November, Desember 2016 menjadi bulan dan tahun fenomenal bagi Habib Rizieq Syihab dengan pola leadershipnya memimpin aksi parlemen jalanan melalui demo 411 dan 212.  HRS yang awalnya tidak begitu diperhitungkan tiba-tiba bisa satu panggung dengan Presiden, Menkopolhukam, Kapolri dan Para pejabat tinggkat Nasional. 

Tapi begitu masuk tahun 2017 kegalakan dan superior yang dimiliki HRS seperti hilang tanpa meninggalkan bekas. Saya yakin bahwa tipologi HRS adalah sang pemberani yang tidak takut penjara bahkan mati sekali pun HRS siap. Tapi HRS lebih takut pada kepamoran dan kewibawaannya sebagai tokoh akan hilang. Oleh karenanya, terhadap sikap HRS yang lebih lunak pada tahun 2017 dan tidak segarang bulan November dan Desember 2016, saya menyimpulkan ada lima kemungkinan yaitu:

_Pertama_ HRS telah sadar bahwa gerakan yang dilakukannya pada 2016 salah sasaran dan telah tidak lagi menguntungkan ummat Islam secara keseluruhan dan melainkan hanya menguntungkan segelintir kelompok saja. Karena saya yakin bahwa HRS memiliki sifat ulama’ yang juga manusia biasa yang tidak menghendaki adanya benturan lebih jauh antar “anak-anaknya” hanya demi keuntungan beberapa pihak tertentu(kelompok yang telah memanfaatkannya).

_Kedua_ HRS telah merasa ditinggal sendirian saat dia maju dibarisan depan(mirip iklan di TV). Fakta ini diperkuat dengan ditangkapnya para peserta makar pada malam aksi 212. Bahkan fakta ini didukung dengan tiarapnya Bachtiar Nasir, Zaitun Rasmin, Tengku Zulkarnain dan kawan-kawan yangbtergabung dengan gank GNPFMUI. Karena dengan tiarapnya para sekutu HRS ini, seakan HRS telah menjadi sasaran tembak satu satunya.  Memang masih banyak laskar yang berada di kanan dan kiri HRS, tetapi keberadaan mitra yang punya kaliber sama dengannya tentu akan terasa berbeda( ingat saat Nabi Musa meminta teman Nabi Harun sebagai Mitra saat akan menghadap Fir’aun). Bahkan bisa juga “pihak pihak yang mendapatkan keuntungan” telah menarik dukungan dan perlindungan dari dirinya. “pihak pihak yang mendapatkan keuntungan” telah merasa gerakan HRS tidak akan lagi bisa mencapai tujuan sehingga mereka memilih mencari selamat masing masing dengan meninggalkan HRS sebagai “tumbal pertarungan”. analisa kedua ini terlihat dari keputusasaannya(desperate) HRS yang berkali-kali bolak-balik ke gedung DPR mencari dukungan, tetapi sudah tidak ada lagi tokoh yang berani terang terangan mendukungnya.

_Ketiga_ HRS tahu jika yang dia serang justru semakin solid. Tentara sebagai salah satu harapan utama yang mereka harapkan akan memihak mereka, justru menyatakan kesetiaan kepada presiden. Ini dibuktikan dengan gerakan medsos berbagai akun humas TNI yang dengan tegas membully dan membantah propaganda-propaganda barisan HRS dkk. ada skenario licik yang mencoba membenturkan panglima TNI dengan presiden, tetapi gagal. Polri ditangan seorang jendral muda yang memang spesialis menangani radikalisme juga tetap solid. parlemen dan partai partai koalisi pendukung pemerintah yang merupakan mayoritas TIDAK SEKALIPUN mengeluarkan suara suara sumbang yang mencoba mengganggu pemerintahan Jokowi. Jadi kini seolah olah FPI sendirian melawan Pemerintah-TNI-Polri-Islam Moderat-PDIP disaat parlemen berada pada posisi netral kecuali 2 wakil piminannya yang berisik.

_Keempat_Kepolisian memegang kartu truf HRS. telah saya sebutkan di atas, orang seperti HRS ini adalah tipe orang yang tidak takut mati apalagi cuma sekedar hukuman penjara. jadi sebenarnya HRS yang asli tidak akan gentar biarpun ada 100 laporan hukum sekaligus terhadapnya. yang paling ditakuti oleh orang seperti HRS ini adalah hancurnya reputasi dan ketokohannya. Sebagaiman kita ketahui bersama kejadian menghebohkan beberapa hari kebelakang. terlepas dari benar tidaknya “sesuatu” yang menyebar itu (HRS dan FH), tapi kejadiannya sangat sesuai. di rekaman itu ada kalimat “sudah saya tidak mau berjuang, saya suruh orang lain saja mimpin”, “sampai dia mau mundur tidak mau lagi pimpin aksi”. saya tidak tahu apakah kartu truf itu berhubungan dengan itu atau tidak. Tapi tepatnya situasi dan kejadian seakan melengkapi sebuah situasi.

_Kelima_  HRS mengalami kombinasi dari keempat-empatnya sekaligus, sehingga ketidak matangan pribadi mengendalikan sebuah gerakan besar membuat HRS patah arang dan gagal move on. :D:D