Ada istilah menarik yang perlu digaris bawahi dalam membaca sebuah kejadian akhir-akhir ini, khususnya dalam kontek hiruk pikuk bernegara dan bermedsos,yaitu “flage-false”. Kalau saya bahasakan ala Jawa: “Nggepuk nyilih tangan”. Gambaran modusnya adalah dengan menyebarkan berita hoax terhadap sebuah negara.Contohnya seperti berikut ini: “Pada hari Rabu, hanya beberapa jam setelah pembunuhan massal ratusan orang Suriah dengan senjata kimia,  Menteri Militer Israel, Moshe Yaalon, mengklaim bahwa dia tahu siapa pelaku pembunuhan massal itu. Siapakah dia? Jawabnya, adalah menurut Yaloon, yaitu Pemerintah Suriah”. Yang menjadi pertanyaan: “Bagaimana mungkin Israel tahu sedemikian cepat kejadian yang berlangsung di negara lain, jika hal itu bukan sesuatu yang telah jauh hari direncanakan?”.

Modus seperti ini sudah terbukti nyata keberhasilannya dalam menebar konflik di Libia dan Irak pada masa pemerintahan Saddam Husein. Dulu di Irak, pernah ditebarkan issue hoax: “Irak menguasai senjata kimia pembunuh massal.” Pertanyaannya: Siapa penebar issue hoax itu?. Jawabnya adalah Israel. Dan itu sudah disinggung dalam laporan ilmiah di Jurnal berdasar penelitian oleh beberapa ahli di lokasi kejadian.

Fakta yang mudah untuk diamati adalah kita coba ingat kasus Bom Bali. Aksi bom Bali, memang dilakukan oleh Amrozi dan timnya, tapi dalam hal ini, mereka adalah pion yang tanpa sadar dimainkan dalam operasi bendera palsu (flage-false operation) ini. Amrozi sendiri dalam pengakuannya, heran, mengapa bom yang diledakkannya sedemikian besar ledakannya. Dia merasa berjihad (dan entah siapa yang mendoktrinnya, bahwa meledakkan bom adalah jihad), namun dia tidak sadar, ada pihak lain yang ‘menyetirnya’. Pihak lain itulah yang menaruh bom mikronuklir (C4) yang hanya dimiliki oleh Israel, Amerika, Inggris, atau Australia. Inilah yang disebut “Bendera palsu dalam istilah bahasa inggrisnya adalah “Flag-false”.

Trus bagaimana cara melumpuhkan Flag-False?”. Cara melumpuhkannya adalah dengan tidak mengikuti skenarionya. Memang Flag-False ini skenarionya mudah dibaca namun “ngeplak nyilih tangan”yang sulit dibaca, tiba-tiba mak plok siapa yang tahu?. Dalam praktiknya, tidak semudah itu membaca, karena emosi kita tengah dipermainkan oleh mereka melalui pion-poin mereka, yang saya yakin mereka banyak yang tidak menyadarinya.