Jaket almamater Hankuk University, terkesan modis, casual dan trendy. Berbeda dengan mayoritas kampus di Indosesia yang lebih mengedepankan resmi dan kedinasan. Bahkan, orang akan merasa aneh jika memakai jas alamamater diluar acara kampus.

Bahan yang dipakai juga kain jenis casual, bukan kain seperti jas alamamater di mayoritas kampus Indonesia. Entah karena produk lokal adanya memang sedemikian, atau memang sengaja memilih kain casual, tapi tampilnya jaket ala Hankuk University menunjukka bahwa mereka sadar akan perubahan zaman.

Melihat fenomena jaket Hankuk Univrrsity, saya teringat dengan istilah Pop Culture atau budaya populer saat Prof Muzakky menyampaikan di kelas beberapa waktu yang lalu. Pop Culture adalah totalitas ide, perspektif, perilaku, meme, citra, dan fenomena lainnya yang dipilih oleh konsensus informal di dalam arus utama sebuah budaya, khususnya oleh budaya Barat di awal hingga pertengahan abad ke-20 dan arus utama global yang muncul pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21. Dengan pengaruh besar dari media massa, kumpulan ide ini menembus kehidupan masyarakat.

Budaya populer dipandang sebagai sesuatu yang sepele dalam rangka mencari penerimaan konsensus bersama melalui arus utama. Akibatnya, budaya populer muncul dari balik kritisisme sengit dari berbagai sumber nonarus utama (khususnya kelompok-kelompok agama dan kelompok kontra budaya) yang menganggapnya sebagai superfisial, konsumeris, sensasionalis, dan rusak.

Kemunculan Istilah “budaya populer”diawali pada abad ke-19 atau lebih dahulu merujuk pada pendidikan dan “culturedness” pada kelas bawah. Istilah tersebut mulai menganggap pengertian budaya kelas bawah terpisah (dan terkadang bertentangan dengan) “pendidikan sejati”. Pada akhir abad 19, pada periode antar perang, penggunaan istilah pop culture menjadi mapan, sehingga pengertian pop culture dimaknai sebagai “budaya untuk konsumsi massa”, khususnya bermula di Amerika Serikat, digunakan pada akhir Perang Dunia II. Bentuk singkatnya “budaya pop” berawal dari tahun 1960-an.

Budaya populer awalnya berkembang di Eropa, lebih banyak diasumsikan dengan budaya yang melekat dengan kelas sosial bawah yang membedakannya dengan budaya tinggi dari kelas yang elit. Budaya populer juga sering kali diidentikkan dengan istilah ‘mass culture’ atau budaya massa, yang diproduksi dan dikonsumsi secara masal. Jadi, budaya lokal adalah produk budaya yang bersifat pabrikasi, yang ada di mana-mana dan tidak memerlukan usaha untuk mengkonsumsinya.

Saya yakin, setelah jaket ini dipakai pak Jokowi, bakalan banyak kelompok milenial yang nglirik dan membeli jaket seperti yang dipakai beliau, walaupun peminat tersebut tidak kuliah di Hankuk University, seperti halnya fenomena Yamaha YZ1 saat opening Asian Games di GBK kemarin.

Bahkan, kesan muda dan modis, tampak sekali pada diri pak Jokowi saat memakai jaket ini. Walaupun kita tahu bahwa pak Jokowi memang terkenal nyentrik dalam memilih paduan busana yang memang tidak terlalu formal. Satu kata untuk jaket Hankuk University dan pak Jokowi, “keren banget”.

Terbuka lebar usaha dadakan untuk memproduksi jaket model demikian atau justru memasarkan produk korea secara langsung dengan catatan mendapat izin dari pemilik hak paten atas karya dan desain jaket Hankuk University.