Perkenalan dengan Drs. H.Mohammad Arifin, M.Pd.I berlangsung saat audiensi terkait masalah guru dan pendidikan Madrasah di Tulungagung khususnya dijajaran Pendma yang kebetulan beliau sebagai Kasi Pendma. Pasca perkenalan tersebut, kontak via WA atau FB sering kita lakukan untuk membincang hal-hal penting sampai pada guyonan.

Sesuatu yang mengagetkan ketika kemarin, Rabu, 20 September 2017 jam 17:28 kabar via WA diberbagai grup yang menulis bahwa beliau meninggal dunia karena sakit, pendarahan otak di RSUD Dr Sutomo Surabaya. Padahal sebelumnya beliau sehat dan makan bareng dengan para kolega dijajaran Kemenag Kanwil Surabaya. Pasca makan, beliau tersendak yang mengakibatkan pingsan dan langsung dibawa ke RSU terdekat sampai dirujuk ke RSUD Dr. Sutomo Surabaya dan memang ajal hanya Allah yang tahu, sebegitu cepat, beliau dikabarkan sudah meninggalkan kita semua pada usia 51 tahun. Usia yang masih muda, tapi itulah kehendak Allah yang ketika sudah sampai ajal seseorang, maka tak ada satu pun yang dapat mengajukan atau mengakhirkan.

Semoga amal dan bhakti panjenengan diterima sebagai amal khasanah dan dibalas yang lebih baik oleh Allah SWT. Dan keluarga yang ditinggalkan diberikan keimanan, kesabaran, dan ketaqwaan. Selamat jalan Pak Arifin. semoga khusnul khotimah. Aamiin.

Seringkali kita melihat atau mendapati berita para pejabat dan konglomerat sampai akademisi dan politisi yang meninggal dalam usia muda. Usia yang layaknya keumuman mencapai kebugaran dan stamina ynag fit. Bahkan tak jarang pula mereka meninngal dunia setelah atau sedang jeda istirahat saat berolah raga. Memang benar jika jodoh, rejeki, dan pati hanya Allah yang tahu. Tapi berikut ini, saya lampirkan tulisan dan pengalaman seorang sahabat (Gus Rizal Mumaziq) terkait apa yang beliau alami dan ketahui dari gurunya jaman di pondok. Monggo disimak!

OLAH RAGA VS DZIKIR

http://regional.kompas.com/read/2017/09/06/19485561/plt-sekda-kota-batu-meninggal-saat-bermain-futsal-bersama-wartawan

Apa yang ada di benak keluarga pondok Pesantren Luhur Malang ketika membaca berita semacam itu?

Bukan sekali dua kali kita membaca berita seperti itu. Artis Adjie Massaid meninggal usai futsal. Pada 2007, di Jombang ada tokoh yang meninggal usai bulu tangkis. Ada pula pelatih tenis lapangan yang meninggal di lapangan tenis Kebon Rojo Jombang.

Suatu ketika Pengasuh Pesantren Luhur Malang, Abah Prof Dr KH Ahmad Muhdlor pernah menyampaikan cerita yang senada dengan hal ini. Kalau tidak salah ini disampaikan saat halaqah usai istighotsah Subuh. ’’Halaqah itu penting,’’ ucap beliau. Istigotsah habis Subuh juga tidak kalah pentingnya.

Dulu, kata beliau, ada temannya sesama dosen UIN yang setiap hari lari pagi dan nyamperin beliau ke rumah. ’’Pak Haji ayo lari pagi,’’ ajak temannya itu. Pak Haji, adalah panggilan lain KH Ahmad Muhdlor.

Abah tidak pernah menggubris ajakan lari pagi itu. ’’Saya pilih Istigotsah dari pada lari pagi,’’ cerita Abah Muhdlor.

Hasilnya? ’’Dosen itu usianya jauh lebih muda dari saya. Tapi dia meninggal duluan. Saya yang rutin istigotsah Subuh masih segar bugar sampai sekarang,’’ ucapnya. Sampai saya boyong 2005 Abah memang masih segar bugar. Beliau meninggal dalam usia 76 tahun pada 2013.

Rosulullah bersabda, lembutkanlah makananmu dengan zikir dan shalat. Minimal shalat empat rakaat, membaca tasbih seratus kali atau baca Alquran satu juz.

Tokoh sufi Sufyan Assauri (lahir 96 H wafat 161 H, berusia 65 tahun), ketika kenyang pada malam hari dia menghabiskan malamnya untuk ibadah. Ketika kenyang pada siang hari dia habiskan siangnya untuk zikir dan shalat.

Jika makanan saja bisa dilembutkan dengan shalat dan dzikir, pastilah dengan dzikir dan shalat itu badan menjadi lebih segar dan bugar. Ketika sel-sel tubuh mendengar bacaan Qur’an dan dzikir, dia akan meregenerasi secara otomatis sehingga makin sehat.

KH. Masduki Alhafid Perak, setiap ngaji ahad wage pagi di Mushola Wali Songo Balai Desa Candimulyo Jombang selalu memotivasi untuk memperbanyak dzikir dan baca Qur’an. Sebab bacaan Al-qur’an itulah yang diakui beliau menjadikannya kiyeng, sehat, bebas makan apa saja, tidak punya riwayat penyakit aneh-aneh, dan masih kuat menjalankan tugas sebagai suami ditengah usianya yang sudah lebih dari 80 tahun.

Suatu ketika usai perang, Nabi mendapat banyak rampasan termasuk budak.

Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah datang hendak minta seorang budak untuk membantu pekerjaan rumah tangga agar tidak terlalu capek.

Namun Rosulullah menjawab, tak perlu pembantu agar tidak capek. Cukup sebelum tidur baca subhanallah 33 kali, alhamdulillah 33 kali dan Allahu akbar 34 kali. “Sejak itu aku tidak pernah meninggalkannya,” kata Sayyidina Ali. Luar biasa solusi yang diberikan Rasulullah kepada Putri kesayangan beliau dan menantunya.

Kesimpulan dari tulisan di atas adalah, olah raga penting, dzikir pun penting. Kebutuhan ruh, bukan hanya raga yang sehat, tapi sambungan dan bimbingan kepada yang mencipta dan memberikan ruh haruslah terkineksi dengan baik dan dilakukan secara istiqomah melalui dzikrullah, munajat dan Istighosah.(Din)