Saya yaqin bahwa nama seseorang, pasti diniati untuk menjadi sebuah harapan dan doa dari pemberi nama. Selain itu, nama seseorang bukan sekedar mudah diucapkan, tapi juga ada faktor “X” di dalamnya. Misalnya nama kanjeng nabi Muhammad SAW, saya yaqin nama Muhammad yang memiliki arti “orang yang terpuji”, ini merupakan desain Allah untuk membully orang-orang yang nantinya memusuhi kanjeng nabi.


Logikanya sederhana, misalnya, ada orang Kafir Quroisy yang menyebut “Muhammad Al Kadzab”(Muhammad pembohong), masak sih orang terpuji pembohong? akal sehat kita mendengar susunan kata saja, tidak akan terima.


Seperti halnya kejadian yang lagi hangat dibincangkan netizen dan spanduk hujatan pada Gus Muwafiq, saya menangkap kelucuan ketika membaca spanduk-spanduk atau meme dan apa yang ada di media sosial, khususnya terkait ceramah Gus Muwafiq.


Muwafiq secara arti kata, dimaknai “orang yang berhasil/sukses”, jadi misalkan ada spanduk “Hai Muwafiq” (Hai Wong sukses), bagi saya lucu ini. Pinginnya membuli, tapi malah menyanjung. Coba kalau nama yang mau diprotes adalah Koclok, saat ditulis “Hai Koclok” orang Jawa akan menambahi “pancen yo Koclok”, ya maklum.


Sedangkan arti Muwafiq di dalam kajian Fiqih. Muwafiq adalah sebutan bagi makmum yang ketinggalan Takbiratul Ikram pertama Imam, tapi masih mendapati bacaan Fatihah rakaat pertama Imam. Jadi Muwafiq masih mendapati Sholat jama’ah utuh.


Selanjutnya gelombang Muwafiq ini bagaikan bola liar yang menghantam sana-sini. Misalnya muncul Taggar #KamiBersamaGusMuwafiq, langsung disusul #KamiBersamaRosulullah, saya langsung mengernyitkan dahi, bukankah ketika Rosulullah dilempari batu di Toif, muncul tawaran dari Malaikat Jibril untuk menimpakan sebuah gunung, kepada para pelempar batu yang jelas-jelas menyakiti Rosulullah.


Saya yaqin Malaikat Jibril menawarkan hal tersebut sebagai pembelaan dan kecintaan kepada kanjeng Nabi, tapi jawaban kanjeng Nabi “Allahummahdi Qoumi, Fainnahum la ya’lamuun” (Ya Allah, berikanlah petunjuk umatku, sesungguhnya mereka melakukan pelemparan ini, disebabkan karena ketidak tahuan mereka”. Mari kita cermati, pelempar batu, yang jelas memusuhi Rosulullah, malah disebut “umatku” oleh beliau).


Kanjeng nabi Muhammad yang dihujat, dilempari batu sampai berdarah-darah, ketika mau dibela Malaikat, dengan cara mengangkat gunung dan ditimpakan kepada para pelempar, beliau menolak, lantas apakah para netizen yang mengaku bersama Rosulullah yang menghujat, mengumpat, menghalalkan darah Gus Muwafiq yang mereka anggap salah dan auto Munafik, akankah pembelaan ngawur ini akan diterima Rosulullah? Mbok ya mikir gitu loch.


Sementara, kelompok lain yang aktif dibidang kajian kitab kuning, menyikapi fenomena Gus Muwafiq ini, dengan menggali referensi kitab kuning, apakah dasar penyampaian kalimat yang diucapkan Gus Muwafiq tersebut? Ternyata, ketemu uraian panjang berdasarkan kajian kitab, dengan kesimpulan, apa yang disampaikan Gus Muwafiq benar, dan ada dalilnya. Karena kegoblokan mayoritas kita, lantas lupa mengkaji kitab-kitab yang ditulis para ulama.


Berikut saya tampilkan ulasan dari kajian kitab kuning yang dilakukan oleh Ust. Ahmad Fauzan Rofiq, M.Pd.I, terkait isi ceramah Gus Muwafiq yang dipermasalhkan, ternyata semua memang ada dasarnya. Kendati demikian, beliau dengan kerendaham hati, tetap minta maaf kepada semua pihak dan umat Islam”.


