Penolakan kedatangan Khalid Basalamah ke Surabaya berujung pada pembubaran kajian yang di isi Khalid. Berawal dari kajian yang dilakukan umat Islam Surabaya terhadap model dakwah Khalid, baik kajian yang bersumber video yang di Youtube atau mendatangi langsung saat Khalid mengisi di beberapa daerah, umat Islam Surabaya yang dimotori oleh Ansor dan BANSER menyimpulkan bahwa kajian Khalid Basalamah selalu menebar kebencian terhadap kelompok lain dengan ejekan Tahayyul, Bid’ah Churafat, mengkafirkan, bahkan anti Pancasila dan NKRI. 

Berawal dari hal inilah sikap penolakan terhadap kedatangan Khalid dilakukan mulai dari prosedur pelayangan surat terhadap panitia dan penyampaian keberatan secara lisan kepada panitia. Menurut pihak yang mengajak diskusi panitia, janji panitia adalah membatalkan kedatangan Khalid Basalamah dalam acara tersebut.

Fakta berbicara lain, Sabtu, 4 Maret 2017 Khalid Basalamah tetap didatangkan pada acara tersebut. Hal inilah penyebab Umat Islam Surabaya yang dimotori Ansor dan BANSER datang ke lokasi bersama aparat Kepolisian untuk membubarkan acara Khalid Basalamah tersebut.

Pasca pembubaran acara, medsos pun hujan berita Hoaxs terkait aksi Ansor dan Banser yang anarkhis bahkan umpatan kepada tokoh NU, bahkan sampai Habib Lutfi bin Yahya disebut”Wali Setan” oleh akun FB Yaya Suriasaputrau.

Pertanyaanya adalah” Jika selama ini NU di Bid’ahkan, diKafirkan selalu diam, itu pun NU disahkan! Lha sekarang giliran NU bergerak ,apakah harus disalahkan juga? Perlu diketahui dan difahami bahwa tak ada ceritanya BANSER bubarkan pengajian, yang ada BANSER jaga Ulama’ dan Kyai. Terkecuali jika pengajian tersebut adalah pengajian yang anti Pancasila,  NKRI dan menebar kebencian atas nama keyakinan.

Wallahu A’lam.