Pengusungan dan kegigihan HTI dalam mewacanakan gagasan “khilafah” ini, tidak bisa terlepas dari sebuah hadist yang menjadi acuan visi dan misi HTI. Hadistnya berbunyi sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ فُرَاتٍ الْقَزَّازِ، عَنْ أَبِى حَازِمٍ. قَالَ: قَاعَدْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ خَمْسَ سِنِينَ، فَسَمِعْتُهُ يُحَدِّثُ، عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِىٌّ خَلَفَهُ نَبِىّ،ٌ وَإِنَّهُ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى، وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ فَتَكْثُرُ. قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: فُوا بِبَيْعَةِ الأَوَّلِ فَالأَوَّل،ِ وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ، فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ).

Diceritakan dari Muhammad ibnu Basyar, dari Muhammad Ibnu Ja’far, diveritakan dari Syu’bah daro Furrotil Qozzaz dari Abu Hâzim berkata: Aku belajar kepada Abu Hurairah selama lima tahun. Aku pernah mendengarnya menyampaikan hadis dari baginda Nabi Saw yang bersabda: Kaum Bani Israil selalu dipimpin oleh para nabi. Setiap ada nabi meninggal, maka akan diganti oleh nabi berikutnya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku. Dan akan ada para khalifah yang banyak. Mereka bertanya: Apakah perintahmu kepada kami?. Beliau menjawab: Penuhilah dengan membai’at yang pertama, lalu yang pertama. Penuhilah kewajiban kalian terhadap mereka, karena sesungguhnya Allah akan menanyakan mereka tentang apa yang menjadi tanggung jawab mereka (HR. Muslim).

Hadist tersebut terdapat di dalam kedua sumber primer kitab-kitab hadist (shahih Bukhari  dan shahih Muslim). Sebuah keanehan dan keunikan tersendiri, kegagalan cita-cita mewujudkan khilâfah Islâmiyah di Palestina, tidak saja gagal menerapkannya tetapi untuk membebaskan Palestina saja, Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1977 M) dengan para pengikutnya tidak mampu, bagaimana mereka membuat konsep makro yang bersifat internasional? ngeri juga kesannya. Masalah yang kecil tidak bisa menyelesaikan, apalagi masalah yang besar? Selanjutnya, target dari mereka salah satunya adalah Indonesia. Ini dimulai pasca Reformasi dengan dibukanya kran demokrasi, HTI bisa masuk di Indonesia dan sampai bisa menthoghutkan demokrasi.

Bukan sebuah kekeliruan, selama memperhatikan gerakan Hizbut Tahrir, masyarakat yang tidak ikut mendukung akan di lebeli dengan cap “Liberal, Sekuler dan anti-Islam” dan ini sudah terjadi di Indonesia. Bahkan baru kemarin Adhiyaksa Daud mantan menpora, dalam wawancara media, menyebut  kalimat “hanya orang edan yang gak mau khilafah berdiri”. Sebagai organisasi yang memiliki ideologi transnasional  atau pendatang di Negara Kesatuan Republik Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia layaknya ia sang pemilik rumah sendiri, dengan semangat khilâfah ia mengatakan bahwa demokrasi sistem kufur. Kenapa saya katakan layaknya sang Pemilik rumah sendiri? Wong pendatang kok  lagaknya kayak pemilik trus mau ngusir Tuan rumah yang memberikan tumpangan, kan jadi aneh kedengarannya. Mereka selalu teriak anti asing, padahal saat teriak anti asing, mereka nenteng tas Shopie Martin, megang kebab, sambil ngomong akhi ukhti pakai bahasa Arab pasaran yang acak adut.

Ada logika yang terputus di dalam pemikiran Hizbut Tahrir Indonesia, di kitab-kitab mereka akan sangat mudah kita temukan bahwa legislasi tidak ditangan rakyat tetapi pada Allah SWT, apalagi halal-haram, tidak satupun seseorang boleh menentukannya. Problematika yang kemudian muncul yakni siapa yang menjalankan dan menafsirkan teks-teks Ilahiyah tersebut?. Disinilah letak kerancuan pemahaman Hizbut Tahrir Indonesia. Teks ilahiyah tidak bisa berbicara dengan sendirinya, karenanya dibutuhkan penafsir untuk mampu mendialogkan antara teks dengan realitas yang ada. Penafsir merupakan seorang yang tidak ma’sum. Maka, jika HTI mengatakan Khilafah adalah solusi segala masalah, silahkan jelaskan “Bagaimana teknis legislasi yang hanya boleh dilakukan oleh Allah SWT dalam praktek kehidupan bernegara?” sedangkan kita tahu bahwa teks ilahiyah tidak bisa bicara sendiri tanpa adanya penafsiran, dengan tujuan, mendialogkan antara teks dengan realitas yang ada.