuatu yang berada di luar wujud manusia dan memiliki semua sifat yang mungkin dimiliki oleh Dzat maha Mutlaq. Ini adalah orientasi Kanan.

Jika orientasi tersebut berpindah dari tataran aqidah ke tataran sosial, maka yang terjadi adalah terciptanya sistem sosial yang berpusat pada puncak yang memikiki segala sifat yang dimikiki okeh Dzat yang mutlak. Dalam dunia politik, hal ini akan melahirkan sistem diktator dan dalam dunia ekonomi akan melahirkan kapitalisme. Ini pernah kita alami dalam berbangsa dan bernegara, baik saat orde baru maupun era sekarang. Jadi sistem sosial yang tercipta adalah sistem yang memberikan kebebasan mutlak kepada seorang atau golongan tertentu dengan mengorbankan rakyat.

Lawan dari orientasi Kanan adalah orientasi Kiri, yaitu orientasi yang menjadikan keberadaan manusia sebagai sesuatu yang ada dengan sebenarnya, sama sekali tidak diragukan keberadaanya. Tidak ada satu pun yang mampu menghancurkan keberadaan manusia. Dia bersifat Qodim, dalam arti keberadaanya ada sejak zaman azali, Dia bersifat Baqa’, dalam arti tidak mungkin binasa. Dia tidak butuh tempat karena ada dimana-mana. Kemanusiaan adalah sesuatu yang tidak berstatus ruang dan waktu, tidak menyerupai sesuatu dan tidak ada yang menyerupainya karena Dia melampahui segalannya. Orientasi inilalah yang menolak segala bentuk personifikasi bentuk dan penetapan Dzat, serta mengembalikan ciri utama manusia yang berupa eksistensi. Sehingga hidup manusia berubah menjadi gerak aktifitas, perjuangan, dengan eksistensi berada di dalamnya bukan di luarnya.

Sistem sosial yang lahir atas dasar orientasi ini adalah sistem yang humanis, yang mengakui keberadaan manusia tanpa membedakan antara pemimpin dan bawahan, kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan, kulit hitam atau putih, bermata sipit atau tidak sipit. Eksistensi adalah milik semua manusia, bukan hanya milik para penguasa dan orang-orang kaya yang tinggal di kawasan megah, sementara jutaan rakyat harus tinggal di bantaran sungai, kolong jembatan, dan gubug-gubug reot. (Din)