Tulisan ini adalah sebagian dari review diskusi Madrasah Islam Nusantara di Sanggar Banyu Tunggulsari Tulungagung pada Jum’at 15 September 2017. Maksud dari sebagian adalah, masih banyak lagi hasil diskusi di Madrasah Islam Nusantara yang belum terpublikasi.

Madrasah Islam Nusantara di Sanggar Banyu Tunggulsari Tulungagung yang dikonseptori oleh Mbah Senggle langkah ke depannya akan banyak membedah kajian Islam Nusantara dari berbagai sudut pandang. Sehingga, para peserta yang mayoritas adalah mahasiswa memiliki kebiasaan berdiskusi dan memiliki pengetahuan yang komprehensif khususnya terkait Islam Nusantara.

Sebagaimana ide gagasan Islam Nusantara di usung saat Muktamar 33 di Jombang tahun 2015 oleh Nahdlatul Ulama’, banyak cemoohan dan bullyan kepada NU, pengurus NU dan para ulama’-ulama’ NU di semua jajaran. Tapi sayangnya para pencemooh dan pembully itu tidak mampu menunjukkan argumen atau fakta yang menguatkan pendapat mereka. Sikap anti pati, mereka bangun atas dasar pokoknya beda. Bukan atas dasar kebenaran logika maupun kebenaran teori. Tapi semata dalam konteks berhadapan antara dua sisi yang penting “beda dengan NU” bahkan posisi berhadapan ini, ibaratkan warna adalah hitam dan putih, yang tak menerima kompromi penjelasan. Model kelompok yang berorientasi”pokoknya beda dengan NU” inilah yang justru Mulazimatul jidaal melanggengkan perdebatan tak berujung pangkal sampai kapan pun.

Dalam memahami sebuah istilah ada dua posisi makna dari istilah tersebut. Pertama makna berarti sebuah ide, konsep,atau bahkan obyek itu sendiri. Kedua makna sebagai sebuah fungsi dan relasi antara kata atau istilah yang berfungsi sebagai petunjuk(signifier) dan konsep-konsep serta makna yang ada(signified). Oleh karenanya dalam memahami frase Islam Nusantara harus didefinisikan agar dipahami khalayak umum dan tidak menyisakan perdebatan tanpa guna yang melelahkan.

Secara etimoligis, frase Islam Nusantara terdiri dari dua kata Islam dan Nusantara. Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW, yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadist. Atau dalam bahasa yang lebih kontekstual, Islam berarti sebuah subtansi nilai dan seperangkat metedologi yang bisa saja ia miliki kesamaan atau pertemuan dengan subtansi nilai yang berasal dari agama, ilmu atau bahkan tradisi lain di luarnya. Misalnya subtansi kejujuran, keadilan, kemanusiaan.

Sementara frase kedua Nusantara sebagaimana terdapat dalam Kamus besar Bahasa Indonesia edisi IV, term Nusantara adalah sebutan bagi wilayah kepulauan Indonesia. Maka jika melihat dari dua definisi tersebut, dan jika kita berdisiplin dengan kamus, secara etimologis, Islam Nusantara adalah ajaran Islam yang ada di Nusantara (Indonesia). Sebagaimana kalimat yang sering kita dengar dan sering dilontarkan ” Islam Indonesia adalah orang Indonesia yang beragama Islam, sehingga tidak luntur ke Indonesiaanya baik secara budaya dan adat ketimurannya”.

Adapun secara terminologi, frase Islam Nusantara merupakan tarkib idhofi dengan menyimpan huruf jarr berupa ba'(di), fi (di dalam), dan lam(untuk/bagi). Jika ada yang mengatakan frase ini salah dan tidak boleh masuk pada susunan kalimat bahasa Arab, maka perlu di cermati sekali lagi karena banyak bahasa Indonesia yang berasal dari serapan termasukserapan dari bahasa Arab atau lainnya. Dengan demikian, frase Islam Nusantara dapat dijelaskan melalui tiga gradasi pemaknaan sesuai dengan huruf jarr yang tersimpan/berada di antara kata Islam dan kata Nusantara.
Pertama jika huruf jarr yang tersimpan diantara frase Islam dan Nusantara itu huruf ba’, maka konotasi maknanya bersifat geografis,yakni Islam yang berada di wilayah kepulauan Nusantara. Jadi bagaimana wajah Islam yang berada di Nusantara? Hal inilah yang kemudian perlu digali dan didekati dengan berbagai kajian. Apakah Islam yang berada di Nusantara murni Islam yang tidak bercampur dengan budaya lokal? Yang pada hal rosulullah sendiri berbasis pendekatan tampilan budaya ketika beliau hijrah ke Madinah, terbukti tampilan jubah dan sorban yang dipakai Rosulullah adalah sebagaimana yang dipakai masyarakat penduduk Madinah, beliau menyesuaikan budaya lokal yang berlaku atau dalam peribahasa kita” dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung.

