“Kalau sampean masuk dikampus itu dan jauh dari abahmu, lantas dimana hidungmu nduk? Aku ndak pingin kehilangan hidung anakku, apalagi kehilangan anak dengan aqidah dan idiologi yang berbeda”. Kalimat pertanyaan ini saya dengar dari cerita seorang sahabat yang saat itu meminta izin kepada abahnya untuk menempuh S2 di Timur Tengah dengan fasilitas beasiswa. Tapi anehnya, sang ayah justru menjawab dengan kalimat “kalau sampean pergi kuliah ke Makkah, lantas haruskah aku kehilangan hidung anakku dan bertanya, dimana hidungmu nduk?”. Dengan bahasa lain, sang ayah tidak merelakan keberangkatan putrinya dengan alasan gaya pakaian kendatipun masalah furu’iyah, bisa mrnjadi masalah serius yang berdampak pada idiologi dan aqidah.

Memang setiap orang punya hak untuk mengekspresikan kebebasan, tetapi alasan ayah sahabat saya juga memiliki dasar argumentatif kaitan menilai cara berpakaian khususnya bercadar. Tidak berarti bercadar adalah jelek, atau bercadar adalah paling Islam, tapi semuanya kembali kepada bagaimana memandang dan menilainya. Apakah cadar dinilai sebagai budaya atau sekedar style atau cadar dinilai sebagai kesempurnaan menjaga ajaran Islam. Semua punya dasar dan alasan dan sudut pandang menilai perempuan bercadar, yang terpenting adalah bagaimana perbedaan pandangan ini tidak bertabrakan dalam kontrks kepentingan. Jadi ayah sahabat saya tidak sedang melanggar hak asasi anaknya, tetapi lebih kepada penegakkan aturan keluarga dalam hal memahami konsep bercadar.

Aturan umum sejatinya adalah batasan yang dilahirkan demi kemanfaatan yang lebih luas. Dalam pemaparan kuliah oleh Prof. Muzakki, beliau menyebut bahwa saat aturan bertemu dengan pengambilan keputusan (policy making), maka kemanfaatan bersama (maslahah ‘ammah) adalah solusinya. Oleh karena hal tersebutlah memilih mengorbankan minoritas untuk kemaslahatan mayoritas bisa jadi sebagai salah satu landasan dan alasan lahirnya sebuah kebijakan. Apalagi kebijakan ini menyangkut pranata sosial yang jika dibiarkan bisa membawa dampak yang dianggap kurang menguntungkan sebuah lembaga.

Lantas bagaimanakan posisi hak asasi manusia? Apakah pembuat aturan bisa dengan bebas merampas kebebasan hak asasi yang dimiliki setiap individu? Jawabnya adalah, domain publik diperbolehkan meminjam kebebasan individu untuk mewujudkan tatanan sosial yang lebih baik. Sehingga tidak ada istilah pelanggaran hak asasi yang dilakukan oleh institusi atau lembaga yang memiliki domain publik tersebut.

Menampakkan kekakuan pendapat dengan membenturkan argumen masalah furu’iyah bukanlah sesuatu bahasan menarik, tapi justru membuat kerdil pemikiran dan memperuncing perbedaan. Di dalam aturan pekerja pun, seorang karyawan harus tunduk pada perusahaan tempatnya bekerja walaupun aturan yang dibuat perusahaan merebut sebagian hak asasi mereka, yang termasuk di dalamnya adalah tata aturan berpakaian dan ketentuan pembagian jam kerja bahkan sampai sip kerja karyawan. Tidak ada istilah karyawan terdholimi, karena masuk kedalam perusahaan adalah pilihan yang memiliki konsekwensi taat dan tunduk pada aturan perusahaan.

Kita bisa lihat hal lain yang sama, dan mungkin sering dialami ketika naik bis atau kereta api dengan tujuan luar kota. Sopir dan masinis tampaknya tak mau tahu kalau orang-orang muslim yang menjadi penumpang mereka harus shalat tepat waktu. Tak ada satupun transporyasi umum itu yang memberhentikan kendaraannya di masjid ketika panggilan shalat dikumandangkan. Apakah saya harus mengajukan somasi pada perusahaan jasa angkutan? Atau saya harus menyumpahi mereka dengan sumpah serapah bahwa mereka tidak mendengarkan ajakan Allah?Hanya orang gila yang melakukan itu. Kalau saya sama sekali tak mau kompromi dengan mereka, maka saya punya pilihan untuk cari kendaraan lain yang bisa berhenti kapanpun saya merasa wajib berhenti. Karena semua merupakan pilihan, dan setiap pilihan punya konsekwensi sendiri.

Ketika kita dihadapkan pada pilihan, maka kemampuan memilih terbaik sedang dibutuhkan. Bukan lagi pada memberikan argumen, atau memberikan alibi, tapi pada kemampuan memilih. Dan pada setiap pilihan, silahkan memilih sesuai kehendak hati anda. Hanya saja dalam menentukan pilihan dibutuhkan kematangan menimbang dan memperhitungkang dampak yang muncul dikemudian hari, karena sesal dikemudian sudah tak bisa dikembalikan kewaktu semula.