Membaca tulisan Kyai Ahmad Baso saat Haul Kanjeng Sunan Ampel serasa tersadar bahwa kita yang selama ini menekuni dunia pendidikan dan bahkan memakai nama para wali, ternyata ada kebergeseran subtansi keilmuan dari punjer(pusat asalnya) ilmu tersebut dalam hal sanad pengetahuan. Hal ini dalam rangka mengambil nilai-nilai ajaran yang menjadi pengetahuan baru dalam mewujudkan masyarakat yang beradab.

Sebagaimana kita faham bahwa sanad keilmuan akan dapat dikatakan valid apa bila dapat ditunjukkan dari tiga macam: pertama sanad secara kitab, maksudnya kitab yang dipakai rujukan adalah sama secara turun temurun. Sehingga saat terjadi pentahrifan(pengubahan) redaksi kitab, langsung dapat diketahui. Kedua Sanad secara guru yang brrsambung dengan jelas sampai Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dan yang Ketiga Sanad Secara Nasab, artinya kebersambungan sebuah pengetahuan juga di dukung dengan nasab yang bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya dahulu, para kyai akan menanyakan detail nasab seseorang sebelum nyantri atau waktu menikahkan anaknya. Sehingga semuanya dapat dipertanggungjawabkan dengan jelas.

Kembali lagi pada Status yang ditulis oleh Kyai Ahmad Baso dengan redaksi sebagai berikut “Hari ini haul agung Kanjeng Sunan Ampel. Kemanakah gerangan ilmunya Guru Besar Wali Songo ini? Adakah kini di kampus yg pakai nama beliau yg di Surabaya itu?” dari tulisan ini tersirat seakan ada keraguan Kyai Ahmad Baso dalam memandang dan menilai apa yang ada dan diajarkan di Kampus yang memakai nama Kanjeng Sunan Ampel, masih ada atau bisa merawat bahkan menerjemahkan nilai-nilai luhur ajaran Kanjeng Sunan Ampel dalam mengelola kampus UIN Sunan Ampel. Tentunya statement Kyai Ahmad Baso bukan untuk ditanggapi dengan emosi, karena ini bukan untuk pembenaran atau mencari benar sendiri. Tapi tulisan Kyai Baso, sebagai introspeksi dan otokritik terhadap IAIN yang memakai nama Kanjeng Sunan Ampel menuju kebaikan bersama.

Masih dalam tulisan lanjutannya, Kyai Ahmad Baso menuliskan “Raden Kyai Ronggowarsito menyebut dalam kitabnya Serat Wirid adanya ijma Wali Songo dalam ilmu ilmu agama Islam di Nusantara. Bahasanya untuk ijma itu adalah angumpulake wewejanging para wali. Salah satu ijma itu adalah ilmu tasawuf Nusantara dan sanadnya bersambung dari diri Ronggowarsito hingga ke Kanjeng Sunan Ampel terus ke Kanjeng Rasulullah SAW. Semua ilmunya para Wali memang berpangkal pada diri ayahanda Sunan Bonang ini. Kini dimana lagi ijma Nusantara itu diajarkan? Dimana lagi ilmunya Sunan Ampel diajarkan?”

Dari tulisan diatas ada semangat “Revolusi Pendidikan dan Pengajaran di kampus kampus kita yang memakai nama para Wali Songo dan para ulama’ Nusantara” minimal ada upaya menemu kenali nilai-nilai luhur ajaran dan pengajaran yang digunakan para wali dalam syi’ar di Nusantara.

Sebagai penutup Statusnya, Kyai Ahmad Baso membuka arah panggung ilmiah yang bisa disebut dengan Revolusi Pendidikan Ijma’ Wali Songo dengan kalimat “lebih jelas tentang Sunan Ampel ada di buku saya Islam Nusantara dan The Intellectual Origins Of Islam Nusantara” kalimat yang bertanda kutip ini menurut saya adalah sindiran halus dan kesempatan membuka ruang untuk mengkritisi dan menemukan kembali Nila-Nila Pendidikan Kanjeng Sunan Ampel yang merupakan Sumber dan muara bertemunya keilmuan wali songo atau biasa disebut Ijma’ Wali Songo. 

Bisa jadi transformasi nilai pendidikan Kanjeng Sunan Ampel dilakukan dengan membuat SOP yang dijalankan semua dosen dengan menyampaikan nilai-nilai kejujuran, kesahajaan, kesholehan sosial, yang dulu diajarkan kanjeng sunan Ampel kepada para Santrinya. Bukan sekedar bercerita tahun dan kejadian serta keramat beliau Kanjeng Sunan Ampel. Tapi meneladani dan mentransformasi nilai tersebut kedalam pengetahuan Mahasiswa UIN Sunan Ampel.