Balap Karung


Senin, 17 Juli 2017, hari pertama masuk sekolah dan libur panjang sudah usai. Kini lembaga pendidikan kembali disibukkan dengan aktifitas belajar mengajar seperti biasanya. Anak-anak polos dengan baju baru dan tas yang berada di pundaknya, tampak ceria berlarian menuju kelas, setelah turun dari kendaraan dan bersalaman dengan ayah atau ibu yang menghantarnya. Tampak di sudut halaman sekolah beberapa anak berkerumun mendengarkan cerita dari sahabat dengan silih berganti tentang kegiatan mereka selama libur panjang. Ada juga yang bermain menggunakan mainan yang tertata rapi di halaman sekolah. Demikian sedikit gambaran suasana di Taman Kanak-Kanak saat pagi diawal masuk sekolah.

Memahami dunia anak merupakan satu tugas yang tak mudah bagi orang dewasa dalam berbagai kondisi. Terkadang ada orang tua yang saking sayang pada anaknya, membiarkan apa pun yang dilakukan anaknya tanpa memberikan arahan dan bimbingan kepada anak. Ada juga yang over protective. Ini salah, itu salah, bahkan kemana pun sang anak berada selalu dikawal tanpa memberikan ruang ekpresi dan ekplorasi minat dan bakat anak.

Dunia anak adalah dunia bermain, oleh karenanya sebagai orang dewasa, sangat tidak elok jika kita memforsir waktu anak ibarat robot yang hanya dikenalkan dengan jadwal pasti dari kesibukan les dan privat pelajaran tanpa memberikan waktu bermain untuk mengasah kemampuan motorik anak, sampai pada mengasah kecerdasan sosial. Dalam sebuah hadist Rosulullah menjelaskan

روحوا على النفس فإن النفس تمل

“Berikan hiburan pada diri, karena diri terkadang mengalami kejenuhan”(al Hadits).

Sejatinya setiap anak mengalami perkembangan tumbuh kembang mengikuti fase-fase tertentu, anak kecil membutuhkan permainan guna melatih kemampuan berfikir dan menghayati kehidupan. Bahkan terkadang orang dewasa juga perlu menghibur diri agar sirkulasi peredaran darah dan tensinya bisa seimbang agar terhindar dari penyakit-penyakit berat yang mematikan seperti darah tinggi, stroke, jantung dan lain lain.

Menghibur diri dalam Islam tidak dilarang apalagi dalam rangka menghibur keluarga dan idkholussurur (menyenangkan) kepada mereka, dan itupun merupakan kesunnahan yang dicontohkan nabi kepada anak, istri dan cucunya. Maka ada kalimat” jangan lupa piknik biar gak panik”. Sejatinya kalimat ini dalam rangka stabilisasi antara kebutuhan jasmani dan rohani dalam menjalani praktik kehidupan.

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Tobroni dari sahabat Jabir ia berkata; “saat aku menemui nabi s.a.w dan aku temui beliau sedang berjalan empat kaki (main kuda kudaan), dan diatas punggungnya ada Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain dan rosulullah pun bersabda; “sebaik baiknya Unta adalah Unta kalian berdua (Rosulullah), dan sebaik baik orang adil adalah kalian berdua.” (al Hadits).

Sungguh indah agama Islam, perkara yang kecilpun bernilai ibadah. kita lihat Ulama’ disekitar kita bagaimana mereka juga sering kita lihat berlibur bersama keluarga dan anak mereka untuk melepas penat dan lelah barang sejenak. Bahkan kepada anak anak kecil yang bukan keluarga mereka. Kasih sayang ini bisa dilihat misalnya dari pemberian uang kecil, permen, mengusap kepala dan mendoakan “barokallah, mabruk” dan ungkapan lain yang menunjukkan kegemaran mereka untuk berbagi.

Imam Tobroni meriwayatkan dari sahabat Jabir ia berkata; kami menemui Rosulullah s.a.w dan di undang untuk makan, seketika itu Nabi melihat Husain r.a bermain di jalan bersama anak-anak kecil lain, rosulullah un bersegera mendekatinya dan menjulurkan tangannya, dan bergerak berlari kesana kemari, dan rosulullah membuat Husain tertawa hingga bisa ditangkap rosulullah. Dan nabi meletakkan salah satu tangannya di dagunya dan tangan lainnya dikepala dan telinganya, kemudian Husain dipeluk dan dicium dan nabi berkata; “Husain adalah bagian dariku dan aku bagian darinya!! Allah mencintai siapa orang yang mencintainya, Hasan dan husain dua putra dari segenap putra.” (al Hadits).

Demikian sedikit contoh kelembutan dan cara bermain rosululullah bersama anak anak kecil, jangan sampai kita terlalu memforsir anak-anak kita hingga menghilangkan waktu bermainnya. Nanti secara psikologis bukan justru mencerdaskan anak malah membuat anak bosan dan enggan untuk belajar. Orang tua dan guru tugasnya adalah mengarahkan anak dan mendampingi agar si anak menemukan interpersonal skill dalam dirinya.

Syidi syeikh Muhammad bin Ali Ba’atiyah mengatakan; “sebenarnya setiap anak yang terlahir kedunia ini terlahir dalam keadaan pintar/tahu. Hanya saja para pendidik membutuhkan kata kunci untuk membuka cakrawala pengetahuan si anak.”

Ulama sekaliber Imam Ghozali pun dalam kitab Ihya Ulumuddin juga memberikan gambaran tentang pentingnya bermain bagi anak kecil ia berkata;

Seyogyanya si guru mempersilahkan murid untuk bermain setelah usai dari pelajarannya, bermain dengan permainan indah yang mengistirahatkan dari lelahnya bangku pelajaran sekiranya tidak lelah dalam bermain. Apabila si guru melarang si anak bermain dan memforsir untuk selalu belajar maka akan mematikan hatinya, membatalkan kecerdasannya, mengajarkan untuk berlaku curang, sehingga mencari cara untuk keluar dari semua itu.”

Kemudian tugas selanjutnya bagi orang tua untuk memilhkan jenis permainan yang baik yang mendidik bagi anak, hindarkan anak dari permainan permainan yang menghabiskan waktu panjang hingga ia lupa sholat dan lupa makan, seyogyanya pilihkan permainan yang tradisional yang membantu membentuk interpersonal skill si anak, dan sebisa mungkin jauhkan anak dari ketagihan dengan gadget, android yang menjadikan anak menjadi malas bergerak dan berkomunikasi.

Jangan takut anak anda akan gaptek jika tidak dibekali gadget atau android. Karena segala sesuatu ada masanya. Selalu awasi anak-anak dalam kegiatan dan saat bermain. Tapi bukan pengawasan berlebihan. Sediakan waktu berkualitas untuk bermain dengan anak. Tanpa adanya waktu berkualitas tersebut, mustahil hubungan emosional dan kekeluargaan terbangun secara dinamis, harmonis dan menyenangkan.