Sangat menggembirakan ketika kemarin Selasa 25 April 2017 dalam acara bedah buku “Fragmen Sejarah NU Menyambung Akar Budaya Nusantara” karya Kyai Mun’im DZ yang diselenggarakan RMI Tulungagung nama saya disebut sebagai pemenang dalam penulisan salah satu isi dari buku yang kemudian di Share di laman FB dengan syarat dan ketentuan berlaku. he he he.

Bukan karena posisi pemenang ini prestise, bukan pula hadiah lomba ini bombastise, tapi menurut penulis, lebih dari sekedar itu, kesempatan bertanya dan berdiskusi panjang lebar dengan penulis buku “Fragmen Sejarah NU” merupakan sesuatu yang lebih dari segala prestise kemenangan. Pasalnya Kyai Mun’im adalah sosok penggerak yang dalam kiprahnya juga fenomenal. Diantaranya adalah, beliau merupakan salah satu dari beberapa penggagas NU online, beliau juga yang telah berhasil mengumpulkan ARSIP NU sehingga NU pada tahun 2014 mendapat anugrah “Ormas dengan Penataan ARSIP paling Lengkap dan Rapi” yang diberikan oleh Kantor ARSIP Nasional. Sehingga beliau Kyai Mun’im DZ hari ini diminta sebagai pengarah dan pembina penataan ARSIP Nasional.

Hal ini sangat beda ketika audiens mendengar cerita beserta penayangan bukti melalui slide power point di layar. Seakan kami yang hadir gak percaya kalau NU mampu menata arsipnya, bukan itu saja, Kyai Mun’im juga menunjukkan perpustakaan ARSIP NU di Gresik di lokasi ndalemnya KH. Umar Burhan yang mendokumentasikan surat-surat penting sejak masa awal NU berdiri, bahkan perpustakaan di Gresik ini yang jadi rujukan peneliti Internasional dalam membuat laporan penelitian tentang NU. Bahkan pada tahun 2014 NU juga telah menyerahkan arsip sejak 1952 – 1982 untuk dititipkan kepada arsip Nasional dan hanya boleh dibuka jika ada izin dari PBNU.

NU yang selama ini dicitrakan sebagai organisasi tradisional konservatif ternyata mampu menjawab dengan kerja nyata yang belum pernah dilakukan oleh ormas modern sekalipun. Bahkan Kyai Mun’im juga memaparkan bukti otentik peran NU dalam sidang Konstituante yang terdokumentasikan dalam  buku 17 Jilid dengan masing-masing jilid terdiri 800 halaman. Pantesan pas hari Senin, 24 April 2017 di acara bedah buku yang sama mengatakan” Satu Judul dari buku Fragmen Sejarah NU ini, bisa Kamu jadikan Tesis”, misalnya peran NU dalam sidang Konstituante, sekarang ketemu jawabannya, memang betul satu bahasan dari Fragmen Sejarah NU ini bisa jadi Tesis, dan lebih ampuhnya lagi, dokumen 17 Jilid hasil sidang konstituante ini tidak dimiliki oleh Arsip Nasional, tapi hanya beliau Kyai Mun’im DZ yang memiliki utuh ke 17 nya hasil dari mencari dan menghimpun dari seluruh penjuru Nusantara.

Dalam bedah buku kemarin, Kyai Mun’im DZ tampil dengan gaya khas seorang penggerak baik sisi pembahasan dan gaya penyampaian, sekalipun tetap khas ke kyaian beliau yang irit bahasa dan kalem. 

Sungguh sangat beruntung mendapat hadiah buku Fragmen Sejarah NU. Buku yang ditulis dengan basis fakta dan data yang otentik. Maka menurut saya, barang siapa warga NU tidak punya buku Fragmen Sejarah NU yang di tulis Kyai Mun’im DZ, maka sama posisinya dengan nelayan yang mau berlayar tapi tak memiliki perahu. Dan sesiapa saja yang mau membaca buku ini, Insyaallah Ghirah berkhidmah kepada NU akan tumbuh semakin kuat dan pengetahuan sejarah NU juga terarah.

Terimakasih kepada Pak Bagus Ahmadi sebagai ketua RMI dan PMII yang telah memfasilitasi perjumpaan dan diskusi bersama penulis buku” Fragmen Sejarah NU” yang juga penggerak NU. Trimakasih Untuk moderator di dua tempat bedah buku” Kaji Yuski Faridian yang dengan semangat dan kalimat “Dahsyat dan Dewo” memandu acara dan memang Sampean Dahsyat yang Ndewo ji. Terimakasih juga pada para pembanding, Pak Mohammad Fatah Masrun, kandidat doktor Ilmu Tata Negara dari Universitas Brawijaya Malang selaku pembanding tanggal 24  dan Pak Prof. Dr. Imam Fuadi, M.Ag dari IAIN Tulungagung selaku pembanding pada tanggal 25 April 2017. Serta semua pendukung acara sehingga semua dapat berjalan lancar dan sukses.

Sebuah harapan besar bahwa apa yang telah dilakukan oleh beliau Kyai Mun’im dan tim dalam menata arsip bisa menjadi spirit dan pemicu warga NU untuk bangkit (In hadhu) dari kemalasan, keminderan, dan ketidak beranian( hirman) yang merupakan penyakit berorganisasi.

Saya yakin akan segera muncul buku baru terkait Sejarah NU dan NKRI yang tampil beda dari sejarah sebelumnya sebagai bukti merangkaikan puzle sejarah yang tercecer, apa alasan saya memprediksi hal ini?, bayangkan saja NU itu punya 5 Pahlawan Nasional, tapi peran NU tidak tercatat dalam sejarah Indonesia baik yang disusun oleh orientalis atau yang disusun pemerintah. Kendatipun kemarin Panglima TNI mengakui dalam pidatonya bahwa: “Benar adanya saat perjuangan, TNI bersama Kyai, dan Santri berjuang mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Perlu diketahui bahwa lima Pahlawan Nasional tersebut dari kalangan tokoh NU:

1. KH. Hasyim Asy’ari

2. KH. Wachid Hasyim

3. KH. Zainul Arifin (Panglima Hisbullah)

4. KH. Wahab Hasbullah

5. KH. Idham Cholid

bagi saya sangat tidak masuk akal jika peran NU di NKRI hilang dari catatan sejarah Indonesia. Semoga puzzle sejarah NU dan NKRI segera terkumpul dan tersusun, sehingga generasi mendatang mengetahui dan mengenal sejarah secara utuh dan sesuai fakta otentik.