Senin, 3 Desember 2018, bertempat di lt. 5 gedung pascasarjana IAIN Tulungagung kisaran jam 08:00 sampai 13:00 digelar ujian terbuka untuk menempuh gelar Doktor oleh pak Zaenal Abidin dengan judul disertasi Manajemen Inovasi Pembelajaran PAUD dengan lokasi PAUD Al Hidayah dan Al Azhar Trenggalek.

Pimpinan sidang oleh Prof. Akhyak dengan promotor Prof Mujamil, Prof Ngainun Naim, penguji eksternal Prof Ali Mudhofir, tim Penguji Prof Teguh, Prof Tanzeh sidang berlangsung tegang dan mendebarkan bagi pak Zaenal Abidin. Karena semuanya faham bahwa ujian terbuka doktoral adalah forum unian terakhir untuk menentukan lulus dan tidak lulusnya proses studi S3.

Hadir dalam acara ujian terbuka, para alumni IPNU dan IPPNU dari berbagai angkatan, karena pak Zaenal Abidin adalah ketua IPNU Cabang Tulungagung yang akhirnya menikah dengan ketua IPPNU Cabang pada angkatannya. Selain itu, hadir juga para kolega dari dinas sosial kabupaten Trenggalek, Himpaudi Trenggalek, keluarga besar STAI Diponegoro Tulungagung, dan keluarga besar MWCNU Karangrejo.

Sejak awal tim penguji menghujani pertanyaan yang mengkroschek antara temuan, teori, dan fakta lapangan. Walaupun tahap sebelumnya dari seminar hasil, ujian tertutup juga sudah berdarah-darah, ternyata ujian terbuka juga membuat grogi promovendous yang sebenarnya juga sudah mempersiapkan diri dengan berbagai kematangan.

Banyak pengalaman yang saya dapatkan dari ujian terbuka pak Zaenal kemarin, diantaranya: Ujian memang membuat grogi, oleh karenanya persiapan luar dalam memang sangat utama, penguasaan forum, pengendalian emosi, penguasaan teori, materi ujian, dan faktor ketepatan memilih kata yang digunakan untuk menjawab juga sebagai penentu dalam mengurangi grogi. Pengalaman yang lain adalah, setelah ujian dinyatakan lulus, gelar yang disandang, memiliki konsekwensi logis, misal sebelumnya kita menulis buku atau khutbah Jum’at, maka setelah bergelar doktor, harus ada pembeda antara khutbahnya doktor dan sebelumnya. Doktor harus mampu mengurai permasalahan rumit menjadi mudah, bukan sebaliknya.

Pengalaman yang lain dari ujian kemari adalah, bagaimana sikap seorang ilmuan yang harus tetap produktif membaca, menulis, dan membawa perubahan bagi lingkungan sekitar. Maqom seorang penulis dan tulisannya lebih punya nilai tinggi dibanding maqom ceramah yang disampaikannya, lihatlah al Ghozali, Aristoteles yang karyanya sampai saat ini dibaca dan dikaji, padahal jarak zaman kehidupan sudah berapa abad? hal tersebut terjadi karena karya tersebut ditulis. Sebagaimana pesan tersebut diamanatkan oleh Prof. Mujamil dalam amanat sidang dan selaku promotor dari pak Zaenal Abidin.

Sebagai acara penutup ujian, setelah pak Zaenal dinyatakan lulus sebagai penyandang gelar doktor, maka promovendous diberikan kesempatan menyampaikan kesan dan pesan sebagai sambutan penutup. Dalam sambutannya pak Zaenal mengucapkan terimakasih kepada almamater IAIN Tulungagung, para guru dan dosen, para penguji dan promotor, dan seluruh civitas akademik IAIN Tulungagung khususnya keluarga pengelola pascasarjana. Selain itu kepada keluarga besar STAI Diponegoro, Pemerintah kabupaten Trenggalek, Himpaudi Trenggalek, Keluarga besar MWC NU Karangrejo, keluarga besar alumni dan kader IPNU dan IPPNU kabupaten Tulungagung dan terkhusus terimakasih tak terhingga untuk keluarga, khususnya alm. Ayahanda beliau yang dipanggil oleh Allah SWT beberapa bulan lalu, beliau selalu mendorong agar S3 pak Zaenal segera selesai. Saat inilah pak Zaenal tak.mampu membendung air mata dan meminta bacaan suratnal Fatihah untuk ayahanda beliau.

Dari keseluruhan rangkaian ujian terbuka pak Zaenal Abidin kemarin, saya semakin tertantang untuk segera berada posisi yang sama dengan pak Zaenal. Oleh karenanya segala sesuatunya harus disiapkan secara matang. Terimakasih pak Zaenal Abidin. Selamat dan sukses kagem panjenengan dan keluarga.