Gelaran Pilkada sudah usai, hasil pilkada juga sudah diketahui dengan berakhirnya rapat pleno hasil disemua tingakatan penyelenggara pemilu, tinggal menunggu penetapan saja, tak perlu rasanya memperdebatkan yang kalah dan yang menang, karena perdebatan itu justru memperuncing konflik horisontal antar warga.

Perbedaan pilihan harus disikapi dengan kedewasaan yang berwujud pengawalan dan pengawasan terhadap pemimpin terpilih dalam menjalankan program selama menjabat, karena ujung dari kepemimpinan adalah kemampuan mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat.

Kedewasaan menghadapi kekalahan dan kemenangan dalam pemilihan, sejatinya adalah indikator mengukur kedewasaan berfikir setiap individu. Maka yang kalah janganlah berulah, dan yang menang janganlah jumawah. Tugas kita kedepan masih bertumpuk dalam hal menjadi pelayan rakyat.

Harapan besar dalam mewujudkan persatuan umat dalam bingkai kebhinekaan adalah kepada para tokoh dan simpul-simpul masyarakat. Karena ditangan merekalah standar panutan khalayak ramai diberikan. Maka para tokoh kunci masyarakat juga harus bijak bertindak dan berucap. Jangan lantas karena kekalahan jagonya, para tokoh malah beropini menggesek dan menggosok isu yang seakan pertarungan takkan pernah usai. Jika hal ini yang dilakukan oleh seorang tokoh, maka bukan anggapan sebagai tokoh kritis yang disematkan, tapi anggapan sebagai tokoh galau yang tidak dewasa dalam bersikaplah yang jadi julukan.

Berbicara kepentingan rakyat, bukan sekedar kelompok rakyat pendukung saja, tapi rakyat secara makro yang berada diwilayah kekuasaannya. Pemimpin yang baik bukanlah yang tidak punya cacat dan kekurangan, karena cacat dan kekurangan adalah sifat yang pasti ada pada setiap manusia, tapi pemimpin baik adalah pemimpin yang mampu menjadi pelayan rakyat dalam segala sambat dan keluh kesah. Maka dibutuhkan kebesaran hati para pemimpin untuk merelakan seluruh waktunya mewujudkan pelayanan terbaik dan tanpa pandang bulu.

Setiap masa pastilah berganti, jika hari ini engkau menang, pasti ada kalanya suatu saat engkau akan kalah. Karena masa pastilah silih berganti. Sedemikian pula kedewasaan seseorang bukanlah karena usia yang banyak lantas disebut dewasa, tapi tempaan pengetahuan dan lingkungan yang jernih, akan mempengaruhi kedewasaan seseorang menjadi matang dalam bertindak dan bersikap.

Jangan mengatas namakan kepentingan rakyat lantas kita menjual kewarasan dalam berfikir dan bertindak. Karena rakyat sudah semakin dewasa dalam berfikir dan bertindak. Maka menjadi dewasa adalah keharusan karena menjadi tua adalah sesuatu yang pasti terjadi. Jadilah orang tua yang benar-benar dewasa dalam berfikir, berucap, bertindak, agar tinta sejarah menorehkan namamu dalam guritan sejarah yang patut ditiru bagi generasi yang akan datang.