Agenda Akhir Tahun 2016 diwarnai dengan debat di medsos bertajuk Natal dan Tahun Baru. Serasa beda dengan tahun sebelumnya, karena tahun ini pemanasan debat medsos sudah diawali dengan tema 411 dan 212( yang gak update pasti bingung). Berbagai statemen pro dan kontra muncul pasca 212 yang identik dengan pendekar Kapak Naga Geni si Wiro Sableng. Mulai otak-atik tanggal, ramalan cuaca, dan simbol tokoh yang mengusung mainstream aksi ini.

Pasca aksi bermunculan broadcast untuk boikot Sari Roti dan penarikan uang dari bank supaya Bank Bangkrut. Tidak berhenti disitu, cemoohan dan bullying kepada para tokoh NU di jajaran PBNU juga tak terlupakan. Untungnya para Banser dengan sigap mengeksekusi si pencemooh bahkan para Banser juga merilis daftar penghina tokoh Nusantara yang mayoritas adalah tokoh NU. Sehingga kejadian penghinaan ini menjadi pelajaran bagi yang lain untuk tidak melakukan hal yang sama.

Langkah para Benteng Ulama'(BANSER) tidak berhenti disitu saja, mereka juga membentuk pasukan cyber yang bertugas melakukan swiping di media maya terhadap akun-akun penghina Ulama’ yang mencoba memperkeruh suasana berbangsa dan bernegara. 

Berlanjut pada perdebatan agenda rutin tahunan masalah Natal dan Tahun Baru, walaupun tanpa ada kepanitiaan secara resmi, debat ini selalu ramai dengan hujatan dan dakwaan pengkafiran bagi pihak yang berada pada kubu yang membolehkan pengucapan Natal dan Tahun Baru(asal gak sama ya dituduh kafir oleh kelompok penentang pengucapan selamat Natal dan Tahun Baru).

Mewarnai sela-sela agenda debat medsos adalah fenomena “Om Telolet Om” yang mendadak viral dan mendunia tanpa ada komando dan setting latar belakang matang. Tapi fenomena “Om Telolet Om” juga diseret pada ranah pengkafiran pada orangbyang mengucap kalimat “Om Telolet Om” dengan dalih, kalimat ini bermakna”Tuhanku Yahudi”. Sungguh lelucon konyol,karena logika bahasa selalu berarti kafir. Saya mengangap fenomena Telolet sebagai wujud kejenuhan masyarakat terhadap hal yangbterjadi di dunia nyata dan fenomena dunia maya(dunia medsos). Bahkan Twit Donal Trump sang presiden terpilih Amerika,juga dibalas oleh 93% netizen dengan balasan”Om Telolet Om”,yang mereka sendiri tidak faham arti kalimat itu apa.

Berlanjut pada masalah pergantian tahun baru, gerakan broadcast menjadikan malam tahun baru sepi pun dilakukan oleh kelompok sumbu pendek di dunia medsos. Faktanya, malam tahun baru tetap ramai dan jalan tetap macet. Dimana mereka yang keras bak singa mengaung saat berdebat di medsos dengan menyusun gerakan membuat sepi malam tahun baru? Mereka bersembunyi dibalik kenaifannya dan membaur dalam acara pergantian tahun baru dengan bungkus yang lain. Buktinya mereka juga punya foto kegiatan tahun baru dengan hiruk pikuknya. Logikanya,darimana mereka mendapat foto acara yang mereka benci kalau tidak hadir di acara atau menyuruh orang hadir dan mengambil gambar?.

Jadi,pada prinsipnya dunia maya(medsos),dan dunia nyata, saling beririsan satu dan yang lainnya.Supaya irisan dunia maya,dunia nyata bisa bertemu dengan frame dan frekwensi yang harmoni,harus ditambah dunia ghaib(ziarah). Karena dengan ziarah kita akan teringat bahwa segala yang kita lakukan di dunia nyata dan dunia maya akan dipertanggungjawabkan. Minimal ada pengingat bahwa dunia adalah ladang untuk menanam kebaikan yang akan kita panen di akhirat.