Gelar yang disematkan oleh ulama di tanah Haromain kepada dua ulama nusantara dan salah satunya adalah K.H Hasyim Asy’ari pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama dan satunya adalah seorang syarifah dari Palembang.

Gelar Hadrotus Syekh diberikan kepada seseorang yang telah mampu menghafal 6 kitab hadist besar beserta sanad dan matannya. Diantara 6 kitab hadist tersebut adalah Kitab hadist karya Imam Bukhori, Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At Tirmidzi, Nasa’i dan Sunan Ibnu Majah. Dalam hal ini, mbah Hasyim hafal diluar kepala semua isi kitab tersebut yang jumlah hadistnya ada ratusan ribu.

Bermodalkan pengetahuan agama dan kemampuan berdakwah serta kemampuan memimpin, kemudian mbah Hasyim yang sudah punya pondok dan santri dari berbagai penjuru nusantara, lantas mendirikan Nahdlatul Ulama sebagai upaya membendung bahaya Wahabi yang menguasai tanah Hijaz dengan membunuh Syarif Husain generasi terakhir Turki Ustmani.

Sekilas kita akan melihat kondisi berbeda hari ini, jika mbah Hasyim saja sudah ngopeni umat, dan santri masih menyempatkan membuat organisasi sebagai wadah perjuangan menegakkan Ajaran Aswaja li i’lai kalimatillah, maka pertanyaan bagi yang kiai dan tak mau berjuang di NU, apakah anda lebih alim dan lebih pinter dari mbah Hasyim Asy’ari?

Selanjutnya, mengapa mbah Hasyim dan para Ulama’ mendirikan Nahdlatul Ulama’ saat itu? Selain untuk membendung pengaruh Wahabi yang mulai dikumandangkan di Hijaz, alasan dibentuknya NU adalah karena aspirasi Ahlussunnah wal Jama’ah tidak bisa dititipkan kepada organisasi lain.

Jika dahulu, mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Hasbullah, mbah Bisri Sansuri, Mbah Ridwan Abdullah, mbah Raden Mas Alwi Abdul Aziz, Mbah Raden Asnawi Kudus, mbah Abdullah Faqih Maskumambang, Syekh Ghonaim Al Misri dan para muasis lainnya mendirikan NU untuk membendung pengaruh Wahabi yang belum datang di nusantara ini, tapi apa yang dilakukan orang-orang yang hari ini derajat dan keilmuannya jauh dari derajatnya mbah Hasyim Asy’ari, mereka justru terpropaganda menjadi pendukung kelompok Wahabi yang berubah dan menyamar dengan berbagai bentuk baik di partai politik maupun di lembaga lainnya.

Disinilah, terkadang ngilu rasa hati dan sesak rasa di dada, disisi lain sebelum Wahabi datang, para muasis membendung penyebaran Wahabi, tapi ketika Wahabi datang dengan wujud yang bermacam-macam, justru ada, generasi NU, bahkan pengurus NU yang malah bermesraan dengan Wahabi. Secara garis besar, model orang NU yang mesra dengan Wahabi, ibarat ayam yang membangun kemesraan dengan Musang. Seberapa akrab dan baiknya Musang kepada ayam, pastilah ayam akan dimangsa juga.