Tulisan ini saya angkut dari karya KH Bagus Ahmadi, salah satu pengasuh Pon Pes Ma’hadul Ilmi Wal Amal( MIA) Moyoketen Tulungagung, Ketua RMI Tulungagung dan komisioner BAZNAS Tulungagung. Alumni Pon Pes  Lirboyo dan Sedang menempuh S3 di IAIN Tulungagung.

Konsep thuluz zamani merupakan salah satu syarat keberhasilan seseorang menempuh pendidikan. Konsep yang diajarkan dalam nadlam ALALA juga dalam kitab Ta’limul Muta’allim itu dipegang erat oleh kaum santri. Bahkan, banyak diantaranya yang terlambat menikah karena isytighal dengan belajarnya. Ada pula yang setelah menikah masih terus belajar. Bahkan, sudah menjadi kyai terpandangpun tidak menjadi halangan untuk terus menuntut ilmu di Pesantren.

Banyak contoh kyai-kyai Pesantren yang terus belajar walaupun sudah mendirikan dan mengasuh pesantrennya. KH. Mahrus Ali, pengasuh pondok pesantren agung Lirboyo merupakan salah satunya. Sering di bulan Ramadhan, selepas mengkhatamkan pengajian kitab di Lirboyo, beliau melakukan rihlah ilmiah sekaligus tabarukan dengan mengaji kepada kyai lain. Salah satu pesantren yang pernah disinggahi Kyai Mahrus ialah pesantren Watucongol Muntilan Jawa Tengah. Pesantren yang diasuh oleh KH. Dalhar Abdul Haq itu memang menjadi rujukan para santri kedalaman ilmu pengasuhnya. Selain di Watucongol, Kyai Mahrus juga pernah tabarukan mengaji di pesantren Sarang Rembang asuhan KH. Zubair Dahlan. Di pesantren ini Kyai Mahrus sempat bertemu putranya, Gus Imam Yahya, karena ia juga belajar disana.

Hampir sama dengan Kyai Mahrus, apa yang dilakukan KH. Khozin Siwalan Panji Sidoarjo. Kyai yang menjadi guru dari KH. M. Hasyim Asy’ari dan kyai-kyai besar lainnya ini tidak canggung nyantri lagi walaupun di usia sepuh dan mengasuh pesantren besar. Bahkan, Kyai Khozin belajar kepada orang yang dulu pernah ngaji kepadanya, yaitu Kyai Hasyim Asy’ari. Mendengar kemasyhuran Kyai Hasyim, tampaknya kyai Khozin penasaran ingin memperoleh pengetahuan baru darinya. Tentu saja Kyai Hasyim merasa sungkan, kyai sepuh dan guru yang sangat dihormatinya mengikuti pengajiannya, sehingga meminta Kyai Khozin untuk tidak mengikuti pengajiannya, karena beliau lebih alim. Namun dengan enteng kyai Khozin menjawab, “Memang dulu saya guru sampeyan, tapi sekarang sampeyan guru saya”. 

Keilmuan pesantren memang berbeda dengan yang lain. Keilmuan pesantren butuh pendalaman dan kematangan baik secara lahir maupun batin, tidak sebatas penguasaan luar saja. Berbeda disiplin keilmuan non pesantren yang bersifat teknis, lahiriyah (ilmu katon) yang karenanya mengenal asas efektif efisien, dan instan yang penting lebih cepat terasa manfaatnya, sehingga tidak memerlukan waktu terlalu lama. Keilmuan pesantren hakikatnya adalah kancah pendidikan pasca sarjana yang mengkaji ilmu secara mendalam sampai ke akar-akarnya layaknya pendidikan S2 dan S3 bahkan post doctoral.

Seorang santri bisa menjadi ulama atau kyai besar setelah mereka memahami dan menghayati keilmuannya baik secara ilmiah dan amaliyah, lahir dan batin secara mendalam dan menerapkannya dalam perilaku kehidupannya. Ada keseimbangan antara olah raga, olah fikir, dan olah rasa, sehingga menjadi sosok yang sabar, arif dan bijaksana.

Dengan semangat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei, Jadikan Pendidikan Pesantren sebagai kawah candradimuka yang mencetak manusia Indonesia seutuhnya, Alim, Abid, Zahid, Mujahid….semoga.

Pacet, ba’da Subuh, 2 Mei 2017

*@SAHABAT BUKU BAGUS#*