Kemarin ada capres datang ke salah satu kantor ormas Islam bersama Mbak Yeni Wahid, ketika diminta untuk menjadi imam sholat berjama’ah, malah nolak dan menunjuk mbak Yeni untuk jadi Imam dengan alasan keturunan keluarga Kyai. Lha masalahnya, ini imam sholat, yang haruse laki-laki jadi imam walau pun ada perempuan hebat yang lebih fasih bacaan qur’annya.

Adalagi capres yang bilang alpatekah dengan Jawa medok pol, diteriaki Islam karbitan dan PKI, ee saat di Ponpes Jombang, beliau menjadi imam sholat berjama’ah bersama para keluarga pondok. Pun kabarnya beliau akan hadir dalam undangan tes baca qur’an yang dilayangkan oleh salah satu lembaga dari Aceh, lha pasangan lainnya yang pernah menyebut hulaihi wa salam, malah kabur menolak hadir.

Waktu natal juga demikian, ada yang buat meme bahwa pasangan salah satu capres diedit sehingga menyerupai sinter klas simbol kristiani pembagi hadiah saat natal. Padahal disisi lain capres yang satunya justru merayakan natal dan berjoged-joged. Demikian tersebut anehnya musim pilpres, yang Kyai diteriaki kafir, yang jelas ikut merayakan natal malah di Kyaikan. Lagian, salah siapa yang mempermasalahkan natal.

Pernah juga ada calon wapres yang ziarah makam ulama’, tapi malah gak ngerti etika ziarah dan melangkahi makam yang diziarahi, tambah lagi aksi wudhu pakai air satu gayung dengan mencelupkan kedua tangan sampai akhir, padahal kondisinya, didepan gayung adalah kolah tempat wudhu dengan air melimpah. Ia seakan memperagakan wijik/isuh yang digabung dengan wudhu ataubdisebut wushu, dengan air dua qolah lebih satu gayung.

Memang aneh jika kita melihat polah dan tingkah masyarakat saat pilpres, apalagi 2019 menurut saya adalah pilpres dengan menyeret isu agama dan anti pemerintah yang sah. Perlu kejernihan pikiran dalam mengelola bahasa dan berkomunikasi. Karena efek pilpres tahun 2019 adalah semakin merebaknya virus ngawur dan malas mencerna berita dan berakhir pada kebodohan yang bertumpuk.

Isu PKI dibangkitkan lagi, lha anehnya, bangkitnya kok ya hanya mendekati pilpres. Ada yang luput dari subtansi pendidikan politik hari ini, yaitu kampanye dengan mengedepankan adu program dan gagasan dari kedua kubu capres dan cawapres. Sehingga pemilih disuguhkan pilihan program rasional, bukan menyeret isu agama dan isu anti pemerintah.

Jika ada yang sibuk mencaci orangn lain serta mengorek kesalahan orang lain, maka sebenarnya orang yang demikian inilah golongan orang-orang yang minim dengan prestasi dan kebaikan.

Karena jika dia orang baik dan berprestasi, maka ia tidak akan punya waktu untuk mengorek kejelekan orang lain, karena waktunya, akan habis untuk berbuat baik dan menorehkan prestasi.

Butuh nalar sehat, dan pengetahuan luas serta cara pandang utuh dalam memahami hiruk pikuk pilpres 2019 agar tak terjebak dalam perdebatan dan halusinasi tanpa bukti. Memang benar jika ada ungkapan, pilpres perlu dipercepat, agar kabut kebodohan yang menyelimuti para kader bangsa segera berlalu dan berganti dengan ketentraman berfikir dan kejernihan nalar.