Melihat opini dan isu yang berkembang di media sosial, seakan kita menjadi warga yang tidak hanya berada di teretori Indonesia. Sebegitu mudahnya informasi dari belahan dunia manapun kita dapatkan. Bahkan apa pun yang terjadi dalam waktu terbaru, bisa kita ketahui dengan tanpa beranjak dari tempat kita selonjoran. Maka tak aneh kadang ada empat orang berkumpul satu meja saling berhadapan tapi mereka terdiam semuanya dan asyik bermain HP dengan halusinasi dan pikiran yang tidak sedang menikmati kebersamaan dengan teman yang duduk berhadapan dan bersebelahan. Sebegitu juga dalam hal Islam Transnasional, konsep sederhananya adalah pola dan gaya memahami ajaran Islam dari berbagai negara yang disebarkan ke negara lain dibelahan dunia ini. Sehingga pol dan model kegiatan yang dilaksanakan memiliki kesamaan secara pola pikir, gerakan, organ gerakan, dan tujuan. Bahkan dalam penyebutan kewilayahan, mereka menggunakan istilah kewilayahan lintas negara yang digunakan menjadi satu istilah yang mereka ciptakan.
Membincang Islam Transnasional, saya pernah membaca berbagai tulisan termasuk dari K.H Imam Ghazali Said, MA Pengasuh pesantren mahasiswa An-Nur Wonocolo yang memang sangat faham dengan gerakan Islam di Timur Tengah karena gelar S-1- beliau peroleh di Universitas Al-Azhar Mesir, S-2 di Hartoum International Institute Sudan. Kemudian S-3 di Kairo University Mesir. Dan yang paling istimewa, intelektual muslim ini aktif sebagai Rois Syuriah PCNU Surabaya dan dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Belakangan ini gerakan Islam garis keras menjadi perhatian para kiai NU. Hal ini bukan tanpa alasan, betapa marak radikalisasi yang terjadi di manapun pasti tidak akan jauh dari peran kelompok-kelompok radikal ini. Secara kesejarahan, Islam garis keras memiliki kelompok besar yang disebut “Ikhwanul Muslimin dengat pusat di Ismailiah, Mesir. Organisasi ini berdiri pada 1928 Masehi, dua tahun setelah NU berdiri, karena NU dalam hitungan Masehi didirikan pada 31 Desember 1926. Pendiri Ikhwanul Muslimin Syaikh Hasan Al-Banna, yang secara pemikiran Syaikh Hasan Al-Banna ini moderat. Dia berusaha mengakomodasi kelompok salafy yang wahabi, merangkul kelompok tradisional yang mungkin perilaku keagamaannya sama dengan NU dan juga merangkul kelompok pembaharu yang dipengaruhi oleh Muhammad Abduh. 

Syaikh Hasan Al-Banna menyatakan bahwa Ikhwanul Muslimin adalah Harakah Islamiyah Sunniyah Salafiyah jadi semuanya diakomodir. Sehingga Ikhwanul Muslimin menjadi besar dan berdiri di atas semua golongan. Di dalam Ikhwanul Muslimin terdapat lembaga bernama “Tandhimul Jihad” yaitu institusi jihad dalam struktur Ikhwanul Muslimin yang bersifat sangat rahasia. Kader yang berada dalam Tandhimul Jihad ini dilatih militer sebagaimana militer resmi. Mereka memakai doktrin kesetiaan seperti kesetiaan seorang santri kepada Mursyid di dalam ajaran tarikat. Itandhimul Jihad ini dibawah komando langsung Ikhwanul Muslimin. Para militer atau milisi ini menarik kelompok-kelompok sekuler yang ingin belajar tentang disiplin militer. Bahkan Gammal Nasser, dan Anwar Sadat (keduanya kemudian menjadi presiden Mesir) juga belajar pada Tandhimul Jihad ini. Karena keduannya adalah bagian dari militernya bukan dari Ideologi Ikhwanul Muslimin. Mereka berdua belajar aspek militer kepada Tandhimul Jihad. Ketika pada 1948 Israel mempermaklumkan sebagai Negara, maka terjadilah perang. Disinilah Tandhimul Jihad mengikuti perang, dan kelompok ini punya prakarsa-prakarsa. Waktu itu Mesir dibawah kerajaan Raja Faruk dan sistemnya masih perdana menteri, Nugrasi. Tapi akhirnya Arab kalah dan Israel berdiri. Kemudian Tandhimul Jihad kembali lagi ke Mesir. Di dalam kelompok  Tandhimul Jihad  ada personel yang bernama Taqiuddin Nabhani yang kemudian mendirikan Hizbut Tahrir. 

