Berikut Tulisan Kang Amirul Arifin Sekretaris LBM NU Jombang terkait pengalaman beliau Pada 7 Januari 2017.

Malam ini Sabtu 7 Januari 2017 Pantai Pancer Door Pacitan Jawa Timur di penuhi ribuan kader NU se-Jawa Timur. Deburan ombak soalah dipecahkan oleh gelora semangat dengan tangan terkepal dengan terikan penegasan jati diri warga NU:

“Siapa Kita..NU..Siapa Kita…NU…Siapa Kita…NU…NKRI..Harga Mati..Pancasila…Jaya”

Wajah wajah pejuang NU yang teduh, bersahaja sekaligus berwibawa mengingatkan derap langkah sederetan barisan masyayikh seperti Syaikhona Kholil, Simbah KH. Abdul Manan Termas Hadrotusyekh KH. Hasyim Asy’ari, Simbah KH. Wahab Hasbullah, Simbah KH. Bisri Syansuri, Simbah KH. As’ad Syamsul Arifin, Mbah Umar Tumbu.

Buliran keringat para wajah itu berjatuhan berbaur dengan pasir putih di pantai ini, seiring dengan lantunan semangat Mars Hubbul Wathon dan Sholawat Badr.

Tak lekang semangat itu menderu deru membakar kenyataan yang mereka hadapi dalam kehidupan ber NU, berbangsa dan bernegara.

Mbah Dul Manan rawuh memberikan pusakanya, Mbah Hasyim rawuh menginjeksi gelora, Mbah Wahab rawuh memberikan nafasnya, Mbah Bisri hadir memberikan restunya, Mbah As’ad rawuh memberikan suwuk kesaktiannya, Mbah Umar Tumbu rawuh memberikan keteguhannya….tak terbendung air mataku meleleh, dada ini berdegub kencang, matur nuwun poro masyayikh panjenegan selua sampun kerso masih memperhatikan kami yang lalai ini…

Lalu apakah semangat, keringat, air mata ini akan sia-sia…

Aku terkesiap atas kemandirian wajah wajah pejuang Nahdlatul Ulama dalam menghadiri apel malam ini di pantai pancer door…menggugah tanggung jawab nan amat berat, Mbah Kholil, Mbah Manan, Mbah Hasyim, Mbah Wahab, Mbah Bisri, Mbah As’ad…panjenengan ampun jengkar rumiyen, kami sangat membutuhkan panjenengan sedoyo…kami sudah keranjingan dengan Jami’iyyah Panjenengan poro Masyayikh…

maju terus bergerak dan menggerakkan untuk Nahdlatul Ulama.