Hari ini adalah Kamis 16 Rajab, hari yang sama pada 94 tahun silam, tepatnya 16 Rajab 1344 Hijriyah yang bertepatan dengan 31 Desember 1926 Masehi, para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dari kalangan ulama pesantren salaf membuat sejarah gemilang di Indonesia dengan membentuk sebuah organisasi (jam’iyyah) Islam terbesar yang bernama Nahdlatoel Oelama (Kebangkitan Ulama).

الى حضرة الشيخ هاشم اشعري واعوانه من مؤسسي الجمعية *نهضة العلماء* الذين سبقونا بالايمان غفر الله لهم وستر عيوبهم ونور قبورهم وجعل الله الجنة مثواهم ونفعنا بعلومهم واعاد علينا من بركاتهم وامدنا بمددهم ، الفاتحة ….

Secara kesejarahan, berbagai kiprah NU melalui tokoh maupun lembaganya, memili andil yang tidak bisa dianggap remeh. Dalam dunia pendidikan misalnya, dengan pesantrennya NU mampu mencetak kader yang tidak hanya cakap dalam pengetahuan tapi juga memiliki akhlaq yang terpuji. Dengan berbagai kiprah para tokohnya mulai zaman perjuangan, persiapan kemerdekaan dan pasca kemerdekaan dan sekarang, NU menjadi salah satu organisasi yang paling setia dalam komitmen menjaga keutuhan NKRI.

Dalam torehan sejarah misalnya, kejadian “Resolusi Jihad”. Sampai sekarang kita dapat mengenang kejadian Sepuluh Nopember sebagai pertempuran antara laskar Mujahidin dari kalangan Santri dan Kyai se Jawa Timur dengan titik peperangan di kota Surabaya. Nama itu kini di abadikan menjadi sebuah nama kampus tehnik yang familiar dengan sebutan ITS “Institut Sepuluh Nopember” adalah KH Ridlwan Abdullah sang inisiator pendirian dan pemberi nama kampus tersebut untuk mengenang kejadian Sepuluh Nopember. Perlu diketahui bahwa, beliau KH Ridlwan Abdullah adalah pencipta lambang organisasi yang digunakan oleh NU yang penuh makna dan syarat gagasan dan tujuan bahkan lambang ini menjadi master lambang organisasi lainnya di dunia.

Jika dahulu saat orde baru selama 32 tahun dengan menganggap NU tradisional konservatif yang akhirnya membunuh peran-peran NU secara personal maupun organisasi, justru disaat Pak Harto hampir menutup usia, sang maestro orde baru meminta maaf pada NU, maka dengan kebesaran hati, Gus Dur yang saat itu dimintai maaf oleh pak Harto, langsung memaafkan. Tapi dalam masa itulah kader- kader NU tumbuh dengan kemampuan dan keilmuan yang beragam tanpa menghilangkan tradisi ke NU annya. 

Berbagai kader NU mulai S2 sampai S3 tersebar di pelosok Nusantara. Mereka umumnya juga terbekali dengan pengetahuan agama yang diperoleh dari pesantren, jadi mereka menempuh jenjang akademik formal tapi tetap menjaga tradisi mondok di pondok pesantren milik NU. 

Dalam masa ke depan, NU akan panen doktor dalam kaitannya prestasi akademik, karena jumlah kader NU yang menempuh jenjang pendidikan doktoral cukup melimpah, mulai dari biaya negara, dan mandiri, di dalam atau di luar negeri semuanya merata dipenuhi kader-kader NU yang muda dan potensial.  

Selamat Harlah ke 94, semangat menyongsong kejayaan NU.