Jadi Taqiuddin An Nabhani itu awalnya bagian dari Ikhwanul Muslimin. Namun antara Hasan Al-Banna dan Taqiuddin An Nabhani terjadi perbedaan. Hasan Al-Banna berprinsip kita terus melakukan perjuangan dan memperbaiki sumber daya manusia. Sedang Taqiuddin An Nabhani bersikukuh agar terus melakukan perjuangan bersenjata militer. Taqiuddin An Nabhani berpendapat kekalahan Arab atau Islam karena dijajah oleh sistem politik demokrasi dan nasionalisme. Sedang Hasan Al-Banna berpendapat sebaliknya. Menurut dia, tidak masalah umat Islam menerima sistem demokrasi dan nasionalisme, yang penting kehidupan syariat Islam berjalan dalam suatu negara.

Pada 1949 Hasan Al-Banna meninggal karena ditembak agen pemerintah dan dianggap Syahid. Sedang Taqiuddin An Nabhani terus berkampanye kepada kelompoknya di Syria, Libanon dan Yordania. Kemudian Tandhimul Jihad diambil alih Sayyid Qutub, yang memiliki ideologi Ikhwanul Muslimin. Sayyid Qutub dikenal sebagai sastrawan dan penulis produktif, termasuk tafsir yang banyak dibaca oleh kita di Indonesia. Dalam hal penyamaan persepsi dan ideologi Sayid Qutub pernah mendatangi Taqiuddin An Nabhani agar secara ideologi tetap di Ikhwanul Muslimin. Tapi Taqiuddin An Nabhani tidak mau karena ia beranggapan bahwa Ikhwanul Muslimin sudah masuk lingkaran jahiliyah karena Ikhwanul Muslimin menerima nasionalisme. Akhirnya Taqiuddin An Nabhani mendirikan Hizbut Tahrir yang artinya, Partai Pembebasan. (pembebasan kaum muslimin dari cengkraman Barat dan dalam jangka dekat membebaskan Palestina dari Israel). Itu pada mulanya dan dari inilah Taqiuddin An Nabhani mengonsep ideologi Khilafah Islamiyah.
Dari keputusan yang di proklamirkan Taqiuddin An Nabhani dengan Hizbut Tahrir yang berideologi khilafah Islamiyah inilah muncul masalah baru, karena di Yordan (negara aslinya Taqiuddin An Nabhani) telah berdiri negara nasional, dan secara otomatis apa yang di gagas Taqiuddin An Nabhani berbeda dengan masyarakatnya umum. Sementara di Lebanon juga sudah berdiri negara nasionalis yang multi, karena rakyatnya terdiri dari banyak agama, undang-undangnya sesuai jumlah penduduknya, misalnya, presidennya, harus orang Kristen Maronit, Perdana Menterinya harus orang Islam Sunni, Ketua parlemennya harus orang Islam Syiah. Di Syiria juga telah menjadi negara sosialis. Akhirnya Hizbut Tahrir itu menjadi organisasi terlarang (OT) di negara asal berdirinya. Karena ia menganggap nasionalisme itu sebagai jahiliah modern. Namun meski menjadi organisasi terlarang Hizbut Tahrir tetap bekerja dan menyusup ke Tentara, ke berbagai Organisasi Profesi dan masuk juga ke Parlemen. Hizbut Tahrir masuk ke partai politik dengan menyembunyikan identitasnya dan berkamoflase. Setelah merasa kuat, Hizbut Tahrir pimpinan Taqiuddin An Nabhani melakukan kudeta terhadap pemerintah yang sah pada jaman Raja Husen. Tetapi pemberontakan ini dapat diberantas, sehingga sebagian anggota Hizbut Tahrir diajukan ke pengadilan dan dihukum mati. Sehingga Sampai sekarang, Hizbut Tahrir masih jadi organisasi terlarang di Yordania.

Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia melalui mahasiswa yang belajar di Mesir. Pola ikhwan dikembangkan, pola Salafy dan pola Hizbut Tahrir dikembangkan dan di kreasi dengan tampilan baru sesuai kondisi Indonesia sebagai upaya kamuflase gerakan. Kreasi baru ini mempertemukan antara Ikhwan, Salafy dan Hizbut Tahrir yang secara ideologi bertemu dan ada kesamaan. Yakni sama-sama ingin menerapkan formalisasi syariat Islam. Hanya bedanya, kalau Salafy cenderung ke peribadatan, atau dalam bahasa lain mengislamkan orang Islam, karena dianggap belum Islam. Dan target utamanya NU karena dianggap sarangnya bidah. Bisa saja pernyataan ini dibantah oleh kelompok Salafy, Hizbut Tahrir dan Ikwanul Muslimin, tapi faktanya memang demikian.

Sementara kelompok Ikhwanul Muslimin, menjadikan NU sebagai target untuk digerogoti masanya karena NU bergelimang bidah dengan melakukan tradisi leluhur yang penuh kemusyrikan. Mereka ( Ikwanul Muslimin) bergerak lewat mahasiswanya yang dinamakan usrah (keluarga). Usrah ini minimal 7 orang, dan maksimal 10 orang. Ini ada Amirnya (pemimpin) dan Amir inilah yang bertanggungjawab terhadap kelompok mulai dari bagaimana mengatasi kebutuhan kehidupan sehari-hari terpenuhi sampai pada bagaimana menyelesaikan masalah SPP, misalnya kalau ada anggota yang kesulitan bayar SPP.
Jadi mereka tak hanya bergerak di bidang politik, tapi juga bidang-bidang lain. Nah, kelompok inilah yang kemudian menamakan diri sebagai Tarbiyah yang bermarkas di kampus-kampus seperti UNESA, ITS, IPB, ITB dan sebagainya. Kelompok Tarbiyah inilah yang menjadi cikal bakal PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Mereka umumnya alumni Mesir, Syiria atau Saudi. Kelompok ini masih agak moderat karena masih mau menerima negara nasional. Tapi substansi perjuangan formalisasi syariat sama dengan Hizbut Tahrir atau Salafy yakni mendirikan negara Islam.

Hizbut Tahrir, Salafy dan Ikhwanul Muslimin dalam soal formalisasi syariat memiliki persamaan yakni Memurnikan Islam dengan slogan kembali kepada Al Quran dan Hadist. Tapi dari segi sistem Khilafahnya tidak mereka tidak bakalan ketemu. Sebab Khilafah Islamiyah yang digembar-gemborkan HTI juga Utopia, Misalnya bagaimana denganya sistem Syuronya, apakah meniru sistem Turki Utsmani yang diktator atau Umayyah, apakah Khilafah Islamiyah yang dimaksud adalah meniru zaman sahabat Abu Bakar atau zaman yang lain, itu pun masih problem. Tapi bagi Hizbut Tahrir yang penting Khilafah Islamiyah adalah solusi segala masalah.

Dilihat dari program, Hizbut Tahrir sampai kini punya konstitusi yang terdiri dari 187 pasal. Dalam konstitusi ini ada program-program jangka pendek. Yaitu dalam jangka 13 tahun, menurut Taqiuddin An Nabhani, sejak berdiri 1953, Negara Arab itu sudah harus jadi sistem Islam dan sudah ada khalifah. Taqiuddin An Nabhani juga membuat target, setelah 30 tahun, dunia Islam sudah harus punya Khalifah. Tapi kalau kita hitung sejak tahun 1953 sampai hari ini tahun 2017, sudah 64 tahun target Hizbut Tahrir belum terealisasi. Apakah mereka memahami  ini adalah Injury Time. Jadi utopia, tapi mereka masih semangat.

Hizbut Tahrir secara alur personal masuk ke Indonesia melalui orang Libanon. Namanya Abdurrahman Al-Baghdadi. Ia bermukim di Jakarta pada tahun 80-an. Selain Abdurrahman Al Baghdadi Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia dibawa Mustofa bin Abdullah bin Nuh. Inilah yang mendidik tokoh-tokoh HTI di Indonesia seperti Ismail Yusanto, tokoh-tokoh Hizbut Tahrir sekarang. Tapi sebenarnya diantara mereka ada friksi. Karena tokoh-tokoh HTI yang sekarang merasa dilangkahi oleh Ismail Yusanto ini.

