Arab Spring atau pembaharuan Arab adalah istilah yang digunakan untuk memberi julukan pada kejadian di Timur Tengah yang sejatinya adalah gerakan pemberontakan oleh kelompok sparatis terhadap pemerintahan yang sah. Lantas mengapa mereka menamai dengan nama Arab Spring? yang terkesan ideal dan visioner. Masalahnya adalah hegemoni media yang sengaja diciptakan untuk melegalkan sesuatu yang sebenarnya salah. Silahkan lacak pada kejadian penghancuran Iraq, dalih senjata pemusnah masal yang digunakan sampai saat ini ternyata hanya hoax. Tapi kenapa tidak ada pembela Iraq atau menuntut pelaku penghancuran Iraq? jawabnya adalah klasik, yang menuntut dan yang dituntut satu almamater.

Bagaimana dunia saat itu terkonsentrasi pada sosok Saddam Husein yang dengan beraninya menentang seluruh kebijakan musuh-musuhnya yang notabene adalah para penguasa dikawasan dunia melalui PBB? Tapi lihatlah begitu Iraq dikuasai, yang muncul pertama kali adalah landasan tempur milik negara Paman Sam dkk. Sehingga cengkraman kekuasaan dan dominasi mereka sebegitu kuat diwilayah sekitar.

Begitu Iraq terkuasai, lihatlah berapa wilayah yang mereka kuasai berikutnya? Tunisia, Libya, Yaman, Suriah, Palestina dan negara lain di Timur Tengah semuanya bagaikan wilayah yang sudah dipegang remote kontrolnya dan tinggal tekan tombol yang dikehendaki oleh sang pemegang. Artinya penguasaan Iraq adalah jangkar kekuasaan untuk menyisihkan sebuah kekuatan besar dan mendirikan kekuatan besar yang lain. Selain itu, penguasaan ini juga menjadi awal mula jalur percepatan distribusi senjata masuk ke Timur Tengah dan jalur keluarnya minyak dari Timur Tengah. Sampai disini masihkah kita berfikir bahwa konflik Timur Tengah adalah murni isu Sunny dan Syi’ah?

Skema Arab Spring jika kita cermati akan mengarah pada dua model gerakan yakni: pertama, gerakan membuat masyarakat jauh dari tokoh agama dan agamanya, sehingga mereka tidak lagi taat kepada ketokohan dan ajaran agama yang mereka anut. Lihat saja, sistem negara di Iraq, Suriah yang menjalankan sistem Sekuler, dimana pemerintah tidak ada campur tangan dalam urusan individu masyarakat dalam ruang privasi termasuk beragama. Sehingga masing-masing berbicara atas kesetaraan dan kesamaan hak dan hilanglah pengaruh tokoh dan agama. Memang mereka tempatnya para ulama’ kaliber dunia, tapi jama’ah mereka rapuh, kepemimpinan mereka porak poranda dan ketaatan mereka terkoyak sehingga mereka kocar-kacir dalam suasana ketidak tentuan arah.

Kedua, model yang dilakukan dalam skema Arab Spring adalah memusuhi negara. Rakyat dibuat tidak yakin terhadap negara, apapun yang dilakukan pemerintah dianggap salah dan norak. Andaikan baik sekalipun, akan segera ditutupi karena dianggap sebagai kewajaran dan kewajiban.

Benih kebencian kepada pemerintah ini disemai dengan begitu rapi. Penempatan pemain-pemain dan penyiapan tema sudah ditata untuk kebutuhan harian dan mingguan. Bayangkan saja jika masyarakat sebuah negara dalam sekala besar sudah tidak terima dan tidak percaya pada pemerintah, maka pemberontakan bisa dipastikan akan segera meledak.

Setiap negara tidak pernah lepas dari kehidupan politik. Ibarat ada gula ada semut maka di mana ada masyarakat, di situ selalu muncul kekuasaan. Kehidupan politik suatu negara berjalan dinamis dan senantiasa bergejolak dari waktu ke waktu. Hal inilah yang membuat beberapa negara di Timur Tengah sekarang sedang mengalami pergolakan politik. Jika kita yang di Indonesia berfikir bahwa konflik di Timur Tengah tidak ada dampaknya bagi Indonesia. Memang betul dalam jangka pendeknya, karena Indonesia tidak bergantung secara murni kepada negara di wilayah Timur Tengah. Tapi jangka panjangnya dampak konflik di Timur Tengah juga akan dirasakan Indonesia. Kita harus faham jika suasana berkecamuk di Timur Tengah terus berlanjut tanpa henti, maka keamanan para warga yang berada disana akan terganggu, para pekerja, termasuk dari Indonesia juga terpengaruhi. Belum lagi kalau pasokan minyak dunia terganggu, belum lagi kalau masalah harga komoditas barang di pasar dunia mengalami fluktuasi, belum lagi masalah pengungsi dan keamanan jalur laut, semua negara termasuk Indonesia pasti terpengaruhi.

Kita juga harus faham bahwa gejolak di Timur Tengah dan Afrika Utara mampu mendorong harga komoditas di pasar global, terutama pangan dan energi. Artinya, krisis Timur Tengah meningkatkan risiko dan premi risiko untuk lalu lintas perdagangan barang global, termasuk negara Indonesia. Tidak hanya itu, krisis politik di Timur Tengah juga bisa menyebabkan meningkatnya biaya freight dan asuransi kapal. Kenyataan ini jelas mempengaruhi pasar keuangan dunia, termasuk di Asia, sehingga ketidakpastian pasar di negara-negara Asia termasuk Indonesia akan naik.