● Aku melihat hidup orang lain begitu nikmat,

Ternyata ia hanya menutupi kekurangannya tanpa berkeluh kesah.
● Aku melihat hidup teman-temanku tak ada duka dan kepedihan,

Ternyata ia hanya pandai menutupi dengan mensyukuri.
● Aku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian.

Ternyata ia begitu menikmati badai ujian dalam kehidupannya.
● Aku melihat hidup sahabatku begitu sempurna.

Ternyata ia hanya berbahagia “menjadi apa adanya”.
● Aku melihat hidup tetanggaku beruntung.

Ternyata ia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung.
● Maka aku merasa tidak perlu iri hati dengan rejeki orang lain.

Mungkin aku tak tahu dimana rejekiku.

Tapi rejekiku tahu dimana diriku.
● Dari lautan biru, bumi dan gunung, Tuhan telah memerintahkannya menuju kepadaku.
● Tuhan yang Maha pengasih menjamin rejekiku, sejak 9 bulan 10 hari aku dalam kandungan ibuku.
● Amatlah keliru bila berkeyakinan rejeki dimaknai dari hasil bekerja.Karena bekerja adalah ibadah, sedang rejeki itu urusanNya.
● Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijaminNya, adalah kekeliruan berganda.
● Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati.
● Mereka lupa bahwa hakekat rejeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya.
● Rejeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, sang Pencipta menaruh berkat sekehendakNya.

Ikhtiar itu perbuatan.

Rejeki itu kejutan.
● Dan yang tidak boleh dilupakan, tiap hakekat rejeki akan ditanya kelak.

“Darimana dan digunakan untuk apa” Karena rejeki hanyalah “Hak Pakai”, bukan “Hak Milik”
Semoga Bermanfaat.