Sesungguhnya NU itu besar dan setia kepada janji suci ( Mitsaqan Gholidzo) menjaga keutuhan NKRI. Semenjak Indonesia merdeka 17 Agustus 1945 hingga sekarang, janji suci terhadap NKRI tetap dipegang teguh oleh warga NU. Bahkan jika kita kupas sejarah, hanya NU lah organisasi yang belum pernah memberontak terhadap NKRI. Mulai DI/TII, Masyumi, PKI, Permesta dan lain-lain.

Ketika masuk menjadi pengurus PBNU pada tahun 2010, hal yang saya lakukan adalah merubah bendera NU dari tidak ada tulisan NU dibawah tulisan arab Nahdlatul Ulama’. Hal ini membuat sebagian para pengurus marah dan menggatakan bahwa perubahan bendera ini bertentangan dengan AD-ART dan PD-PO organisasi NU. Dengan santai saya jelaskan bahwa tujuan saya merubah logo bendera NU dengan menambah huruf kecil NU dibawah gambar jagat walaupun bertentangan dengan AD-ART dan PD-PO tapi perubahan itu berdasar pada Qonun Asasi, hilangnya tulisan NU pada logo NU adalah proses de NUisasi yang dilakukan oleh orde baru dan dampaknya luar biasa, saat itu di Jakarta mulai banyak orang yang tidak kenal NU ketika hanya berkibar bendera yang ada bola dunia dan tulisan arab. Begitu tutur Kyai Mun’im dalam memaparkan keterangan panjang yang berisi data dan fakta.

Ungkapan tersebut adalah penyimpulan sekelumit hasil Bedah Buku Fragmen Sejarah NU yang dihadiri oleh Penulis yakni KH Abdul Mun’im DZ dan pembanding Sahabat Mohammad Fatah Masrun, M.SI dengan moderator H. Yuzki Faridian dalam rangka harlah PMII ke 57 yang diadakan oleh PC PMII Tulungagung bertempat di Kampus STAI Diponegoro, Senin, 25 April 2017.

Hadir dalam acara tersebut sekitar 150 peserta dari unsur PMII, IPNU, Mahasiswa dan alumni. Secara khidmat peserta mengikuti paparan nara sumber sejak awal sampai sesion terakhir penutupan kegiatan. Banyak pengetahuan baru dalam ber NU menurut pengakuan beberapa peserta, diantaranya terkait peran NU dalam Konstituante, peletakan dasar negara, kemandirian NU, perlawanan NU terhadap produk dan swalayan asing milik China melalui PP 10.

Perlu diakui sejarah Nasional merupakan puzzle yang perlu dirangkai menjadi sebuah Fragmen sehingga dapat membantu generasi bangsa untuk tidak kehilangan otentisitas dan akhirnya membentuk kesamaan idiologi berbangsa dan kecintaan terhadap bangsa Indonesia yang tidak pernah lekang oleh waktu.

Persamaan idiologi dan ketersambungan sanad menjadi keniscayaan yang harud terwujud, sehingga satu barisan yang utuh dan kokoh akan terwujud.

Sebuah statemen menarik dari Kyai Said As’ad Ali dalam mengomentari Karya Kyai Mun’im ini adalah,” Membaca buku Fragmen Sejarah NU ini saya masih Khatam Satu Kali, dan akan saya Khatamkan Tiga Kali karena di dalamnya ada banyak Strategi para Kyai NU dan tokoh bangsa dalam menjaga keutuhan dan martabat NKRI”.