Oleh: Hendri Owner Naja Sablon Kauman.

Hujan mengguyur Tulungagung cukup deras, Sabtu sore, 10 Nopember 2018 menyisakan kesunyian dan kesejukan tersendiri di malam Minggu yang bagi para jomblo dianggap hujan berkah karena malam Minggu tak yerasa sendirian meratapi kesendirian. Bagi saya, suasana hujan sore ini adalah situasi yang indah, sepi sunyi, tenang menyejukan untuk melakukan sebuah refleksi, meditasi, dan juga introspeksi. Meresapi dengan hati apa yang telah terjadi dan merencanakan apa yang akan dilakukan esok hari.

Refleksi dan meditasi sering saya lakukan untuk mengevaluasi diri dalam menjalankan kesibukan beraktifitas rutin menjalani lakon kehidupan untuk menjadi manusia yang mampu memberikan manfaat bagi makhluk lainnya. Saya sadar bahwa kunci menjalani lakon kehidupan diantaranya adalah berhasil memahami alur dan pola komunikasi dengan baik dan situasional. Perlu membaca dan mengetahui siapa lawan komunikasij dan tema apa yang dikomunikasikan. Sehingga tidak terjadi overlaping atau trouble dalam pemahaman berikutnya.

Sesuatu yang baik tidak akan terwujud, tanpa adanya pembicaraan dan komunikasi yang baik. Baik terhadap diri sendiri, maupun orang lain. Bahkan terhadap Tuhan melalui sebuah do’a. Sehingga keberhasilan menganalisa diri dan analisa sistem komunikasi menjadi kunci keberhasilan seseorang.

Namun tak sedikit, kita tenemukan, banyak khalayak yang tidak menganggap penting komunikasi dan mengabaikan begitu saja. Mereka menganggap materi atau uang adalah segalanya. Sehingga tak perlu komunikasi verbal atau tatap muka dan menjalin keakraban terhadap sesama. Padahal ketika nabi Adam diajari ilmu pengetahuan dan menguasainya, Allah SWT memerintahkan kepada Adam untuk perform dihadapan para Malaikat sebagai wujud komunikasi. Jelas sudah bahwa tanpa komunikasi, maka sesuatu yang baik tidak akan tersampaikan. Begitu pula sebaliknya. Komunikasi yang jelek, akan membuat keberhasilan terkendala.

Saat seseorang tak mampu berkomunikasi dengan baik, maka yang terjadi adalah renggangnya hubungan sosial, baik diranah organisasi maupun masyarakat. Terjadinya skat-skat informasi, eliminasi, dan kebiasaan negatif yang menyebabkan kesuksesan bersama tidak lagi menjadi tujuan, dan cenderung individualis dan hanya berorientasi pada berkepentingan pribadi dan sesaat.

“Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan sesuatu dengan sia sia, maka lindungi kami dari buruknya komunikasi dan dari siksa neraka”

#sukakopi