Semua yang berbau rupiah akan menarik bak magnet kepada seluruh pemuja dan penggemar rupiah. Termasuk beras yang merupakan bahan makanan pokok bagi masyarakat Indonesia. Orang Indonesia akan mengatakan belum makan saat belum menyantap nasi yang berbahan baku beras. Sehingga produksi beras menjadi hal penting dalam roda ekonomi kebangsaan.

Berita dari CNN Indonesia pertanggal 22 Juli 2017 memuat hasil penggerebekan yang dilakukan  Bareskrim dengan tangkapan sangat mengejutkan yakni adanya praktik menyulap beras biasa menjadi beras super dalam skala besar dan dilakukan oleh mantan pejabat negara yang dahulu juga berkecimpung dibidang yang ada sangkut pautnya dengan beras dan merugikan negara trilyunan rupiah.

Anton Apriantono Komisaris  Independen yang mengelola perusahaan yang digrebek oleh polisi yang merupakan kader dari partai PKS dan juga dosen IPB pun pernah berproses di HMI dan merupakan menteri pertanian era SBY sebelum Suswono ber alibi dan membela diri atas hasil dan statemen Bareskrim maupun statemen menteri pertanian yang juga hadir mengikuti penggrebekan. Menurut Anton, pihaknya difitnah dan di dholimi oleh pemerintah dan tidak ada kerugian pemerintah. Anton menyebut bahwa dirinya bukan mengoplos, tapi membuat virietas baru dengan kemasan dan spesifikasi yang terstandarkan SNI.

Sedangkan menurut pihak pemerintah, apa yang dilakukan perusahaan yang di dalamnaya ada Anton Aprianto sudah melanggar peraturan. Beras yang sudah ditetapkan pemerintah dengan harga Rp.9.000 per kilogram dijual dengan harga Rp.20.400,- (beras cap ayam jago) dan Rp.13.700,-per kilogram (beras cap maknyuus). Selisih Rp.11.400 per kilogram dikalikan jumlah penjualan berapa ton?. Wajar kalau kerugian negara sampai trilyunan rupiah. Apakah akan ada pembelaan diri “rekayasa zionis” dan “saya didzalimi” lagi? Mari kita liat saja nanti.

Penghitungan selisih RP. 11.400 per kilo gram bukan dalam rangka menghitung berapa hasil kerja orang lain, tapi dalam rangka menjelaskan angka yang fantastis jika digunakan untuk mensubsidi masyarakat yang memang memiliki masalah dengan bahan pokok beras ini. Kaitanya angka yang jika terakumulasi berjumlah fantastis, maka ada benarnya jika negara Indonesia secara kekayaan negara peringkatnya jauh dibelakang, tapi pas giliran kekayaan personal? Justru orang Indonesia memiliki kekayaan yang cukup prestisius di jajaran dunia.

Dari kejadian di atas ada dua sudut pandang yang berbeda sehingga menghasilkan kesimpulan berbeda pula. Pemerintah menyatakan ada kerugian negara, sementara pihak terperiksa menyatakan kreatifitas dan varietas baru dan menyebut pemerintah memaparkan kabar tidak benar. Dari keduanya inilah perlu dibuktikan di depan khalayak masyarakat agar tidak terjadi sakwa sangka antara pihak satu dan lainnya.

Sehingga dengan proses terbuka, masyarakat bisa menilai serta mengambil pelajaran hidup dari kejadian ini. Tidak lantad terkotak menjadi dua bagian, pro pemerintah dan kontra pemerintah. Karena segala urusan di negara akan ditarik pada dua sumbu besar yakni pro pemerintah atau oposan pemerintah. Menghindari hal tersebut, maka perlu proses terbuka supaya semuanya dapat melihat dan mendengar secara utuh informasi yang ada, tanpa manipulasi dan plintiran yang mengakibatkan troublenya komunikasi berbangsa dan bernegara. 

Jangan sampai ada yang bilang, karena negara ini disebut Thaghut, lantas benar adanya menjarah kekayaan negara karena disebut Ghonimah. Sehingga melakukan Korupsi disebut berjuang menyelamatkan harata Muslim di negara kafir. Kalau memang logika ini yang digunakan dalam berbuat dan melakukan korupsi, maka gerakan Hizbut Traktir Indonesia yang akan marak. Karena dengan alibi tersebut mereka membagi barang hasil korupsi sebagai infaq, shodaqoh dan zakat.

Naudzubillah min dzaalik.