Gambar di atas adalah kronologi pemberontakan PKI yang terjadi dari masa ke masa. Jadi aneh jika hari ini ada yang mengatakan NU diam terhadap kebangkitan PKI atau NU ringkih dan alpha terhadap aksi menyampaikan sejarah kepada generasi sekarang. Padahal masalah benturan NU dan PKI sudah clear dibahas tuntas dalam buku yang ditulis oleh Abdul Mun’im DZ.

Menonton film itu sah saja, kapan saja dan di mana saja asal tidak ada yang dirugikan. Termasuk menonton film lama G30S PKI yang belakangan marak diputar di mana-mana, meskipun belum tentu paham apa tujuannya atau bisa jadi hanya sekedar membuat acara supaya terkesan beda dari lainnya. Bukankah kegiatan mendoakan korban PKI juga penting sebagai bagian mengingat dan mengetahui sejarah bangsa. Menonton film G30S PKI menjadi bermasalah ketika ia dimaksudkan untuk memancing kebencian dan luka lama kepada generasi sekarang.

Jika sejarah yang beredar dianggap ada manipulasi, mengapa tidak kita rangkai sejarah bangsa yang benar dan bisa menjernihkan masalah sejarah bangsa?

Panglima TNI adalah salah satu aktor dan penganjur paling agresif yang menyebabkan masyarakat berpolemik karena menghadapkan masalah yang setuju menonton berarti anti PKI dan yang tidak menonton berarti pro PKI atau bahkan disebut lemah kadar nasionalismenya. Padahal jika di survey, belum tentu efek dari menonton film G 30 PKI lantas jadi faham sejarah bangsa dan sejarah PKI.

Menurut saya hal menjadi aneh adalah seolah-olah menonton film G30S PKI tersebut itu wajib untuk pendidikan sejarah. Kalau maksud dan tujuannya adalah untuk pendidikan sejarah, tentu ada banyak tragedi berdarah yang setara dengan peristiwa G30S PKI di antara misalnya pemberontakan DI/TII, Permusi dan lain peristiwa lain sejenisnya.

Kita harus bijak menyikapi ihwal PKI. Setelah provokasi antek Cina, isu PKI sengaja digoreng agar suhu politik bangsa kita memanas. Kita harus menangkap bahwa PKI memang bagian dari sejarah kelam bangsa. Dan ia bukan satu-satunya peristiwa, rezim Orba saya pikir juga tak jauh lebih kejam dari PKI. Bandingkan rezim Orba membodohi masyarakat bangsa dengan kekuasaan yang diktator, otoriter dan dekat dengan kekerasan.

Saya pikir kita harus belajar dari Al-Maghfurlah KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang justru tulus melayangkan permohonan maaf kepada para keluarga eks PKI. Kita tidak boleh menyimpan dendam kesumat yang berkepanjangan. Sejarah memang tidak bisa dilupakan, tetapi demokrasi bangsa kita semakin dewasa, kehidupan semakin dinamis dan terus mengalami perubahan.

Kita para generasi bangsa tidak boleh terjebak dendam kebencian, terutama kepada anak keturunan eks PKI. Mereka sama seperti kita, warga negara Indonesia, yang hak-haknya harus sama dipenuhi. Dan itu artinya tak boleh ada diskriminasi. Jangan pernah termakan isu murahan soal kebangkitan PKI. Main tuduh dan fitnah sana-sini. Logika paling mudah, jika PKI bangkit lagi, tentu ada kantor dan aktor yang sudah dilaporkan atau ditangkap aparat berwenang. Negara punya inteljen dan perangkat yang disiapkan untuk kegiatan yang mengancam keutuhan dan persatuan negara.

Ingat musuh kita bukan Cina dan PKI, musuh kita adalah nafsu kebencian dan dendam kesumat tentang apa saja, termasuk isu-isu murahan Cina dan PKI. Musuh kita adalah bisa jadi kita sendiri. Watak dan karakter kita yang keras dan radikal. Orang-orang yang mentalnya sakit dan bersumbu pendek, yang ketika diletupkan isu langsung termakan isu bak penthol korek yang langsung kebakar saat digesek. Mereka yang tidak punya daya filterisasi yang kuat. Selain miskin literasi, wawasan keagamaan yang sempit dan minimnya ekonomi sangat mempengaruhi.

Untuk itu, sudah saatnya kita hentikan segala upaya-upaya memecah-belah bangsa, termasuk menonton film G30S PKI yang tujuannya untuk memancing dendam dan kebencian. Kita juga harus terus mengingatkan agar Panglima TNI serius menjalankan amanahnya sebagai pimpinan tertinggi TNI. Selama ini pandangan-pandangannya cenderung pro kelompok Ormas Islam radikal.

Majelis Ulama Indonesia dan Nahdlatul Ulama, sama sekali tidak menganjurkan masyarakat untuk ikut dalam aksi 299. Selain tidak bermanfaat, aksi itu hanya akan memperkeruh suasana yang dapat memecah belah bangsa. Terutama kita kelompok masyarakat moderat agar terus berperan aktif dalam dunia maya maupun nyata untuk terus membendung arus kelompok Ormas Islam radikal. Mereka adalah kelompok Ormas yang kerap kali melakukan aksi kekerasan, mempolitisir agama dan berbagai aksi yang mengarah pada makar.

Wallaahu a’lam