Beberapa waktu yang lalu, saya menuliskan rihlah di makam para muassis NU. Ada benerapa pengetahuan baru, ternyata dikomplek makam Tembok Surabaya atau masyarakat menyebut makam Pinilih, selain Mbah Kyai Ridlwan Abdulloh sang pelukis logo NU, banyak pula Syuhada’ pertempuran 10 Nepember 1945 yang dimakamkan disana. Bahkan ada yang menyebutkan, 90 persen Syuhada’ 10 Nopember 1945 dimakamkan di makam Tembok, selainnya di makam Ampel.

Di area makam Tembok Surabaya (makam Pinilih) telah dikebumikan pula beberapa tokoh NU, di antaranya adalah; KH Abdullah Ubaid dan KH Thohir Bakri (dua tokoh pendiri Ansor), Kyai Abdurrahim (salah seorang pendiri Jam’iyah Qurra’ wa l-Huffadz), Kyai Hasan Ali (Kepala logistik Hizbullah), Kyai Amin, Kyai Wahab Turham, Kyai Anas Thohir, Kyai Hamid Rusdi, Kyai Hasanan Nur, dan beberapa Kyai lain. Ini yang jarang diketahui, pasalnya ketika di makam Tembok, tak ada petunjuk lain atau juru kunci yang memberikan penjelasan kepada para peziarah.

Sedemikian juga Makam Kyai Mas Alwi Abdul Aziz sang pemberi nama NU, yang terletak di pemakaman umum Rangkah Surabaya, dan sudah lama tak terawat, bahkan pernah berada dalam dapur pemukiman liar yang ada di tanah pekuburan umum tersebut.

Situs makam para pelaku sejarah yang butuh tindakan dari generasi sekarang sebagai generasi yang peduli sejarah dan jasa para ulama’. Jika ada kalimat “JAS HIJAU” yang berati “Jangan sekali-kali hilangkan jasa Ulama”, maka perlu tindakan mengamankan aset sejarah agar tidak punah. Bukan untuk mengkultuskan, tapi sebagai bukti bahwa kita ada sekarang adalah karena jasa mereka terdahulu.

Semoga para pihak segera faham dan merespon dengan tindakan nyata. Aamiin.