Pasca terbakarnya bendera HTI oleh oknum Banser di Garut berbagai opini dimunculkan. Sengaja saya memakai kata “terbakar” karena melihat hasil dan putusan pihak kepolisian selaku pihak negara, bahwa 3 oknum Banser dinyatakan tidak ada niatan membakar dan menghina kalimat tauhid, tapi memulyakan kalimat tauhid yang dimanipulasi HTI. Selain itu, pembawa bendera HTI yang sudah diinterogasi Banser dan karena tidak ditemukan identitas apa pun, maka pengibar dibebaskan. Hasil interogasi, pembawa dan pengibarnya mengakui bahwa yang ia bawa adalah bendera HTI dan memang disuruh untuk dikibarkan saat acara supaya acara ternoda dengan berkibarnya bendera HTI.

Mengapa hal ini begitu seksi dipertentangkan? Masalah utamanya karena pelakunya adalah “Banser” yang selama ini mengawasi gerak-gerik dan kelakuan kelompok HTI sebelum dan sesudah HTI dibubarkan. Jadi, jelas sudah masalah awalnya, sehingga didatangkan dalil, fakta, dan argumen apa pun, tak akan mempan melawan nalar koplak HTI yang ditularkan kepada teman-temannya. Kalimat kiasan yang tepat untuk kejadian ini adalah “kalau cinta sudah melekat, gula Jawa dibilang coklat, tapi kalau benci sudah dihati, emas asli dibilang imitasi”.

Selain itu, yang menjadikan seksi dari terbakarnya bendera HTI adalah, jika dibilang bendera HTI, maka HTI akan mengelak dan tidak mengakui. dan akan teriak, itu pembakaran bendera tauhid, padahal dibuku HTI yang diterbitan HTI Press tahun 2008 halaman 285, jelas disebut bahwa model kain sablonan warna hitam dengan khot Arab tulisan warna putih berbunyi “Laa ilaaha illallah Muhammadurrosulullah” adalah bendera HTI.

Dari jejak digital pada acara HTI tahun 2013, para jubir HTI juga menyebut itu adalah bendera HTI dan dikantor-kantor mereka juga disebut itulah bendera HTI. Lha kok sekarang menyebut bendera tauhid dan membakar bendera tauhid adalah menista kalimat suci dan harus dihukum mati. Aneh kan?

Ternyata pasca aksi turun jalan dengan mengacungkan-acungkan bendera HTI yang tidak diakui oleh HTI, aksi mereka malah memalukan dan menghina kalimah tauhid. Sebenarnya, para ulama’ ahlussunnah dan ulama’ wahabi pun sepakat bahwa hukum menyablon atau memperbanyak kalimat tauhid di bendera, topi atau kaos tidak diperbolehkan karena madhorotnya. Dari fatwa tidak boleh menyablon ini, HTI mengikuti ulama’ mana?

Hal lain yang menjadikan isu bendera HTI terbakar ini seksi, karena tahun ini mendekati tahun politik, dan memang secara tidak langsung akan menunjukkan kemana keberpihakkan kelompok HTI pada pilpres 2019. Akhirnya bisa ditebak, aksi yang awalnya disebut bela tauhid, justru dalam aksinya menghina tauhid, dan malah kampanye untuk Prabowo Sandi. Jelas sudah siapa dibalik mereka?, apa targetnya? dan mengapa begitu caranya?.

Pertanyaan saya, justru berawal dari mengapa yang dijadikan operasi untuk isu ini adalah Hari Santri Nasional? Kita buka lembaran sejarah, jika dahulu 10 Nopember 1945 Inggris sebagai negara adikuasa, pemenang perang dunia pertama dan kedua, bahkan pasukan Napoleon Bonaparte yang berjuluk “Singa Daratan Eropa” pasukan terkuat di dunia saat itu, hancur dan bertekuk lutut dibawah pasukan tentara Inggris.

