Fenomena medsos yang mengiringi pilkada Jakarta beberapa waktu lalu menyisakan julukan bagi pendukung masing-masing. Cebong adalah sebutan bagi pendukung pemerintah atau incumbent, dan kampret adalah sebutan balasan bagi pendukung lawan.

Julukan tersebut juga dilanggengkan pada perhelatan pilpres 2019, bedanya, julukan Cebong disematkan pada pendukung pemerintahan Jokowi dan sebaliknya pendukung Prabowo disebut kampret.

Jika ditanyakan mengapa pendudkung pasangan calon presiden 2019 saat bertarung di media sosial disematkan julukan sedemikian rupa? Jawabnya juga tidak jelas. Paling alasan cebong dipakai nama karena mengekor dan gak mikir, sebegitu juga, julukan kampret, alasanya, mereka otaknya kebalik, kampret (codhot: Jawa) tidurnya saja posisi kepala dibawah.

Tapi benarkah jika membela pemerintah disebut gak mikir dan mengekor? Saya kira belum tentu. Menghormati pemerintah yang sah adalah kewajiban bangsa Indonesia sebagai wujud menjaga keutuhan persatuan dan kebhinekaan. Lantas, jika kita menghujat pimpinan kita, apakah negara akan maju? Jawabnya “tidak”. Warga negara wajib menghormati pimpinan tertinggi negara karena beliau simbol negara. Hanya orang-orang somplak yang gak mau menghormati simbol negaranya sendiri.

Andaikan saja tidak setuju dengan pemerintah, silahkan menggunakan hak anda sebagai warga negara, sampaikan kepada wakil anda, bahwa anda mempunyai masalah yang harus disampaikan kepada negara. Selanjutnya, kawal aspirasi tersebut sampai tuntas. Jangan sekedar dipasrahkan. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, asal mau berkomunikasi dan mau menjalani setiap alur komunikasi, maka hasil terbaik akan didapatkan.

Saya menilai sebutan tersebut hanya dalam rangka penghinaan dalam sebuah pertarungan. Krena sebutan Cebong dan Kampret cenderung memberi konotasi negatif dan melecehkan. Jika sudah saling menempelkan atribut Cebong dan Kampret, maka sindiran, cemoohan, bulliyan dan adu mulut akan segera digelar tanpa batas waktu. Dan inilah yang tidak mencerminkan budaya ketimuran.

Belajar pada negara-negara tetangga yang hancur dan porak poranda karena perang berkepanjangan. Awal mereka perang adalah perang di media sosial, mereka menghujat dan mencemooh sesama bangsanya dengan julukan meremehkan dan menghina. selanjutnya, mereka sesama warga dan kepada pemerintah saling tidak percaya dan curiga, presiden yang sah dihujat, dan dipermasalahkan. Ketika dilerai dan ditengahi, maka penengah dianggap membela pemerintah dan hilanglah akal dan nalar sehat.

Konsep penghancuran negara di dunia ini, sengaja dilakukan eh kelompok-kelompok yang berkepentingan terhadap sebuah negara yang menjadi target, ada dua isu yang dimainkan mereka para penghancur negara, pertama isu agama dan kedua isu tidak percaya dengan pemerintah yang sah.

Silahkan lihat bagaimana Iraq, Libya, Tunisia, Yaman, Afganistan, Suriah dll, dihujani isu tidak percaya dengan pemerintah yang sah, diawali tarung di media sosial, dilanjutkan tarung fisik dan terjadilah peperangan saudara dengan para pihak luar memasok senjata dan membandrol dengan harga tinggi.

Isu agama juga dimainkan sebagai bumbu mempercepat emosi dan amarah dan akhirnya pertumpahan darah. Ada ungkapan jawa “aku senajan gak sholat, kalau Islam dihina, tak belani sampai mati”. Oleh karenanya, perlu waspada dan cerdas memposisikan diri dalam bergaul. Jangan sampai ikut-ikutan dan justru memperkeruh situasi dan kondisi.

Fakta lainnya, mereka saling serang, walaupun mereka belum pernah bertemu di dunia nyata atau bahkan ketika ketemu di dunia nyata, mereka tidak saling sapa karena memang tidak tahu kalau yang barusan berpapasan adalah orang yang diajak komunikasi di grup dan medsos.

Tentunya kita tidak menginginkan negara kita yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo, yang juga dikenal sebagai negara cantik bagai potongan surga dibumi, lantas hancur seperti negara di Timur Tengah. Ingat, musuh kita bukan bangsa lain, tapi pemikiran bangsa lain yang sengaja dipropagandakan oleh mereka sehingga menjadi virus yang menjangkiti generasi bangsa Indonesia.

Mari kita gunakan media sosial kita untuk mencerdaskan bangsa dengan membaca sebelum posting dan memikirkan dampak postingan kita. Jangan hanya ingin dianggap rajin posting hanya share tanpa membaca isinya dan tanpa mikir dampak setelahnya.