Bepergian merupakan sebuah pekerjaan yang dianggap memberatkan oleh syar’i, sehingga dalam jarak tertentu, sang musafir diberikan rukhsoh untuk menjama’ sholat dan mengqashar sholat. Apalagi kalau bepergiannya dalam hitungan waktu beberapa hari. Pastilah sang keluarga yang dipamiti selalu berpesan, hati-hati dan yang paling penting, jangan lupa oleh-oleh atau jajannya. Tak jarang pula ada orang yang setiap keluar rumah, selalu ditagih oleh-oleh saat kembali ke rumah.

Dalam bentuk apa pun jajan adalah penanda bahwa si pembawa, baru saja datang dari bepergian, entah apakah jajan ini awalnya dari bahasa arab Jaa’a, Ya jiiu, Jaa’an yang artinya datang, trus menjadi jajan ya? Tapi gak penting juga kita merunut kata asal jajan, karena yang terpenting, jika ada orang yang baru datang dari bepergian adalah, menanyakan buah tangan dari si pendatang.

Ada yang memilih camilan sebagai jajan, pakaian, dan buku. Memang tidak semua penyuka bepergian memberikan buku sebagai jajan atau oleh-oleh. Tapi dampak memberikan buku sebagai jajan, sebenarnya adalah adanya geliat semangat membaca pada generasi kita. Bagaimana kita membangunkan semangat baca, jika tidak ada buku yang dibaca?

Terdengar aneh memang, ketika kita menjadikan buku sebagai jajan atau oleh-oleh. Tapi darimana generasi kita tahu buku kalau tidak kita akrabkan. Dari keakraban memegang buku inilah akan lahir kebiasaan dan kecintaan membaca buku. Sehingga akhirnya muncul kesadaran, bahwa membaca buku adalah kebutuhan.

Jika ada yang bilang bahwa membaca buku tidak harus punya buku, ungkapan tersebut juga betul. Tapi punya buku sudah merupakan tahapan di atas dari urutan kecintaan pada budaya literasi. Jika kemarin atau dahulu kita masih meminjam buku untuk kita baca sendiri, ada baiknya kita bergeser kepada pemikiran mendekatkan buku bada para generasi kita, dengan cara memberikan oleh-oleh buku sebagai jajan disaat kita bepergian.

Sebuah testimoni seorang sahabat yang hari ini menjadi dosen “saya kenal buku dan membaca buku bukan karena haus pengetahuan, tapi karena ayah selalu memberikan buku untuk dibaca, buku apa pun itu, padahal ayah juga bukan guru atau pendidik yang akrab dalam hari-harinya dengan buku”. Berbanding berbalik dengan kejadian yang dialami teman lainnya yang merupakan anak pemilik toko buku besar di Tulungagung, di tokonya berjubel buku dan kitab, tapi tak pernah ia bersentuhan dengan buku dan kitab-kitab tersebut, karena sejak kecil, ia sudah ditanamkan pemahaman bahwa buku itu untuk dijual, bukan untuk dibaca.

Dari dua kejadian ini, dapat kita simpulkan bahwa, kebiasaan bersentuhan buku, memang butuh pengenalan dan ketlatenan untuk biasa melakoni tradisi baca buku. Darimana kita bisa membaca kalau tidak ada yang dibaca?. “Buku adalah jendela pengetahuan”. Jajankan buku untuk generasimu!.(Din)