“Hai anakku ki mas, marilah kita pergi haji, karena sekarang waktu orang naik haji, dan sebagai pula santri kamu tinggal juga dahulu di sini dan turutlah sebagaimana pekerti anakku!”. Setelah sudah ia berkata-kata, maka lalulah ia berjalan dengan anaknya dan dibungkusnya dengan syal. Maka tiada beberapa lamanya di jalan lalu ia sampai di Makkah, maka lalu di Masjidil Haram maka lalu dikeluarkannya anaknya dari bingkisan, lalu sama-sama ia Thawaf ke Baitullah serta diajarnya pada kelakuan Thawaf dan doannya sekalian, serta mencium pada Hajarul Aswad, dan Ziarah kepada segala Syaikh, dan diajarkannya rukun haji dan kesempurnaan haji. Setelah sudah ia mendapatkan haji, maka lalu ia Ziarat kepada nabiyullah Khidir itu, lalu ia pergi ke Madinah serta mengajarkan anaknya ilmu yang sempurna, beserta dengan bai’at. Demikianlah silsilah dan wirid Tareqat Naqsyabandiya serta zikir dan talqin zikir, Khirqah dan Shughul”.

Demikian kutipan dari buku karya Martin Van Bruinessen (Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat) yang juga ngutip dari disertasi berbahasa Melayu yang dibukukan pada tahu 1700 dengan judul” Hikayat Hasanuddin” yang pada dialog tersebut mengisahkan perjalanan Haji Kanjeng Sunan Giri melaksanan Haji dengan mengajak sang anak. Bahkan tidak sekedar cukup melaksanakan haji saja, tetapi juga mecari ngelmu( kesaktian dan legitimasi politik).

Jika kita menyimak kutipan di atas, maka haji yang dilakukan adalah secara supranatural, bukan naik kapal api atau perahu sebagaimana mestinya. Pada masa 1700 Makkah dan Madinah diyakini sebagai sumber ngelmu kesaktian, benda azimat bahkan kiswah (kain penutup Ka’bah) juga dianggap sebagai azimat yang sangat Manqus.

Dari keterangan di atas dapatlah disimpulkan bahwa posisi Tanah Haromain sebagai magnet bagi daerah lain dalam hal ngelmu(kesaktian) atau spiritualitas. Sehingga ada keyakinan yang terbangun bahwa tanah haromain adalah sumber segala ngelmu dan ada rasa yang kurang jika belum bisa mengalami penempuhan belajar dan memiliki ngelmu dari tanah Makkah dan Madinah.