Gerakan Hizbut Tahrir (Partai Pembebasan) di Indonesia ini aneh, mereka terus terang menganggap Pancasila Jahiliah, Nasionalisme bagi HTI juga Jahiliah. Tapi tidak ada tindakan dari pemerintah dan aparat karena di Indonesia, makar adalah ancaman fisik, kalau masih ide dan gagasan, tidak disebut makar, ini terjadi karena regulasi yang mengatur belum ada. Selain itu, Angin segar reformasi juga membuat kelompok-kelompok ini dibiarkan saja. Dan tidak ada dialog dari pemerintah dengan kelompok ini. Akhirnya mereka memanfaatkan institusi (seolah-olah) mendukung pemerintah untuk mempengaruhi MUI (Majelis Ulama Indonesia). Tapi mereka TAQIAH (menyembunyikan agenda perjuangan aslinya), sebab mereka menganggap Indonesia itu sebenarnya Jahiliah. Taqiah itu ideologi Syiah tapi dipakai oleh mereka.

Dalam merealisasikan kepentingan politiknya Hizbut Tahrir membentuk beberapa tahapan dalam menuju pembentukan Khilafah Islamiah, Pertama Taqwin Asyakhsyiah Islamiah (membentuk kepribadian Islam) mereka memakai sistem wilayah, karena gerakan mereka Internasional. Jadi untuk Indonesia wilayah Indonesia. Tapi sekarang pusatnya tidak jelas, karena di negaranya sendiri sangat rahasia. Mereka dikejar-kejar, karena Hizbut Tahrir ini organisasi terlarang. Tapi mereka sudah ada di London, Austria, di Jerman dan sebagainya bahkan pusatnya sekarang ya di London. Dari Taqwin Syahsyiah Islamiah ini bagaimana bisa mengubah ideologi nasionalis menjadi internasionalis Islam. Mereka agresif, jadi terus menyerang. Karena itu orang-orang NU didatangi, termasuk kiai-kiainya didatangi oleh mereka untuk diajak bergabung kalau tidak mau gabung ya diajak diskusi untuk dipermalukan sehingga massa NU tidak lagi yaqi dengan tokoh NU. Kedua, Attauiyah (penyadaran), merka berkeyakinan bahwa diluar kelompok mereka adalah Jahiliyah sekalipun di era Moderen, oleh karenanya mereka mendakwahkan Hizbut Tahrir dalam kerangka untuk menyadarkan kelompok Jahiliyah Moderen ini. Ketiga, At-Taamul Maal Ummah (interaksi dengan masyarakat secara keseluruhan) mereka membantu kepentingan-kepentingan umum. Bahkan pernah ada keterangan dari beberapa sumber, di Surabaya, di Unair dan ITS saja, dalam urunan mereka bisa menghasilkan uang Rp 30 juta tiap bulan. Donasi inilah yang mereka gunakan untuk membantu kepentingan umum kelompok besar mereka. Keempat, Harakatut Tatsqif (gerakan intelektualisasi) pada gerakan ini, kelompok mereka diajari bagaimana menganalisa hubungan internasional, mempelajari kejelekan-kejelekan ideologi kapitalisme. Pokoknya yang ideologi modern itu mereka serang semua. Mereka melontarkan Islam sebagai solusi atau alternatif. Keempat hal di atas mereka lakukan karena Hizbut Tahrir sadar meski bernama partai, Hibut Tahrir, tak akan bisa ikut pemilu. Ini beda dengan Ikhwanul Muslimin dan Tarbiah Islamiah yang kemudian menjelma sebagai PKS. Sebab Ikhwanul Muslimin, agak fleksibel. Kasus di Syria, di bawah Mustofa as-Syibai, ketika ideologi pemerintahannya sosialisme, mereka ikut sosialis. Ia mencari landasan hukum bahwa sosialisme itu benar menurut Islam. Maka Mustofa as-Syibai menulis buku Istiroqiyah Islamiah, jadi sosialisme Islam. Walaupun kita tahu bahwa Hizbut Tahrir di Indonesia mendukung PKS, tapi secara formal mereka(HTI) tidak mendukung PKS dalam mewujudkan Khilafah Islamiah, karena antara HTI dan PKS beda cara mewujudkan tujuan( PKS berjuang lewat partai, sedangkan HTI mengharamkan perjuangan partai). Keduanya memang ada kesamaan, tapi kesamaan tersebut hanya pada perjuangan yang terbatas.
Tahapan yang Keenam At-Taqwin Daulah Islamiah (membentuk Negara Islam) adalah tahapan terakhir yang akan dilakukan Hizbut Tahrir dengan Sarana Jihad (Biwasailil Jihad) Jadi bagi negara nasional, gerakan mereka, menurut saya, bahaya. Karena gerakan selanjutnya adalah Istilamul Hukmi (merebut kekuasaan) Meskipun utopia tapi kalau mereka memakai cara-cara kekerasan?  Karena mereka didoktrin,dan pengikutnya adalah usia muda semua. Misalnya, mahasiswa semester 2 atau 3. Bahkan banyak yang diajak Hizbut Tahrir.
Dalam hal Fiqh pernah terjadi perdebatan, menurut Sayid Qutub dan Taqiuddin Nabhani, fiqh tidak perlu dipelajari atau dipraktikkan sepanjang suatu negara belum melaksanakan sistem Islam. Sedang Syekh Wahba Suhairi Ulama Syiria yang kitabnya jadi kutub Mutabarah di NU, menganggap bahwa fiqh adalah suatu keniscayaan. Ini jadi polemik. Menurut Wahba, orang Islam harus belajar fiqh, baik negaranya Islam maupun tidak Islam. Jadi menurut Wahba tidak hanya sistem pemerintahan saja, tapi bagaimana orang nikah, orang salat, muamalah, semua itu kan fiqh yang ngatur. Tapi menurut Sayid Qutub dan Taqiuddin Nabhani tidak perlu itu. Yang penting bagaimana memperjuangkan menegakkan pemerintahan Islam, baru setelah itu fiqh. Karena itu meski buku-buku atau tulisan Sayid Qutub banyak tapi tak ada fiqhnya. Semua buku-buku dia bernuansa politik. Misalnya pertarungan Islam dan kapitalisme dan sebagainya. Sehingga di Hizbut Tazhrir segalanya melalui Jubir, sehingga informasi yang keluar itu sudah di atur. Jadi jangan heran jika kita berdebat dengan HTI, mereka pasti menganggap diluar mereka salah. Sebenarnya ada persamaan antara Nizbut Tahrir dengan NU yaitu, nabinya Sama, Qurannya sama, oleh karenanya tidak perlu saling mengkafirkan, kita serahkan urusan sesuai bidang, misalnya urusan NU ya serahkan pada NU, dan untuk urusan Khilafah ya diserahkan ke HTI, sehingga wilayahnya jelas dan tidak terjadi saling caplok. Jika HTI ingin merekrut masa ya jangan nggrogoti masa NU, tapi rekrutlah orang-orang yang yang belum Islam.

