Beragama bukan sekedar surga neraka, beragama bukan sekedar simbolik semata, tapi bergama adalah wujud perdamaian dan kasih sayang terhadap sesama, dan alam semesta.

Kalimat diatas yang tidak dimiliki dalam kosa kata para biadab teroris. Pasalnya capaian beragama bagi mereka adalah surga, yang diraih dengan segala cara.

Mereka tak berfikir bagaimana jika saudara mereka menjadi yatim piatu karena aksi kebiadabannya. Mereka tak berfikir apakah cara mereka menuju surga pernah dilakukan oleh para mentornya? Mereka juga tidak pernah berfikir bahwa selain mereka adalah manusia. Sehingga dengan enteng saja, mereka meledakkan diri dikerumunan manusia.

Semalam terdengar kabar bahwa pelaku bom di Surabaya adalah satu keluarga yang menurut tetangga dan warga sekitar adalah keluarga bahagia, yang harmonis dan taat beribadah bahkan sangat bagus dalam perangai bersosial bersama masyarakat.

Kebetulan juga, keluarga harmonis dan islamis ini, baru saja pulang dari Suriah. Memang aneh ketika ketaatan beragama justru menjadikan mereka semakin tidak punya rasa kasih sayang terhadap sesama.

Entah makanan apa yang masuk dalam perut mereka. Entah orang tua mana yang telah mendidik dan membesarkan mereka. Entah siapa yang mengajari mereka beragama. Entah darimana mereka mengenal kasih sayang sesama.

Hanya Iblis yang pernah menjadi teladan bagi mereka yang merasa paling TOP dalam ibadah, lantas sombong dan berbesar kepala. Hanya Iblis yang pernah menjadi panutan para pengaku hamba terbaik dan menyalahkan hamba yang lainnya. Maka, hanya Iblis yang dianut para teroris.

Mereka mengaku pembaca al Qur’at tapi nyatanya hanya sampai ditenggorokan. Mereka menasbihkan diri sebagai pembela hukum Allah, tapi lupa bahwa Allah maha mencintai dan mengasihi.

Doktrin mereka hanya musuh, kafir, surga dan neraka. Padahal beragama harusnya membawa kedamaian dan kasih sayang baik sesama agama maupun dengan yang beda agama.

Maka satu pertanyaanku untukmu kawan “apa engkau sedang mabuk agama kawan?” sehingga engkau tak tahu bias pelangi dan mana yang hakiki.