Catatan sejarah menyebutkan bahwa tahun 1916 adalah tahun yang menandai lahirnya Nahdlatul Wathan (kebangkitan Tanah Air) yang di inisiasi oleh Hadratus Syekh Hasyim As’ari, Kyai Wahab Hasbullah, Mas Mansur untuk mewujudkan semangat kemerdekaan dan lepas dari belenggu penjajahan. Karena tanpa kemerdekaan, tidak mungkin ada kebebasan menjalankan perintah syar’i. Maka mewujudkan kemerdekaan menjadi wajib hukumnya bagi umat Islam.

Keinginan dan cita-cita terlepas dari belenggu penjajah ini, didasari juga pada kesadaran bahwa “Man laisa lahu ardlun, laisa lahu taarikh, wa man laisa lahu taarikh, laisa lahu dzakarah” “Barang siapa yang tidak memiliki negara, maka ia tidak akan memiliki sejarah. Barang siapa yang tidak memiliki sejarah, maka ia tidak akan dikenang”.

Di dalam buku NU dan Bangsa 1914- 2010 Pergulatan Politik dan Kekuasaan karya Nur Khalik Ridlwan dituliskan, bahwa berdirinya Nahdlatul Wathan (NW) yang didirikan mbah Wahab bersama Mas Mansur adalah dalam rangka memperluas dan meningkatkan mutu Madrasah yang ada. Walaupun dalam perjalanannya di tahun 1922, Mas Mansur keluar dari NW dan masuk ke Muhammadiyah sebagai pengurus besar Muhammadiyah. Progres kemajuan setelah terbentuknya NW adalah, munculnya usaha serupa diberbagai daerah kendatipun dengan nama yang berbeda, misalnya: Ahlul Wathan di Wonokromo, Far’ul Wathan di Gresik, Hidayatul Wathan di Jagalan, dan Khitabatul Wathan di Pacar Keling dengan semangat menyebarkan dan meningkatkan mutu Madrasah atau dalam kalimat lain NW saat itu berusaha memberikan injeksi spirit kepada para santri untuk memiliki cita-cita merdeka yang seutuhnya.

Penulis menganalisa bahwa semangat NW dalam menginjeksi Santri dan Madradah, yang dimulai 1916 ternyata sampai 2015 sebagai momentum ditetapkannya hari Santri oleh presiden Jokowi, jika dihitung maka ketemu persis 1 abad kebangkitan santri dengan wajah dan format beda. Jika awal berdirinya NW berkonsentrasi bagaimana penyebaran dan peningkatan mutu Madrasah, maka persis satu abad inilah, sebaran madrasah yang di dalamnya adalah santri, sudah merata di seluruh Nusantara. Maka secara resmi pada tahun 2015 eksistensi dan konsistensi Santri ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional (HSN), kendatipun penetapanya HSN lebih dicantolkan pada peristiwa tanggal 22 Oktober 1945 momentum resolusi jihad, tapi subtansi yang sama dari kedua kejadian berdirinya NW dan terjadinya Resolusi Jihad adalah peran Santri.

Argumentasi Pentingnya Hari Santri Jika kita bedah, maka akan ketemu 5 alasan kenapa perlu ada Hari Santri bagi bangsa Indonesia. Pertama, seruan jihad yang dikumandangkan oleh Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari ditujukan untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia yang bukan negara Islam tapi disebut Daarussalam (negara yang damai). Inilah kontekstualisasi gagasan dan praktik jihad yang paling penting tidak hanya di Indonesia namun di dunia Islam secara umum. Jihad untuk membela kemerdekaan dan yang gugur akan disebut sebagai syahid.

Jihad untuk membela kemerdakaan bangsa Indonesia dan kedaulagan Negara Republik Indonesia, bukan jihad ala Al-Qaidah dan ISIS yang disalah gunakan dan dijadikan dalih untuk tindakan terorisme.

Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 adalah jihad kebangsaan, jihad kenegaraan bukan jihad kamuflase semaunya sendiri dan bersembunyi dibalik term agama.

Kedua, meskipun Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dikeluarkan oleh ulama-ulama Nahdlatul Ulama (NU), namun tujuannya bukan hanya untuk NU semata, tapi untuk tujuan yang lebih umum: membela kemerdekaan Republik Indonesia, bahkan dampaknya universal: melawan penjajahan dan membela kemerdekaan adalah ajaran agama yang agung. Bahkan kecintaan kepada tanah air disebut sebagai bagian dari keimanan “Hubbul Wathan minal Iman”

Ketiga, meskipun Resolusi Jihad ditandatangani oleh ulama, tapi tidak disebut Hari Ulama atau Hari Kyai, tapi Hari Santri, yang menandakan kesetaraan. Santri adalah pembelajar seumur hidup, kyai dan ulama tetaplah santri, karena akan belajar dari buaian sampai kuburan (uthlub al-’ilma minal mahdi ilal lahdi).

Santri juga menunjukkan akulturasi karena menurut Gus Dur, santri dan pesantren, berasal dari bahasa Pali, bahasa Tripitaka: kitab Suci Umat Buddha, bukan dari bahasa Arab.

Santri juga menurut KH Mustofa Bisri (Gus Mus) tidak terbatas yang pernah belajar di Pondok Pesantren, namun yang berakhlak sebagai santri, dialah santri. Akhlak terpenting santri adalah belajar seumur hidup, ikhlas, rendah hati, toleran (tasamuh), moderat (tawassuth), fair dan berimbang (tawazun) dan akhlak-akhlak terpuji lainnya.

Keempat, di tengah menguatnya identitas Islam sebagai bahasa politik yang sering dihadap-hadapkan dengan identitas nasionalis, maka istilah santri yang merupakan khazanah kultural dan Nusantara, bisa menjadi titik temu. Santri adalah khas muslim di Nusantara, tanpa perlu menonjolkan simbol dan identitas keislaman yang sering kali jatuh pada “arabisasi” dan diadu dengan identitas nasional. Karena santri mengandung dua identitas sekaligus: muslim sekaligus nasionalis.

Kelima, mengembalikan kebanggaan sebagai santri, karena tak sedikit yang sudah kehilangan kepercayaan diri sebagai santri, karena lebih suka disebut muslim dan orang Islam, atau sebagai “ikhwan” dan “akhwat”.

Inilah gejala ‘arabisasi’ yang merupakah salah kaprah dari tujuan ‘islamisasi’. Padahal “islamisasi” tidak harus berwujud “arabisasi”. Santri di Nusantara melalukan “islamisasi” melalui “akultularasi” atau dalam istilah Gus Dur “Pribumisasi Islam” dengan subtansi yang Islami, tetapi kemasan tetap menampilkan budaya lokal.

Dengan demikian, santri merupakan ciri khas muslim Indonesia. Muslim yang mampu menjadi rahmatan (pengasih) karena tidak bersikap radikal terhadap kearifan lokal dan mewujudkan Islam yang shalihun li kulli zaman wa makan(sesuai dengan setiap waktu dan tempat) yang harmonis. pertemuan ajaran Islam dengan budaya nusantara, oleh para Santri tidak dibrangus habis-habisan, tapi keduanya diakulturasi menjadi sebuah pertemuan yang tidak mengurangi subtansi keduanya tapi membawa kemaslahatan bagi Nusantara. Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2017. Dari Santri Untuk Negeri.(Din)