Pada kelompok lain ( Salafy), Mereka bergerak dalam bidang pendidikan. Misalnya LPBA (Lembaga Pendidikan Bahasa Arab) yang sekarang menjadi Lembaga Ilmu Keislaman cabang dari Jamiatul Imam Riyadh. Ini dibiayai dari KSA( Kerajaan saudi Arabia) sangat besar. Sebenarnya orang-orang seperti Ulil (Ulil Abshar Abdalla, red), Imdad dan sebagainya alumni LPBA ini. Lah, mereka ketemu dengan Rofik Munawar yang dulu ketua PKS Jawa Timur. Anis Matta (sekjen PKS) itu juga teman Ulil di LPBA. Mereka dulu alumni LPBA. Hanya saja ada yang kemudian terbawa dan larut dalam Salafy seperti Anis Mattta, tapi juga ada yang nggak terpengaruh Salafy, kayak Ulil Abshar Abdala. Kalau Anis Matta terbawa Salafy tapi pola politiknya ikut Ikhwanul Muslimin. Kelompok Salafy ini sangat puritan. Amaliyah Tahlilan, Dibaan, Ziarah Kubur, mereka sangat tidak mau. Mereka menganggap itu Syirik. Dan dalam bidang Peribadatan inilah, kelompok PKS ketemu persamaannya dengan Salafy.
Sedang orang-orang seperti Ulil, Imdad dan anak-anak pesantren yang sekolah di LPBA melakukan pemberontakan. Mereka menganggap (paham Salafy) itu tak cocok dengan budaya saya (Ulil cs) yang NU. Akhirnya mereka melanjutkan ke ilmu-ilmu filsafat, sosial dan sebagainya, termasuk belajar ke Magnez Suseno di Driyarkara. Kemudian berkomunikasi dengan Nurcholis Madjid, ketika Nurcholis masih ada (hidup). Nah, dalam diri Ulil cs ini kemudian terbentuklah suatu sosok yang berasal dari pola radikal (Salafy), ketemu dengan ilmu-ilmu sosial, ketemu dengan Nurcholis Madjid, ketemu dengan Gus Dur dan sebagainya. Jadi mereka ini meramu dari berbagai unsur itu sehingga jadilah orang seperti Ulil, Hamid Basyaib, Luthfi Syaukani, Muqsith dan sebagainya.

