Banyak orang yang tidak familiar dan tidak tertarik ketika mendengar istilah Islam Trans Nasional, karena mereka mengira, ini hanyalah istilah para peneliti dan anak kuliah saja. Masyarakat juga ogah dan abai terhadap kemunculan kelompok ini pada awalnya, karena dikira, ini hanya lelucon biasa, atau sekedar gaya-gayaan dalam bahasa.

Istilah Ideologi Transnasional ini dipopulerkan pertama kali oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Muzadi, sejak pertengahan 2007 silam. Istilah itu merujuk pada Ideologi keagamaan lintas negara yang sengaja diimpor dari luar dan dikembangkan di Indonesia (lihat NU Online, 15/05/2007)

Masdar Hilmy dalam salah satu tulisannya mengatakan bahwa istilah “ Islam Transnasional “ adalah sebuah gerakan yang bukan asli Indonesia, keberadaan organisasi politik ini tidak lahir dari pergumulan identitas ke Indonesia-an yang otentik melainkan dipindahkan, dibawa atau diimpor dari negara lain yang cenderung tidak mau meng-Indonesia.

Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa Islam Transnasional adalah organisasi politik yang lahir sebagai pemecahan dari persoalan persoalan politik yang muncul di daerah Timur Tengah.

Saya membidik satu sisi saja, yakni konteks perkembangan Transnasional di Indonesia. Sejak abad ke-17 pengaruh Timur Tengah terhadap Indonesia sangat signifikan. Termasuk lahirnya ormas Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama juga tak bisa dilepaskan dari pengaruh Timur Tengah. KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asyari, adalah santri Nusantara yang berguru pada guru yang sama saat berada di Timur Tengah.

Sejarah mencatat, sejak abad 17 san, banyak pedagang, pelajar, dan jamaah haji dari Nusantara yang juga menetap dan mendalami agama di Timur Tengah. Sehingga tak mengherankan jika hari ini, kalangan pelajar atau mahasiswa yang belajar di Timur Tengah menjadi bidikan untuk saluran pendistribusian ide-ide kelompok Islamis ini. Karena sejak dahulu, memang itulah jalur efektif untuk transformasi ide dan gagasan.

Studi Greg Fealy dan Anthony Bubalo yang terbukukan dengan judul “Jejak Kafilah: Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia”. terj, (Bandung; Mizan, 2007) memberikan penegasan bahwa dalam memahami pengaruh Islamisme Timur Tengah di Indonesia tidak sekedar dilihat sebagai gerakan monolitik yang berujung pada kesimpulan bahwa Islamisme ala Timur Tengah hanya sekadar gerakan yang radikal, dan ekstrim.

Studi keduanya berusaha memberi gambaran yang lebih bervariasi baik ketika menjelaskan jalur pengaruh Timur Tengah atas Indonesia, maupun ketika mengkategorikan kelompok-kelompok Islamis ini.

Jalur transmisi ide-ide islamisme, menurut studi mereka berdua, mengambil tiga jalur (Greg Fealy dan Anthony Bubalo; 84) . Pertama, gerakan-gerakan sosial. Di jalur ini transmisi ide dibawa oleh pelajar atau mahasiswa yang belajar di Timur Tengah. Mereka belajar di Universitas Al-Azhar Kairo, Universitas Islam Madinah, Universitas Umul Qura Mekah, Universitas al-Imam Muhammad bin Saud di Riyadh, atau Universitas King Abdul Aziz. Sementara itu, saluran utama kelompok jihadis adalah melalui perang Afghanistan pada 1980-an yang kemudian melahirkan kelompok Al-Qaeda dan Jamaah Islamiyah.

Kedua, jalur pendidikan dan dakwah. Lembaga-lembaga dan beberapa orang dari negara Timur Tengah termasuk Mesir Kuwait belakangan cukup aktif berkiprah di bidang pendidikan dan dakwah di Indonesia. Agen-agen itu meliputi atase kedutaan Arab Saudi di Jakarta, Rabithah Alam Islami, International Islamic Relief Organization (IIRO) dan Word Assembly Muslim Youth (WAMY), atau lembaga amal nonpemerintah seperti al-Haramain –yang cabangnya di Indonesia dituding Amerika sebagai organisai pendukung terorisme (Greg Fealy; 92).

Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Cabang Universitas al-Imam Muhammad bin Saud di Riyadh, Arab Saudi juga dianggap salah satu lembaga yang mentransmisikan ide-ide Ikhawanul Muslimin dan salafi. Sebagian alumninya ada yang menjadi petinggi PKS.

Penelitian Sidney Jones menyebut sebagian besar para alumni menjadi figur berpengaruh dalam gerakan Salafi di Indonesia melalui penerbitan, atau dengan menjadi dai, guru maupun ulama. (Greg Fealy; 96). Tiga organisasi yang secara khusus mendapat dukungaan signifikan dari Saudi adalah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jamiat Islam wa al-Irsyad dan Persis.