Kita sering meributkan masalah agama, karena kebodohan kita sendiri, ilmu kita yang dangkal, ngajinya baru kitab Tarikh terjemahan, tapi sudah berani menghakimi Kiai.


Ada 3 narasi yang dianggap kontroversial dari ceramah Gus Muwaffiq.

  1. “Nabi lahir biasa saja, tidak mengeluarkan sinar.”
    Faktanya: dalam kitab-kitab sirah memang tidak ada keterangan bahwa Nabi lahir sembari mengeluarkan sinar. Adapun yang terjadi sebenarnya adalah keadaan langit saat kelahiran beliau sangat terang benderang penuh cahaya.
    (Referensi : Kitab An-Ni’mat Al-Kubro alal Alam)
  2. “Tubuh Nabi saat masih kanak-kanak mrembes dan degil.”
    Itu memang kondisi umum anak-anak pada masa itu.
    (Referensi : Kitab Ar-Rohiq al-Makhtum)
  3. “Nabi tidak begitu terurus ketika diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib.”
    Maksudnya, kasih sayang dan pelayanan kakek tentu tak sehebat kasih sayang dan pelayanan orang tua sendiri. Jadi, bukan lantas dipahami “terlantar”.
    (Referensi : Kitab Al-Kamil fi al-Tarikh)


Nabi Muhammad saat usia tujuh tahun dan masih dirawat kakeknya, Mata beliau terkena penyakit (rembes), setelah kakeknya wafat yang kemudian biau dirawat pamannya yang bernama Abu Tholib.
(Referensi : Kitab Nurul Absor نور الأبصار في مناقب ألى بيت النبي المختار)


Kesimpulan:
Isi ceramah Gus Muwafiq tidak salah, apalagi menistakan Rosulullah, beliau hanya berusaha menjelasken dengan bahasa yang sederhana dan membumi di tempat ceramah saat itu, yakni di daerah Purwodadi Jawa Tengah. Namun, dalam vidio singkatnya, beliau dengan tegas dan gentle, tetap minta maaf.


Disisi lain ada kelompok NU yang kontra produktif, dan justru ikut-ikutan menyalahkan “Gus Muwafiq”. saya menilai, kelompok ini kuper dan suka-suka gue, istilahnya “Londho menang melu Londho, Jepang menang, melu Jepang”. Bagaimana tidak?, lha wong Kiainya diserang netizen dan pembenci NU, si Do’i malah “ndamen dan berperilaku kayak “Suwal Amoh”. Sudah tidak mau mengkaji kitab kuning seperti Ust. Ahmad Fauzan Rofiq, malah maido ngalor ngidul tidak jelas.


Saya menilai, orang-orang yang kontra produktif ini, sebagai bagian kelompok yang terpropaganda media, pasalnya, jika Gus Muwafiq salah misalnya, beliau sudah minta maaf dan menjelaskan apa maksud kalimat beliau dalam pengajian di Jawa Tengah tersebut, beliau menggunakan diksi “rembes” tidak bermaksud menghina atau merendahkan Rosulullah, tapi memperjelas dengan melihat bahasa masyarakat lokal. Mendadak saya teringat, bagaimana teman saya bercerita tentang sambel CUK buatan orang Sidoarjo, yang penulisannya ditambahi tanda seru, tapi karena dibaca orang Timika, menjadi Sambel CUKI, dan membuat mereka geli sambil ketawa-ketiwi, kok ada sambel CUKI, karena Cuki menurut bahasa lokal, artinya hubungan intim suami istri. Padahal si pembuat nama CUK yang orang Sidoarjo, CUK itu kalau diberi tanda seru, bacanya tegas.


Kalau Gus Muwafiq sudah klarifikasi, kalau kitab kuning karya ulama juga ada yang menjadi landasan penguat, apakah harus dicari sisi perbedaan lagi? Saya yakin, Rosulullah tidak akan senang ketika mereka para juru bela mengatasnamakan pembela beliau, tapi caranya salah, begitu juga, yang sok alim ikut menyalahkan, mbok ya mikir selow dan mengkaji khazanah yang lebih luas. Nabi Muhammad SAW adalah manusia termulya, yang tidak akan berubah hina selama-lamanya.