Secara simbol-simbol memang ada kesamaan, baik kelompok Hizbut Tahrir, Tarbiah (PKS) maupun Salafy. Misalnya pakai celana cingkrang, berjenggot dan sebagainya. Tapi semua kelompok ini sama menyerang NU. Secara tampilan luar, menurut mereka, Nabi Muhammada SAW itu jenggotan. Abdul Aziz, tokoh Salafy, itu menulis tentang membiarkan jenggot. Menurut dia, kalau orang mencukur jenggot dianggap Tabiul Hawa (mengikuti hawa nafsu). Jadi menurut mereka memahami Sunnah Rasul itu apa saja diikuti, termasuk cara berpakaian. Tapi kalau NU kan tidak begitu cara memahami sunnah Rasul. Paling tidak, NU terdidik memahami sunnah Rasul itu dalam arti substantif, misalnya soal peribadatan. Tapi kalau soal pakaian kalangan NU yang terdidik menganggap itu sebagai budaya. Misalnya soal sorban. Nabi memang bersorban tapi harus diingat Abu Jahal dulu juga sorbanan. Begitu juga soal jenggot. Kalangan NU terdidik menganggap itu sebagai budaya. Karena Abu Jahal pun juga jenggotan. Masak orang nggak punya jenggot disuruh memelihara jenggot. Ada orang yang jenggotnya hanya tiga helai atau tiga lembar itu disuruh pelihara..kan lucu bro!

Kalau masalah celana cingkrang, mereka berpegang pada hadits Nabi bahwa kalau pakaian orang itu nglembreh ke kakinya dianggap Huyala (sombong) Padahal dulu pakaian Abu Bakar juga ngelembreh, panjang ke bawah tapi tidak dianggap sombong. Waktu itu Abu Bakar tanya, apakah saya ini juga dianggap sombong karena pakaian saya ngelembreh. Lalu dijawab, o, tidak, karena Abu Bakar memang tidak sombong, meski pakaiannya nglembreh. Karena tubuh Abu Bakar kurus, jadi sudah wajar kalau pakaiannya dipanjangkan sampai nglembreh.

Karena itu menurut kalangan NU, pakaian itu dianggap sebagai budaya. Masak orang pakai kopyah hitam dianggap bidah hanya karena Nabi tak pernah pakai kopyah hitam. Kan waktu itu belum ada perusahaan kopyah Gresik Bro! Nah, disini lalu semua menyerang NU. Jadi mereka semua, Hizbut Tahrir, Tarbiyah dan Salafy itu menyerang NU. Menurut mereka, yang dimaksud Ahlussunnah itu adalah versi Ibnu Taymiah, bukan paham versi Asyari. Dalam buku-buku mereka paham Asyari itu dianggap sesat. Padahal NU kan menganut paham Asyari.

Ada yang berpendapat, kalau niat mereka untuk dakwah, kenapa mereka kok tidak merekrut komunitas lain yang belum beragama, misalnya. Kalau jamaah NU kan hasil jerih payah para wali songo dan ulama kultural, kenapa mereka tidak cari kreasi sendiri agar tidak menimbulkan konflik sesama umat Islam? Ya, karena mereka mau mengislamkan orang Islam. Jadi kita yang sudah Islam ini harus diislamkan lagi oleh mereka. Karena mereka merasa paling Islam. 

Karena itu, warga NU harus paham. Sikap NU harus tetap moderat. Sepanjang mereka tidak menyerang kita ya kita nggak apa-apa. Tapi jika mereka menyerang kita, ya kita harus melawan. Karena itu di beberapa tempat seperti di NTT, Jember, kita lawan. Kita harus paham juga bahwa kelompok Salafy menyerang NU dalam peribadatan, sedang yang menyerang NU dari segi politik kelompok Hizbut Tahrir dan Tarbiyah (PKS). 

Sejak Gus Dur mimpin NU, beliau membuka cakrawala baru di kalangan anak-anak muda NU. Gus Dur mengevaluasi bahwa formalisasi syariat ternyata selalu gagal, karena itu Gus Dur membuka wacana baru Islam sebagai etika sosial. Dan ini kemudian menjadi gaung NU sampai sekarang, walau belakangan NU diusik dengan formalisasi syariat. Tapi Kyai Hasyim Muzadi dalam berbagai wawancara menyatakan tidak memperjuangkan Islam seperti teksnya tapi yang diperjuangkan adalah ruhnya. Bisa saja KUHP seperti sekarang tapi ruh Islam ada di situ. Nah, dalam hal ini pengaruh Gus Dur sangat besar.