Kedua, apabila yang tersimpan huruf fi,maka Islam Nusantara berarti ajaran Islam yang menginternalisasi dalam diri dan kehidupan masyarakat muslim Nusantara. Makna kedua ini bersifat antropologis-sosio kultural. Sebagaimana Rosulullah berpidato pada pertama kali saat hijrah kepada para Muhajirin dan Anshor dengan kalimat ” Yaa ayyuhannaas afsyussalam, wa ath ‘imuthoam, wa shollu fil lail wan naasunniyaam” wahai ummat manusia, sebarkanlah salam(perdamaian), dan berikanlah makanan, dan sholatlah di malam hari saat para manusia sedang tertidur.

Dari pidato yang disampaikan Rosulullah Muhammad SAW ada 3 dimensi yang ingin disampaikan beliau, berawal dengan penggunaan kata ya ayyuhannaas kalimat yang memiliki jangkauan lebih luas tanpa ada pembeda antar sesama. Baik penduduk asli, pendatang, muslim, nasrani, atau kafir sekali pun, dipanggil dengan nama yang sama tanpa pembeda. Karena Rosulullah faham dan cerdas, maka memilih bahasa menjadi satu hal penting mengawali pertemuan. Afsyussalam tebarkan salam atau tebarkan perdamaian, tidak mungkin keharmonisan sosial bisa terwujud tanpa keakraban saling sapa dan saling peduli, sehingga ketika lingkungan masyarakat sudah sampai pada keakraban, maka perdamaian akan mudah dilaksanakan. Ath ‘imuthoam berikanlah makanan, dimensi sosial mulai dibangun kembali demi kesejahteraan, dengan memberikan makanan, kita akan peka terhadap masalah masyarakat dan bagaimana memberikan solusi. Tidak sekedar menghitung berapa yang miskin, tapi juga berbuat untuk menyelesaikan masalah yang menyangkut kebutyhan hidup.

Kedua hal di atas memiliki dimensi sosiologis dan antropologis yang butuh penyelesaian bersama. Karena dengan menjawab kedua masalah tersebut maka masalah lain juga sudah terjawab. Dan ada satu dimensi yang tersimpan pada pidato Rasulullah yakni” wa shallu fil lail wan naasun niyam” dimensi ketuhanan disampaikan oleh Rasulullah agar dilaksanakan di saat para manusia lain sedang tertidur. Maknanya urusan ibadah memang penting, tapi sampaikan tanpa memaksa!!

Ketiga,jika huruf yang tersimpan adalah huruf lam, maka yang dimaksud dengan Islam Nusantara adalah ajaran Islam yang agung nan mulia itu diharapkan dapat memberikan hikmah dan manfaat bagi seluruh makhluk yang berada di Nusantara. Tidak hanya itu, hikmah dan manfaat serta rahmat dari Islam dapat juga dirasakan bagi seluruh penghuni alam semesta. Atau dengan bahasa lain Islam Rohmatan lil Alamin. Dengan demikian tidak ada kontradiksi antara term Islam Nusantara dengan Islam Rohmatan Lil Alamiin, sebab pada endingnya konsep dan gerakan Islam Nusantara adalah pengejawantahan ajaran Islam yang damai, toleran, santun dan berkarakter bagi semesta.

Pemaknaan terakhir ini merupakan tujuan sekaligus output yang ingin diwujudkan dari wacana Islam Nusantara. Dari ketiga pemaknaan di atas dapat kita ketahui bahwa kajian Islam Nusantara meliputi kajian Geografis, antropologis, sosiologis dan futuristik. Kajian secara geografis meliputi kajian tentang kawasan, demografis sekaligus historis. Kajian secara antropo-sosiologis meliputi antara lain kajian terhadap tipologi, budaya, politik dan etika masyarakat Nusantara. Sementara kajian futuristik meliputi kajian yang bersifat prediktif dan strategis mengenai perkembangan masyarakat muslim.

Dari penjelasan tersebut kita simpulkan bahwa wilayah kajian Islam Nusantara sangat luas dan multitema. Karena itu, pelacakan epistemilogy, perumusan metodologi dan aksiologi yang khas dan ilmiah harus terus digalakkan. Terbuka ruang lebar untuk mengkaji Islam Nusantara agar pemahaman yang muncul bukanlah pemahaman yang mengedepankan ego sectoral dan kepentingan tertentu misalnya menampilkan Islam Nusantara sebagai proses Jihad dalam perspektif perjuangan penggulingan kekuasaan para raja atau menampilkan kajian Islam Nusantara sebagai logika cocoklogi mengislamkan kerajaan di Nusantara contohnya menyebut Majapahit adalah kerajaan Islam. Sehingga membongkar dan mengotak-atik hal yang secara fakta tidak bisa diterima oleh logika. (Din) (bersambung)