Ketiga, jalur publikasi dan internet. Melalui sejumlah media baik cetak maupun online, atau buku-buku dalam versi Arab maupun terjemahan, juga menjadi salah satu jalur transmisi cukup efektif. Beberapa penerbit buku di Indonesia bahkan mengkhususkan menerbitkan atau menerjemahakan buku beraliran Salafi dan pemikiran-pemikiran dari kalangan Ikhwanul Muslimin.

Studi Greg Fealy dan Bubalo ini selanjutnya menyebut tiga arus utama gerakan Islamisme yang ada di Tanah Air. Pertama, Ikhawanul Muslimin yang diadopsi gerakan Tarbiyah dan mulai berkembang di perguruan tinggi di era 80-an dan awal 90-an. Di masa itu, gerakan ini berkembang underground karena tekanan rezim Soeharto. Konsolidasi ini menemukan momentumnya ketika rezim Soeharto tumbang. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang berdiri pada April 1998, sebagian pemimpinnya kemudian mendirikan Partai Keadilan yang kemudian berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera.

Kedua, kelompok Salafi. Kelompok ini sebagian besar berbasis lembaga dakwah dan pendidikan. Misalnya Yayasan al-Sofwah, Yayasan Ihsa at-Turost, dan Al-Haramain al-Khoiriyah. Gerakan Salafi yang cukup fenomenal adalah Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Waljamaah (FKAWJ) yang melahirkan Laskar Jihad pimpinan Jafar Umar Tholib. Berdiri 1998, bubar Oktober 2002.

Ketiga, kelompok Jihadi. Kelompok ini adalah kelompok paling ekstrim dari gerakan Islamisme yang mengesahkan kekerasan seperti bom bunuh diri. Jaringan Islamiyah yang didirikan pada 1 Januari 1993 oleh Abdullah Sungkar. Jejaring inilah yang kemudian melakukan aksi-aksi bom bunuh diri seperti yang dilakukan Imam Samudera dan kawan-kawan.

Disamping, apa yang disampaikan Greg Felay dan Bubalo, Pertanda kemunculan lslam Trans Nasional, yang jadi bagian program Globalisasi, yaitu menghilangkan semua unsur lokal dari etnis, bahasa, budaya, agama, bahkan teritorial agama, yang dihembuskan era berakhirnya Perang Dingin 1990-an. Globalisasi. Trans Nasional Millenial. Semua gerakan yang dimotori lmperium Global itu menggilas identitas lokal bangsa-bangsa.

Tahun 2009 – 2010, Kiai Agus Sunyoto, sejarawan penulis buku “Atlas Walisongo” mengadakan Grounded Research di desa-desa yg mayoritas Nahdliyyin di sekitar Ponpes NU. Hasilnya, mengejutkan!

Anak-anak usia PAUD tidak ada lagi yang dinamai nama lokal ndeso khas NU seperti Sumaji, Taji, Margiono, Koirul, Riduwan, Dahlan, Joko, dll, sebaliknya berubah menjadi Farel, Arfando, Tony, Johni, Roy, Ronaldo, dll.

Yang puteri, tidak ada lagi nama lokal ndeso seperti Sringatun, Marpuah, Suyati, Ngaisah, Rahayu, Wariyem, dll, karena sudah berubah dgn nama-nama Global seperti Adelia, Cornelia, Agatha, Donna, Eliza, Vinna, dll.

Tidak satu anak pun memanggil ibunya dengan sebutan akrab Emak apalagi Embok, tapi Mama, Mami, Bunda. Bapak pun dipanggil Papa, Papi. Paman jadi Om. Bibi jadi Tante.

Saat diperlihatkan slide gadis Jawa, Sunda, Bali, Melayu, lndo lnggris, Belanda untuk dinilai kecantikannya, 46 dari 50 anak muda memilih gadis lndo lnggris dan Belanda sebagai yang tercantik. Gadis lokal, jelek, pesek, sipit. Jiwa lokal dalam menilai kecantikan sudah berubah.

Makanan lokal seperti Cenil, Jemblem, Ongol-ongol, Orem-orem, Srawut, Gatot, Tiwul, Horok-horok, lwel-iwel, Otok-otok, dll, dianggap makanan ndeso, kampungan, rendah gizi dan kemproh. Sebaliknya makanan Global seperti Hot Dog, Burger, Fried Chicken, Pizza, Brownies, Strudel, dll, dinilai sebagai makanan superior yang bergizi, bersih, elegant, menaikkan gengsi mereka yang mengkonsumsi.

Pendek kata, berbagai aspek lokal lndonesia pada tahun 2009 – 2010 itu sudah berubah bahkan makin “nemen” tahun sekarang ini, yang ditandai fenomena radikal dalam memaknai lslam, di mana unsur lokal dinilai sebagai buruk, sesat, rendah, kafir.

Aneh sekali, muslim pribumi sangat antipati dengan semua hal yang bersifat lokal. Saat itu sekolah pun demam global, internasional, hingga muncul sekolah bertaraf internasional yang menilai rendah sekolah lokal, bahkan Negara lndonesia yang dibangun di atas tumpahan darah, air mata, harta benda, jiwa, dinilai sebagai negara thoghut, berhala yang harus dibubarkan, untuk digantikan negara lslami yaitu Khilafah, tanpa jelas siapa Khalifahnya.