Tapi di struktural NU sekarang kan dilakukan pembersihan terhadap kelompok-kelompok Gus Dur. Di Lakpesdam, Imdad (M Imaduddin Rahmat, red) hanya ditaruh sebagai pemimpin redaksi Tashwirul Afkar. Sedangkan di struktur Lakpesdam ia sudah tak masuk. Tapi untuk membersihkan orang-orang Gus Dur secara total tidak bisa. Karena pengurus NU yang pandai-pandai adalah didikan Gus Dur. Paling tidak, secara visi keagamaan sama karena sebelumnya pernah lama berinteraksi dengan Gus Dur. Misalnya Endang Turmudzi, Sekjen PBNU. Dia kan orang LIPI. Kemudian Nazaruddin Umar, Katib Aam Syuriah. Nah, ketika berhubungan dengan dunia internasional, kelompok-kelompok didikan Gus Dur inilah yang bisa berkomunikasi. Jadi meski mereka ini dibenci tapi tetap dibutuhkan. Misalnya ada Masdar dan sebagainya. Dan mereka inilah yang mengerti persoalan yang dihadapi NU ke depan dalam menghadapi kelompok-kelompok Islam radikal itu.

Dalam konteks negara Nasional NU fiqh mainded. Fiqh siyasi (politik) di NU kurang berkembang. Fiqh yang dikembangkan NU adalah fiqh dalam kontek negara nasional. Ketika Kiai Hasyim Asyari (pendiri NU, red) mengeluarkan fatwa resolusi jihad Negara Indonesia dalam kondisi bukan negara agama. Karena saat itu kalimat menjalankan syariat Islam sudah dihapus kemudian Belanda datang lagi akhirnya Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa Jihad. Jadi Negara yang dipertahankan waktu itu negara “Sekuler” kan. Jadi NU tak bisa lepas dari negara nasionalis atau sebagai nasionalis. Nah, fatwa jihad Kiai Hasyim itu merupakan fatwa pertama di dunia Islam yang mempertahankan negara nasionalis. Belum ada ketika itu ulama yang berfatwa kewajiban jihad untuk mempertahankan Negara nasionalis. Jadi Kiai Hasyim Asyari itu pelopor pertama.

Mungkin dasar pemikiran beliau Kiai Hasyim mengambil langkah tersebut adalah, yang terpenting Indonesia merdeka dulu. Apalagi bangsa Indonesia mayoritas umat Islam. Ini yang harus diutamakan. Jadi Kiai Hasyim membuat fatwa untuk mengusir penjajah dan mempertahankan negara nasional. Nah, ini bagi wacana pemikiran internasional seperti orang-orang yang menginginkan sistem Khalifah kontroversi. Perjuangan NU berikutnya, dalam sejarahnya, seluruhnya selalu terkait dengan negara. Soekarno, misalnya, diberi gelar Waliyul Amri Dlaruri Bissyaukah

Jadi pemerintah darurat yang mempunyai kekuatan. Ini asalnya kan diberi oleh konfrensi ulama di Cipanas 1954. Kemudian pada 1956 oleh NU dianggap sah. Ini artinya apa? Karena dikaitkan dengan fiqh? Sebab perempuan yang tidak punya wali dalam pernikahan walinya harus Sulthon. Padahal hadits As-Sultonu Waliyu Man Laa Waliya Lah (Sulthon itu adalah wali bagi orang yang tak punya wali). Kalau Sulthon ini tidak diberi legitimasi sesuai syariat kan tidak sah Sulthon ini. Jadi ini terkait dengan fiqh maka negara walau sekuler harus diakui sah menurut syariah. Ini cerdasnya pemikiran orang NU. Kalau nggak diberi legitimasi gimana. Sulthon itu siapa, padahal kalau orang kawin harus dicatatkan di catatan pemerintah. Nah, itulah NU. Tapi ini kemudian disalah pahami oleh kelompok Islam modernis. Dikira NU itu oportunis pada negara karena memberi legitimasi. Padahal sebenarnya ini terkait dengan fiqh.

