Apa pun yang dilakukan NU akan selalu disalahkan, maka ada yang menyebut NU-KU yang Bathil. Maksudnya adalah apa pun yang dilakukan NU akan dianggap bathil/salah oleh orang diluar NU yang tidak ingin NU besar dan NU kokoh menjaga keutuhan NKRI.

Sehingga sudah mafhum saat membaca tulisan dimanapun, pasti pertanyaan awalnya adalah”siapa yang nulis?”. Karena sudah hampir bisa dipastikan baground penulis bisa menjawab arah tulisan kemana. Bagi para jama’ah yang memakai nama NU dengan tambahan pun, bisa diketahui juga arah pemikiran penulis. Misal saja NU Garis Lurus, arah tulisan mereka pasti menyerang NU baik secara organisatoris maupun secara person. 

Kami memoderasi apa yang ditulis oleh Mohammad Baso pada status FB nya sebagai berikut:

Kalau ulama NU dekat dengan pendeta, mereka bilang; “Ulama Liberal.”

Kalau ulama mereka dekat dengan pendeta, mereka bilang; “Ulama Cinta Damai.”

Kalau ulama NU dekat dengan Pengusaha, mereka bilang; “Ulama Duniawi.”

Kalau ulama mereka dekat dengan Pengusaha, mereka bilang; “Strategi Dakwah.”

Kalau ulama NU bertemu Penguasa, mereka bilang; “Ulama Suu’ penghamba rezim dzalim.”

Kalau ulama mereka bertemu Penguasa, mereka bilang; “Bersatunya Ulama’ dan Umaro’.”

Jika ada kader NU yang terjerat kasus Korupsi, mereka bilang penjahat negri.

Tapi jika kader mereka yang korupsi, mereka bilang rekayasa dan di dzolimi.

Jika NU yang kuliah ke Amerika, mereka bilang pengantek westernisasi.

Jika mereka yang kuliah ke luar Amerika, mereka bilang pengembangan wawasan.

Kalau media dan situs NU salah kutip berita, mereka bilang; “Dasar tukang dusta.”

Kalau media dan situs mereka tiap hari menyebar hoax, fitnah dan dusta, mereka bilang; “Itu dinamika dakwah dunia Islam.”

Kalau NU memaafkan Ahok yang didzalimi, mereka sebut “NU kaum munafik dan Ahoker.”

Tapi kalau mereka merangkul Hary Tanoe itu disebut “membela orang teraniaya.”

Kalau NU membela sejumlah qaul penafsiran ayat 51 QS. al-Maidah, mereka sebut itu “pemerkosaan ayat untuk bela kafir penista agama.”

Tapi kalau mereka sendiri memperjual belikan ayat untuk kepentingan korupsi dan politisasi agama itu disebutnya “jihad bela Islam, bukan penistaan ayat Qur’an.”

Jika NU Hadrohan di Masjid, mereka sebut qasidah syirik dan bid’ah.

Tapi ketika mereka main panahan dan tembak di masjid, mereka bilang memakmurkan masjid.

Kalau NU dapat bantuan dari pemerintah, itu disebut “NU jual diri ke penguasa.”

Tapi kalau mereka minta-minta proyek atau bansos ratusan miliar di APBN/APBD tiap tahun itu disebutnya “dukungan pemerintah untuk perjuangan umat Islam.”

Kalau tokoh NU mendapat gelar Pahlawan Nasional, mereka sebut hasil loby dan pencitraan.

Tapi jika mereka loby ke pemerintah, mereka menyebut pemerataan.

Kalau NU mendukung pembubaran HTI, NU disebut “mendukung rezim otoriter anti demokrasi anti Islam.”

Tapi kalau mereka memberontak ke NKRI dan menyebut Pancasila thaghut dan syirik, itu disebutnya “menegakkan syariat Islam.”

Kalau NU mengutuk terorisme, itu disebut “pengalihan isu” Kalau ada teroris ditembak mati itu disebut “pelanggaran HAM dan memusuhi Islam.”

Tapi kalau mereka sendiri bikin teror ke masyarakat hingga mengancam kehidupan bangsa, maka itu disebut sebagai “amar makruf nahi munkar.”

Kalau ada seorang ulama wafat, disebut “mati tidak wajar atau su’ul khatimah (na’udzubillah).”

Tapi kalau teroris mati dan dikuburkan, itu mereka sebut “jasadnya harum wangi.”

Jika NU pakai Batik, mereka bilang tidak Nyunnah.

Tapi jika mereka pakai batik, mereka sebut pelestari generasi.

Jika NU batik an mereka sebut tidak Islami dan mereka yang pakai Jubah dan gamis disebut Islami.

Maka ketahuilah wahai kalian yang tidak suka dengan NU, leluhur kami telah menyatukan batik dan jubah dengan nama baru” daster”.

Jika NU hormat dan Ziarah para Wali, mereka sebut memuja imajinasi.

Tapi jika mereka meruntut sejarah nabi, mereka juga melewati fase para wali. Tapi mereka sebut wali banyak versi dan tidak asli.

Inikah gambaran yang haq dibilang bathil, yang bathil dibilang haq?(wallahu a’lam).