Tapi hanya di Surabaya, dan hanya saat perang dengan santri yang bersenjatakan bambu runcing, Inggris kocar-kacir dan kehilangan beberapa Jendral termasuk Jendral Malaby sang pimpinan tertinggi yang dibunuh para pasukan Santri. Padahal aturan perang didunia ini, Jendral tidak boleh di bunuh, andaikan tertangkap, harus diperlakukan dengan hormat. Karena yang perang para laskar Santri, dan tidak mengerti tata tertib perang, dibunuhlah Jendral Malaby. Hal ini menjadi pukulan telak bagi Inggris, mereka kalah perang dalam sejarah dunia. Lebih parah lagi, yang mengalahkan adalah pasukan santri yang bersenjatakan bambu runcing dalam pertempuran di Surabaya yang diawali dari resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Hadrotussyekh K.H Mohmmad Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945 atas permintaan Bung Karno setelah mendapat saran dari Panglima Besar Jendral Sudirman.

Asal mula ketika Soekarno mendengar bahwa sekutu datang dipimpin Inggris, maka kebingungan Soekarno untuk menentukan sikap dan meminta pendapat Panglima Besar Jendral Sudirman. Mengapa Soekarno bingung? Soekarno adalam orang pintar terpelajar, beliau tahu, bahwa Indonesia merdeka tahun 17 Agustus 1945, sementara masalah di internal bangsa masih banyak rong-rongan dari PKI, DI/TII, yang tidak setuju terhadap bentuk negara. Disisi lain tentara belum terkonsolidasi secara lembaga dan pasukannya, andai digerakkan pun tidak sebanding dengan kemampuan dan persenjataan perang pasukan Inggris.

Dan jikalau saat itu tentara dipaksakan turun menggunakan nama tentara Nasional Indonesia, maka sanksi Internasional akan diterima Indonesia, karena saat itu kemerdekaan Indonesia belum diakui oleh lembaga internasional dan Indonesia masih baru diakui kemerdekaannya oleh lembaga Internasional pada 1948. Maka Jendral Sudirman mensarankan pak Soekarno untuk meminta fatwa, bagaimana hukumnya membela tanah air di negara yang bukan negara Islam seperti Indonesia.

Akhirnya keluarlah fatwa mbah Hasyim Asy’ari yang kemudian dikenal dengan resolusi jiha 22 Oktober 1945 yang intinya adalah “Barang siapa yang berada pada radius 94 km dari Surabaya, tua, muda, laki, perempuan, wajib hukumnya mengangkat senjata melawan penjajah, dan barang siapa mati pada pertempuran ini, maka termasuk mati syahid karena membela tanah air, sama halnya menjaga keberlangsungan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah”. Peristiwa ini yang kemudian menjadi penentu meletusnya perlawanan Santri bersama Arek-Arek Suroboyo yang dikenal denga pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya kemudian dikenal dengan hari Pahlawan.

Lantas dimana nyambung berkaitnya Bendera HTI terbakar, Hari Santri, dan Inggris?. Begini saudaraku semua, siapa yang tidak tahu bahwa kantor pusat Khilafah yang diusung HTI adalah London, Inggris? Siapa yang tidak tahu donasi mereka adalah Swiss Foundation. Maka pantaslah bahwa fatwa larangan memperbanyak atau menyablon lafadz tauhid dari ulama’ Ahlussunnah wal Jama’ah dan ulama’ Wahabiyyah juga tidak diikuti, tapi justru mengikuti Khilafah Londoniyah karena donasi penyablonan juga jelas. Dari sinilah pemilihan momentum hari santri untuk membuat rusuh bukanlah tidak direncana, tapi justru disusun secara matang dan masif sebagai balas dendam terhadap memori kelam kekalahan pasukan The Three Lion Inggris pada para Santri 73 tahun silam, melalui anak asuh mereka yang bernama HTI dan bumbu Politik akan menambah sedap semuanya.

#KitaSatuIndonesia
#JanganMaudiAdu
#KitaBukanDomba
#BhinekaTunggalIka