Faktor kedua memang pada tahun 50-an itu Kartosuwirjo sedang mengadakan pemberontakan. Pemberian gelar Waliyul Amri Dlaruri Bissyaukah, sebagai legitimasi pada Soekarno agar bisa mengatasi gerakan pemberontakan Kartosuwiryo. Tapi inti tujuan NU sebenarnya pada fiqh urusan perkawinan, bukan pada fiqh siyasahnya (politik). Ini juga harus difahamkan kepada HTI, bahwa perjuangan NU tidak pernah lepas dari Nasionalisme. Sehingga jika mereka dihadang dalam kejadian kirab panji HTI, ini semata-mata Nasionalisme yang di bela.
Dari paparan diatas dapat kita tarik kesimpulan perbadaan antara NU dan HTI adalah sebagai berikut:

NU berdiri tahun 1926 dalam proses menuju pembentukan negara Indonesia. Sedang Hizbut Tahrir (HT) berdiri ketika Nation State di tempat ia berdiri telah terbentuk, yaitu tahun 1953. Dari segi latar belakang waktu yang berbeda ini, dipahami bahwa sejak awal NU memberi saham besar terhadap pembentukan Nation State yang kemudian menjadi negara Indonesia merdeka.

Hizbut Tahrir memposisikan diri berhadapan dengan negara yang sudah terbentuk. Maka wajarlah, jika Hizbut Tahrir menganggap bahwa nasionalisme itu sebagai Jahiliyah. Karena mereka anggap menjadi penghalang dari pembentukan internasionalisme Islam, apalagi nasionalisme tersebut tidak memberlakukan syariat Islam dan lebih banyak mengadopsi sistem hukum sekuler Barat.

NU menerima sistem hukum penjajah dalam keadaan darurat. Karena negara tidak boleh kosong dari hukum. Selanjutnya, NU berjuang agar hukum yang berlaku di negara ini bisa menjadikan fiqih sebagai salah satu sumber dari hukum nasional kita. Dari situ, NU ikut ambil saham dalam penerapan UU Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang saat ini berlaku di Indonesia. Tentu Hizbut Tahrir belum punya saham dalam memperjuangkan hukum Islam di negara nasional ini, sehingga tidak logis jika Hizbut Tahrir langsung menentang negara nasional ini gara-gara tidak memberlakukan syariah Islam secara Kaffah.

Jadi, perjuangan NU dalam menegakkan syariah baik sebagai etika sosial maupun sebagai hukum formal tidak bisa diletakkan di luar NKRI. Karena NKRI ini didapat dengan perjuangan para Syuhada yang gugur pada pra kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan. Pendek kata, NU tidak bisa terpisah dari negara nasional ini.
Dari perbedaan diatas, kiranya ada harapan untu NU dan HTI yaitu:

Antara NU dan HTI itu memang ada perbedaan prinsip, tapi ada juga kesamaan. Keinginan untuk melaksanakan ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan itu sama antara keduanya. Hanya perbedaannya, adalah bagaimana cara merealisasikannya. NU lebih realistis, sedang HTI utopis. Lah, kapan khalifah seperti yang dicita-citakan itu akan muncul? Wong prediksinya  yang katanya 30 tahun dari berdirinya HTI, sistem khalifah akan terbentuk di seluruh dunia Islam. Buktinya mana? Di Yordan saja masih jauh, apalagi di Indonesia.

Karena itu, hal-hal yang sama mestinya bergerak secara koordinatif. Obyek dakwah yang sudah menjadi kaplingan NU, jangan diganggu. Apalagi itu jelas-jelas masjidnya NU, lembaga pendidikan NU, dan lain-lain. NU sendiri mestinya mampu merumuskan tujuan idealnya di negeri ini. Sekaligus merumuskan langkah-langkah realistis untuk mencapai tujuan itu. Dalam hal ini, kita bisa berguru pada HTI dengan empat marhalah perjuangan HT yang populer itu. (Takwin Syakhsiyah Islamiyah (Pembentukan Pribadi Islami), Tawiyah (penyadaran keislaman), Tatsqif (intelekktualisasi), dan Takwinud Daulah  (pembentukan negara khilafah atau populer juga dengan istilah Taslimul Hukmi (merebut kekuasaan). Dan Ke depan, HTI diharapkan berhenti dan tidak mengganggu obyek-obyek dakwah NU. Jika tidak, NU akan melawan.

Disarikan dari berbagai sumber.

#Sendang, Tulungagung, 06 April 2017